Rumah keluarga Maheswara berdiri megah di ujung jalan yang rapi dan terjaga sempurna. Pilar-pilar marmer abu yang menjulang, jendela tinggi dengan tirai beludru gelap, dan lampu gantung kristal yang menggantung di langit-langit ruang utama, semua memberi kesan rumah itu hidup dalam kemewahan abadi. Namun bagi Arven, setiap detail indah itu hanyalah tirai tipis yang menutupi kekosongan.
Rumah ini tidak hangat. Tidak pernah. Ia belajar sejak lama bahwa di sini, kata-kata hangat tidak pernah sampai, senyum tidak pernah tulus, dan kasih sayang selalu harus dibayar dengan prestasi yang sempurna.
Pagi itu, Arven berdiri di depan cermin ruang tamu. Seragam barunya tersetrika rapi, rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan di beberapa sisi, tetapi memberikan kesan indah di wajah tampannya.
Mata hazelnya memandang bayangannya sendiri. Wajahnya tampak tenang, namun tatapan itu menahan begitu banyak hal, ketakutan, kecewa, rindu yang tak tersampaikan, dan rasa sakit yang ia pelajari sejak kecil.
Di dapur, suara ibunya terdengar dari beberapa langkah jauhnya, tapi tidak seindah yang terdengar di rumah-rumah lain. Nada bicara ibunya tajam, cepat, dan penuh tuntutan. "Jangan lupa nilai matematika hari ini, dan jangan terlambat lagi seperti kemarin, saya tidak ingin mendengar alasan apapun!"
Arven menghela napas, tidak merespon, ia sudah terbiasa dengan suara itu, bahkan sejak ibunya pergi meninggalkan rumah lima belas tahun yang lalu.
Setiap pertengkaran yang tersisa dalam ingatannya terus berputar ulang. Tatapan kecewa, kata-kata dingin, dan nada tinggi yang meninggalkan bekas di telinganya hingga kini.
Ia membayangkan ibunya berdiri di situ, menatapnya dengan mata tajam, dan kata-kata yang terlontar seolah menuntut kesempurnaan di luar batas manusia.
"Arven!" suara ayahnya terdengar singkat dan tegas dari ruang kerja, menyadarkan Arven dari lamunan kelamnya.
Edgar Maheswara tidak pernah bersuara lebih dari satu kalimat panjang. Pria itu tidak peduli dengan kelemahan atau emosi.
"Berangkat sekolah sekarang, jangan membuat saya menunggu."
Arven mengangguk, suaranya tidak keluar. Ia selalu belajar bahwa kata-kata terlalu berbahaya, terlalu menuntut, terlalu cepat berubah menjadi tuduhan. Ia sudah terbiasa diam.
Sudah lama ia belajar menelan semua yang rasanya ingin dikeluarkan, menahan napasnya, menahan tangisnya, dan menahan kecewa.
Saat berjalan menuju mobil pikirannya kembali ke masa lalu. Malam-malam setelah ibunya pergi, rumah ini selalu hening kecuali bentakan ayahnya yang terdengar dari ruang kerja, atau suara langkah yang keras menandakan bahwa ia harus segera bergerak ke tempat yang seharusnya.
Tidak ada yang menenangkannya, tidak ada yang memeluknya ketika ia menangis diam-diam di sudut kamar. Tidak ada yang berkata, "Aku ada untukmu."
Tidak pernah. Dan ia belajar, sangat cepat, bahwa menangis adalah kelemahan, dan kelemahan tidak diperbolehkan di rumah Maheswara.
Ponselnya bergetar, Arven memutuskan lamunan, pesan singkat dari perawat rumah sakit muncul di layar ponselnya.
Kakek masuk ICU, kondisinya menurun drastis.
Arven menatap layar beberapa detik. Napasnva tertahan. dadanya terasa sesak, ia menutup mata.
Bertahun-tahun berlalu, tapi rasa takut ditinggalkan itu tak pernah pergi, tak kunjung memudar.
Setiap bentakan ayahnya, setiap tatapan kecewa, dan setiap kata yang diucapkan ibunya kini menyatu menjadi satu suara di kepala yang selalu mengingatkan,
Jangan lemah, jangan bergantung, jangan berharap.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi itu hampir mustahil. Kakek adalah satu-satunya yang pernah menenangkannya, satu-satunya yang memberi sedikit rasa aman ketika dunia di sekelilingnya terasa terlalu dingin. Dan sekarang, ia mungkin akan kehilangan orang itu juga.
Perasaan panik itu muncul, cepat tapi terkendali, seperti air yang menahan tekanan di bawah permukaan.
Ayahnya muncul di lorong, memeriksa jam tangan dengan tatapan singkat. "Cepat naik," suaranya datar. Tidak ada empati, tidak ada kelembutan, hanya perintah. Arven mengangguk dan melangkah ke mobil.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan, jalanan kota yang ramai dan lampu pagi tidak berarti apa pun bagi keduanya.
Di dalam mobil, Arven menatap keluar jendela, memperhatikan pepohonan, trotoar, dan awan yang menggantung rendah di langit. Hal-hal kecil ini memberinya sedikit distraksi dari rasa sakit yang terus menghantui pikirannya.
Sekolah baru itu terlihat megah dari gerbang. Gedung tinggi dengan kaca besar, halaman luas yang rapi, dan anak-anak berpakaian seragam dengan sikap seolah mereka sudah tahu ke mana hidup akan membawa mereka.
"Ingat, jangan coba-coba memiliki teman." peringatan ayahnya sebelum Arven turun dari mobil.
Arven mengangguk, "Iya."
Arven sudah cukup mengerti.
Sebenarnya alasan ia dipindahkan ke sekolah baru adalah hanya karna ia memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya di sekolah lamanya.
Dan Edgar tidak suka akan hal itu, setelah mengetahuinya Edgar langsung memutuskan untuk memindah sekolahkan Arven agar berpisah dari para sahabat.
Arven menekan kancing tas di pundaknya, Ia melangkah kearah gerbang sekolah. Langkah itu berat, tapi terlihat tenang bagi siapa pun yang melihatnya.
Ia berjalan melewati siswa lain dan menyadari tatapan penasaran mereka yang tertuju padanya, sosok murid baru yang tampak terlalu sunyi, terlalu dewasa.
Dalam kepalanya, suara ibunya yang meninggalkan rumah masih terdengar, suara ayahnya yang selalu mengingatkan "Maheswara tidak boleh lemah." masih bergema, dan rasa kehilangan kakek yang akan datang terasa semakin nyata.
Ia menarik napas panjang, menundukkan kepala dan mencoba menata langkahnya.
"Tenang Arven, kamu sudah seharusnya tahu bagaimana menghadapi situasi ini." batinnya.
Saat Arven melangkah ke lorong sekolah, ia belum menyadari bahwa mata seorang gadis di ujung koridor sudah melihatnya. Mata itu bukan sekadar penasaran atau ingin tahu, ada sesuatu yang seolah familiar, sesuatu yang seolah mengenali luka yang sama sunyinya.
Dan pada detik berikutnya, tatapan pertama mereka bertemu, tidak disengaja, singkat, namun cukup untuk menanam benih yang kelak akan mengubah hidup keduanya.
Di dunia yang megah tapi dingin ini, dua luka diam mulai berjalan menuju satu sama lain. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, apakah luka itu akan disembuhkan, atau justru diperparah.
Tapi satu hal sudah pasti, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.