Lorong sekolah itu panjang, berlapis ubin marmer yang berkilau tipis, dinding berwarna krem dengan lukisan abstrak yang dipasang seakan menuntut penghargaan, dan jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya pagi menembus dengan lembut, menyorot lantai bersih.
Suara langkah kaki siswa lain bergema, bercampur dengan bisik-bisik ringan, tapi tetap terdengar sepi bagi siapa pun yang memperhatikan.
Maeva berjalan perlahan, tasnya tergantung ringan di satu pundak. Ia menundukkan pandangan, memastikan sepatu hitamnya bersih, seragamnya rapi.
Otaknya sibuk menata langkah-langkahnya agar tidak menarik perhatian. Baginya, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, ini arena di mana kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi rumor yang berkembang. Setiap gerakannya harus sempurna, setiap tatapannya harus terkendali.
Di arah yang berlawanan, Arven melangkah dengan ketenangan yang hampir sunyi. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya sempurna, simetris, alis tebal, dan mata hazel yang seakan menembus apa pun di depannya. Lelaki itu melintas dengan sikap tenang.
Dan ketika mereka bertemu tidak sengaja di persimpangan, lorong dunia seakan berhenti bernapas, waktu terasa melambat tanpa sengaja, atau mungkin memang sengaja.
Maeva mengangkat kepalanya, dan matanya bertemu dengan tatapan Arven. Singkat, hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat keduanya merasakan sesuatu yang asing dan familiar sekaligus.
"Arven, ya?" Maeva memulai, suaranya lembut, sedikit canggung. Ia selalu berbicara pelan, memastikan kata-katanya tidak terlalu terdengar.
Arven menatapnya sebentar, diam.
Bibirnya bergerak membentuk satu kata yang tidak terdengar jelas, tapi cukup untuk mengiyakan. Ia tidak terbiasa banyak bicara, ia tenang, dan memikat.
Dan ia selalu waspada saat berhadapan dengan orang baru.
"Maeva Alinora?" ia menambahkan, nada suaranya rendah, datar, tapi bukan kasar.
Maeva hanya mengangguk. Ada jeda yang panjang, yang terasa sepi di antara mereka meskipun lorong itu dipenuhi suara. Kedua orang itu berdiri saling menatap sebentar, saling mengamati, tanpa perlu berbicara lebih banyak. Seakan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, seakan mereka tak perlu bicara untuk mengetahui bahwa ada luka dari masing-masing yang menggantung di udara.
Arven mengamati cara Maeva menyesuaikan tasnya di pundak, gerakannya yang pelan, tetapi anggun.
Maeva, di sisi lain, merasa ada sesuatu di mata Arven yang tidak bisa ia jelaskan. Dingin, tapi ada kedalaman yang mengisyaratkan bahwa ia pernah melalui hal-hal yang tidak boleh ia ceritakan. Ia menelan napas, jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia tidak mengerti kenapa.
Langkah kaki siswi-siswi terdengar mendekat, memecah momen itu. Mereka mundur satu sama lain secara refleks, seperti dua garis paralel yang baru saja menyadari ada persimpangan yang tidak boleh dilewati, meskipun rasa penasaran sudah mulai menumpuk di dada.
Siswi berambut kepang diantara empat siswi lainnya menyahut sambil tersenyum manis dan tak enak, "Eh maafff ya, jadi ganggu."
Keduanya hanya membalas dengan tersenyum tipis, canggung akan kesalah pahaman kecil itu.
"Ngga kok," Maeva membalas akhirnya.
Ke empat gerombolan adik kelas itu mengangguk dan kemudian pergi, tersisa hanya Maeva dan Arven lagi.
"Aku ke perpus dulu," kata Maeva sambil tanpa sadar meremas rok nya, Arven mengangguk pelan tanpa kata apapun setelahnya.
Akhirnya mereka berpisah.
Maeva melanjutkan langkahnya, tetap menunduk, tetapi pikirannya tidak berhenti. Ia memikirkan sosok Arven, seolah netra hazel itu menempel di pikirannya meski hanya beberapa detik. Ada rasa aneh, sejuk tapi mengganggu, yang membuatnya ingin tahu lebih banyak, tanpa ia sadari bahwa rasa itu juga menghantui Arven di lorong yang sama.
Arven sendiri berjalan menuju kelas, namun pikirannya tetap kembali pada Maeva. Ia tidak pernah merasakan ketertarikan seperti itu sebelumnya, bukan ketertarikan manis, tapi sesuatu yang dalam, pelan, dan berat.
Sesuatu yang membuatnya sadar bahwa meski ia mencoba menutup diri, dunia selalu menemukan cara untuk menabraknya, bahkan melalui tatapan sesaat.
Di kelas, keduanya duduk di bangku yang berbeda, namun perasaan aneh itu tetap ada. Maeva menatap buku di depannya, tapi matanya sesekali melirik ke arah Arven. Arven, yang biasanya tertutup rapat, juga menoleh diam-diam, memastikan gadis itu masih ada di sana.
Ada rasa penasaran yang tidak bisa mereka jelaskan.
Maeva memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan, tangannya saling meremat diatas paha. Arven, murid pindahan 1 bulan yang lalu, sekarang, memenuhi kepalanya.
Maeva menggeleng pelan.
"Itu cuma pertemuan singkat dan tanpa sengaja, tidak ada yang berarti disana." batin maeva.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Arven masuk ke mobil mewah pribadinya yang menunggu di halaman, tanpa sepatah kata pun pada teman-temannya. Jalanan sore yang sejuk dan lengang berbaur dengan aroma basah tanah akibat hujan tipis tadi, sementara pikirannya masih melayang pada kejadian di lapangan.
Sesampainya di kediaman Maheswara, gedung besar dengan arsitektur klasik Eropa, pilar-pilar tinggi berlapis marmer putih dan lantai granit mengkilap menyambutnya. Suasana rumah terasa sunyi, hanya suara langkah kaki yang menekuk di lantai hall utama yang luas.
Lobi dihiasi lukisan besar karya seniman terkenal, lampu gantung kristal menebarkan cahaya hangat, dan perabotan mewah berwarna hitam pekat dan abu-abu menegaskan dominasi maskulin.
Sekilas, rumah besar ini akan membawa kesan yang begitu megah dan elegan bagi siapa saja yang pertama kali menginjakkan kakinya disana.
Arven menapaki tangga lebar menuju lantai atas, kamar pribadinya. Pintu terbuka, dan ia masuk ke ruangan yang luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela besar menghadap halaman belakang. Ruangan itu dipenuhi furnitur minimalis berwarna gelap, tempat tidur king size dengan sprei hitam, lemari built-in abu-abu, rak buku yang rapi berisi literatur hukum dan manajemen, serta sebuah meja kerja besar yang berjejer dokumen dan laptop.
Di sudut, model pesawat antik dan jam meja klasik memberi sentuhan pribadi yang jarang terlihat orang lain.
Arven melepaskan jas sekolahnya, menggantungnya rapi, lalu duduk di kursi kerja. Ia menatap tangannya yang bersilang, menahan rasa gelisah yang aneh. Pikiran tentang Maeva terus mengusik, wajahnya dan tatapan polos tapi fokusnya di lapangan seolah menempel di retina Arven.
"Kenapa saya... kenapa saya harus ambil bola itu tadi?" gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam di ruang luas. "Bukan urusan saya... saya seharusnya tidak perlu seperti itu."
Ia menoleh ke jendela, melihat halaman yang luas dan terawat, pohon-pohon tinggi bergoyang lembut diterpa angin sore. Bayangan Maeva muncul di pikirannya, cara gadis itu menunduk, tersenyum tipis, dan matanya yang indah, membuat sebuah perasaan aneh menjalar di dadanya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Maeva..." ucapnya lirih. "Kenapa saya... memperhatikan kamu?"
Arven menutup laptop di meja kerja dengan sedikit kasar, mencoba mengalihkan perhatian. Namun, bayangan gadis itu tetap hadir.
Detik-detik di lapangan tadi, tatapan mereka yang singkat, diam-diam, meninggalkan efek yang sulit ia jelaskan. Ia, yang sejak kecil terbiasa dingin, terbiasa menahan jarak, kini merasakan getaran penasaran yang asing.
"Tidak, saya tidak boleh," gumamnya sambil menepuk dada. "Saya punya aturan sendiri. Fokus. Tidak ada ruang untuk drama sekolah, apalagi perasaan."
Meski kata-katanya terdengar tegas, jantungnya berdebar lebih cepat. Ada rasa ingin tahu yang sulit ia abaikan, dorongan halus untuk mengamati gadis itu lebih dekat, memahami siapa dia, meski ia tak ingin mengakuinya.
Arven berdiri, melangkah ke jendela besar yang menghadap taman belakang rumah. Cahaya sore menembus tirai tebal, membentuk bayangan panjang di lantai marmer. Tatapannya menyingkap panorama halaman luas, kolam mini, dan pepohonan yang tertata rapi. Bayangan dirinya di kaca menatap balik, tatapan yang dingin, serius, tapi ada titik lembut yang jarang ia akui pada dirinya sendiri.
"Kenapa rasanya aman saat saya di dekat dia?" gumamnya lirih. "Padahal saya biasanya tidak peduli."
Ia menarik napas panjang, menahan gelombang perasaan yang tidak ia kenal. Rumah ini, segala fasilitas, kekayaan, dan tuntutan yang menggunung, tidak pernah memberinya rasa aman seperti tatapan sederhana gadis itu di lapangan. Sesuatu yang kecil, namun membekas.