Cahaya matahari menembus tirai jendela ruang tamu bergaya Eropa klasik itu, menyorot karpet Persia yang mewah dan meja makan berlapis walnut. Setiap benda tertata rapi, seakan menegaskan bahwa di rumah ini, segala sesuatu memiliki tempatnya masing-masing. Suara langkah kaki di lorong terdengar pelan, tetapi tetap memberikan kesan rapi dan teratur.
Maeva duduk di kursi dekat jendela, memegang secangkir teh hangat. Mata hitam pekatnya menatap halaman taman yang tertata rapi, bunga-bunga mekar di sisi jalan setapak, pohon-pohon yang disesuaikan agar cahaya pagi menembus celah daun dengan indah.
Udara pagi yang sejuk tidak serta merta menenangkan hatinya. Kedua orang tuanya masih sibuk di ruang kerja masing-masing. Ayahnya yang sudah pulang entah kapan, sedang menandatangani tumpukan dokumen hukum dengan teliti, sementara ibunya sibuk menerima panggilan bisnis lewat telepon genggam yang selalu menempel di telinga.
Tidak ada sapaan hangat, tidak ada pertanyaan ringan-hanya ada suara rutinitas yang sempurna, tapi dingin.
Maeva menarik napas panjang, menahan perasaan sesak yang biasa muncul setiap kali ia menyadari jarak emosional antara dirinya dan orang tuanya.
Suara langkah lembut neneknya terdengar dari dapur. "Maeva, apa kau sudah sarapan, nak?"
Maeva menoleh, tersenyum manis. "Sudah, Nek." Suaranya tenang, namun ada getaran lembut yang menandakan emosi yang tertahan.
Nenek Maeva melangkah mendekat, wajahnya yang mulai menua menampilkan garis-garis halus namun hangat. Ia menepuk pundak Maeva dengan lembut. "Kau terlihat lelah pagi ini. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak." peringat nenek sambil mengusap surai Maeva dengan sentuhan selembut bulu. Nenek Ayu kemudian duduk di kursi samping Maeva.
Maeva menunduk sebentar, mencoba menenangkan hatinya yang sedang bergejolak lalu kembali menatap nenek, "Aku tahu, Nek. Tapi kadang rasanya dunia ini terlalu menuntut, aku takut tidak cukup."
Nenek Ayu tersenyum lembut, menatap mata cucunya, dapat ia lihat keresahan yang menumpuk disana, "Tidak ada yang bisa menuntut Mae melebihi dari apa yang Mae mampu. Kau dicintai nak, walau kadang kau merasa sebaliknya."
Maeva memejamkan mata sejenak, merasakan hangat yang jarang ia temui di rumah besar yang megah ini. Suasana nyaman itu seolah memberikan ruang untuk bernapas, walau sesaat.
"Nek, ayah ibu sayang Mae kan?"
Nenek Ayu terlihat diam, sebelum tersenyum lembut, "Tentu, ayah ibu sayang dengan Maeva, tapi cara mereka menyayangi Maeva yang mungkin belum bisa Maeva pahami, mereka memang keras dalam mendidik nak,"
Maeva mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Ia kembali meneguk teh hangatnya yang mulai dingin, merasakan rasa pahit manis yang menenangkan di lidahnya, dan seakan sedikit melepaskan ketegangan yang menumpuk.
Setelah selesai, Maeva mengantar nenek ke lantai atas untuk beristirahat, nenek memang tidak bisa lama-lama dibawah, tubuhnya mudah lelah mengingat usianya yang sudah tidak lagi muda.
Maeva kembali ke bawah setelah memastikan nenek sudah aman, di ruang tamu gadis itu menata rambut sebahunya dengan rapi, memastikan seragamnya sempurna tanpa lipatan yang salah. Ia menata buku dan alat tulisnya di tas, menyiapkan semuanya untuk hari yang panjang di tempat les matematika yang rutin ia lakukan setiap hari minggu.
Tidak ada istirahat bagi maeva, bahkan dihari yang seharusnya anak seusianya bersantai dan bermalas-malasan dikasur.
Di ruang kerja ayahnya, terdengar suara ketukan ringan pintu. Maeva menatap sekilas dan mendapati pria itu tengah berdiri di depan pintu ruang kerja sambil menatap ponsel di genggaman, ayahnya bahkan tidak menoleh sedikitpun. Dalam hati Maeva sangat berharap kasih sayang pria itu untuk menoleh dan tersenyum hangat padanya. Hingga detik berlalu dan ayahnya melenggang pergi ke ruangan lain tanpa menoleh seperti apa yang gadis itu harapankan.
Berharap apa sih aku, haha..
Maka, Maeva memilih kembali duduk, menatap luar jendela sembari menunggu supirnya memanggilnya untuk berangkat, ia membiarkan pikirannya mengembara ke hal-hal kecil yang memberinya ketenangan, aroma bunga di taman, hembusan angin yang menimpa rambut, dan senyum lembut nenek yang selalu hangat.
Sementara itu, di sisi lain kota, rumah Maheswara tampak megah dari luar. Namun di dalam, suasana sangat berbeda, dingin, tegang, dan terasa hampa. Arven duduk di ruang kerja ayahnya, menatap dokumen yang berserakan di meja. Tangannya menggenggam pena, tetapi pikirannya jauh melayang ke jadwal rumah sakit kakeknya yang hari ini harus diperiksa.
"Arven, kamu bisa jelaskan kenapa nilai pelajaranmu menurun bulan ini?" suara Edgar terdengar tegas dari belakang, memecah keheningan.
Arven menoleh, wajahnya tetap tenang, nada suaranya rendah tapi sopan. "Saya hanya sedikit kesulitan dengan beberapa mata pelajaran. Saya akan memperbaikinya."
Edgar menundukkan kepala sedikit ke depan, matanya menyala tajam untuk Arven. "Saya ingin kamu mengerti satu hal. Dunia ini tidak memberi toleransi untuk separuh usaha. Kamu pewaris masa depan kita, dan saya tidak ingin melihat ada celah sedikit pun yang akan membuat keluarga ini kalah atau dipermalukan."
Arven menatap lantai, diam. Tangannya mengepal perlahan, tetapi tidak bergerak untuk membela diri. Ia tahu, setiap kata yang keluar dari bibir ayahnya adalah perintah, bukan nasihat.
"Yah... saya sudah berusaha," suara Arven terdengar pelan, hampir seperti bisikan.
"Berusaha? 98 itu berusaha? Kamu tahu nilaimu seharusnya sempurna. Tidak ada toleransi untuk yang hampir sempurna. Tidak ada alasan bagimu untuk merasa lelah!" Edgar menepuk bahu Arven lagi, kali ini lebih keras.
Arven menelan ludah, menahan rasa sakit yang menembus dada. Ia menunduk lebih dalam, tidak berani menatap ayahnya. Diamnya adalah pasrah, penerimaan atas dunia yang menuntut kesempurnaan tanpa memberi ruang untuk lemah.
Kata-kata dan kekerasan itu menempel di hatinya, seperti bekas luka yang tak terlihat.
Edgar menarik napas panjang, menatap jari-jari Arven yang masih mengepal. "Ingat, Maheswara tidak boleh lemah! Paham!"
Arven mengangguk perlahan, suara hatinya tertahan. Ia tahu, ia harus memenuhi semua ekspektasi ini. Tapi seketika, matanya tertuju pada layar ponsel yang menunjukkan pesan rumah sakit kakeknya.
ICU UPDATE
Hatinya menegang.
Edgar ikut melirik pesan yang terpampang dari layar ponsel Arven. Kemudian pria itu berdiri, pergi, tanpa pamit atau apapun. Dan Arven sudah hampir terbiasa akan sikap ayahnya itu.
Arven menatap punggung Edgar yang perlahan menghilang.
Setelahnya Arven menghela nafas dan memutuskan beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruang kerja Edgar. Dari ruangan yang selalu menjadi saksi menyesakkan dari tekanan kesempurnaan dan kekerasan yang sering kali terjadi disana.
Ia berjalan menuju kamarnya. Tapi sebelum benar-benar masuk ia memperhatikan sekeliling ruangan luas itu, ruangan yang di dominasi oleh warna hitam dan abu-abu. Matanya tertuju sekilas pada bingkai kecil yang ia simpan diam-diam di atas nakas, yang hanya ia keluarkan ketika ia yakin bahwa tidak akan ada yang masuk ke kamarnya kecuali para asisten rumah saja.
Arven melangkah masuk ke walk in closet, membuka lemari dan mengganti pakaian yang ia kenakan menjadi hampir seluruhnya hitam.
Kemudian mengambil kunci mobil. Ia membuka ponselnya sebentar, mengecek jadwal pemeriksaan rumah sakit kakeknya. Sebelum benar-benar beranjak keluar dari kamarnya.
16:21
Jakarta Soemarmo Hospital
Sore itu, cahaya lembut menembus jendela rumah sakit, membias di lantai keramik yang dingin. Aroma antiseptik dan udara yang sejuk menciptakan suasana hening, hanya terputus oleh detak monitor jantung yang stabil namun lambat.
Di ruangan pribadi itu, Mahendra Maheswara duduk bersandar di ranjang ruang inap dengan napas yang berat. Wajahnya menampakkan garis-garis usia, namun masih tersimpan wibawa seorang pria yang pernah berpengaruh di dunia akademik internasional.
Dahulu, Mahendra dikenal sebagai dosen terkemuka di Imperial College London, dihormati atas kepakarannya dalam bidang hukum dan manajemen, serta menjadi figur yang sangat berpengaruh di kalangan akademisi dan profesional muda.
Namun seiring bertambahnya usia dan penyakit jantung yang mulai menggerogoti tubuhnya, Mahendra memutuskan mundur dari karier akademik yang gemilang, meninggalkan London untuk kembali ke Indonesia. Ia menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan dan firma hukum keluarga kepada anak semata wayangnya, Edgar Maheswara.
Arven duduk di kursi di samping kakeknya, menatap monitor jantung yang berdetak perlahan. Ia menahan napas, mencoba menenangkan diri. Mahendra bukan hanya kakek, tapi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya sejak ibunya pergi meninggalkan rumah saat Arven berumur lima belas tahun.
Sejak saat itu, banyak malam Arven habiskan waktunya bersama kakek. Entah belajar, bercakap-cakap, atau sekadar duduk diam sambil membaca buku.
"Bagaimana kabar kakek?" tanya Arven sembari menggenggam tangan yang sedikit keriput itu.
"Kakek merasa lebih baik dari kemarin, jangan khawatir." jawab Mahendra.
"Kau tumbuh menjadi lelaki yang baik, Arven," Mahendra melanjutkan, suaranya pelan, serak oleh napas yang tersengal. "Ayahmu, ia keras, selalu menuntut, tapi ia membawa keluarga ini maju. Aku ingin kau selalu ingat satu hal, jangan biarkan tuntutan itu memadamkan siapa dirimu sendiri."
Kemudian mengambil kunci mobil. Ia membuka ponselnya sebentar, mengecek jadwal pemeriksaan rumah sakit kakeknya. Sebelum benar-benar beranjak keluar dari kamarnya.
16:21
Jakarta Soemarmo Hospital
Sore itu, cahaya lembut menembus jendela rumah sakit, membias di lantai keramik yang dingin. Aroma antiseptik dan udara yang sejuk menciptakan suasana hening, hanya terputus oleh detak monitor jantung yang stabil namun lambat.
Di ruangan pribadi itu, Mahendra Maheswara duduk bersandar di ranjang ruang inap dengan napas yang berat. Wajahnya menampakkan garis-garis usia, namun masih tersimpan wibawa seorang pria yang pernah berpengaruh di dunia akademik internasional.
Dahulu, Mahendra dikenal sebagai dosen terkemuka di Imperial College London, dihormati atas kepakarannya dalam bidang hukum dan manajemen, serta menjadi figur yang sangat berpengaruh di kalangan akademisi dan profesional muda.
Namun seiring bertambahnya usia dan penyakit jantung yang mulai menggerogoti tubuhnya, Mahendra memutuskan mundur dari karier akademik yang gemilang, meninggalkan London untuk kembali ke Indonesia. Ia menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan dan firma hukum keluarga kepada anak semata wayangnya, Edgar Maheswara.
Arven duduk di kursi di samping kakeknya, menatap monitor jantung yang berdetak perlahan. Ia menahan napas, mencoba menenangkan diri. Mahendra bukan hanya kakek, tapi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya sejak ibunya pergi meninggalkan rumah saat Arven berumur lima belas tahun.
Arven mengangguk pelan, menahan rasa sakit yang biasa muncul setiap kali mengingat momen itu. "Ya, kek. Saya mencoba. Saya selalu mencoba. Tapi terkadang... sulit untuk menjadi cukup baik di mata Ayah."
Mahendra menepuk bahu Arven dengan lembut. "Itu selalu sulit, cucuku. Tapi ingat, menjadi cukup baik bukan hanya tentang memenuhi harapan mereka. Kau harus cukup baik untuk dirimu sendiri, untuk hatimu. Jangan biarkan hidupmu hanya berputar mengikuti tuntutan yang menekanmu."
Arven menatap monitor jantung kakeknya, detaknya yang stabil seolah memberi ritme yang menenangkan. Ia membayangkan kata-kata kakeknya sebagai pegangan, sesuatu yang dapat menenangkan kegelisahan di dada. Sedikit demi sedikit, beban yang selama ini menekan, nilai yang selalu dianggap kurang, harapan yang tak terhitung, ketakutan akan kehilangan, Perlahan menemukan ruang untuk dihela dan diterima.
"Kakek... apakah Ayah pernah menyadari betapa saya mencoba?" tanya Arven, suaranya lirih.
Mahendra tersenyum. "Kadang, ayahmu, dia terlalu sibuk untuk menyadari. Tapi bukan berarti usahamu sia-sia. Aku selalu melihatmu di setiap langkah yang kau ambil. Aku ingin kau tahu, meski dunia menuntut kesempurnaan, hatimu tetap penting."
Arven menunduk, merasakan getaran halus di hatinya. Kata-kata itu membawa ketenangan, meski hanya sesaat. Ia menyadari.
"Arven... kau tahu," Mahendra melanjutkan, suaranya menipis oleh napas berat, "Aku dulu sama sepertimu. Berambisi, selalu ingin terlihat kuat, tapi aku belajar, bahwa ternyata kekuatan sejati datang dari hati yang mampu merasakan dan peduli, bukan hanya dari pencapaian dan kesempurnaan."
Arven mengangguk, menahan air mata yang nyaris jatuh. Ia menyadari satu hal, dunia keluarganya mungkin keras, ayahnya menuntut, tapi ada satu orang yang benar-benar peduli dan memperhatikannya. Mahendra, kakeknya, bukan hanya pewaris sejarah Maheswara, tapi juga cahaya kecil yang menuntunnya menemukan arti perhatian, kasih, dan kehangatan yang selama ini jarang ia rasakan.
Di luar jendela, hujan tipis mulai menaburi kaca, menimbulkan suara lembut yang menenangkan. Arven duduk diam, memikirkan kata-kata kakeknya, sambil menatap bayangan diri sendiri di jendela.