Penulis: NURJANNAHTUN NIKMAH

BAB 1 - Maeva Alinora


Rumah keluarga itu berdiri di atas tanah luas yang dikelilingi pagar besi tempa berukir, dengan taman yang dirawat seolah waktu tidak pernah diizinkan menghancurkan apa pun di sana. Setiap sudut rumah terkesan seperti bagian dari galeri Eropa, pilar-pilar marmer berwarna krem, jendela besar dengan tirai tebal yang dijahit khusus, serta lampu gantung kristal yang menggantung di ruang utama. Tidak ada satu pun detail yang tampak murah. Semuanya berteriak sempurna.

 

Namun bagi Maeva, kesempurnaan itu justru terasa menekan.

 

Pagi hari dimulai dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun sebelumnya. Lorong-lorong sunyi, udara dingin dari pendingin ruangan menyapu kulit, dan aroma roti panggang serta kopi hitam mengisi ruang makan. Meja kayu walnut panjang itu selalu tampak terlalu besar, terlebih ketika hanya diduduki dua orang yang nyaris tidak pernah benar-benar saling berbicara.

 

Ibunya-Anindira- duduk paling ujung, dengan pakaian kerja rapi dan rambut tertata tanpa satu helai pun keluar jalur. Cara bicara perempuan itu tegas, terukur, dan sering kali lebih mirip pengarahan daripada percakapan.

 

"Jangan lupa, hari ini ada evaluasi kelas," ujarnya tanpa menatap Maeva. "Dan minggu depan, kita harus bicara mengenai jadwal les tambahan."

 

Ayahnya hanya menjawab pelan dari balik telepon, suaranya datar dan dipenuhi urusan pekerjaan. Ia hampir tidak pernah berada di rumah lebih lama dari satu malam. Kadang Maeva lupa bagaimana suaranya terdengar tanpa nada tergesa.

 

Maeva mengangguk, meski tidak yakin didengarkan. Suasana di meja makan itu terlalu tenang, terlalu rapi, seakan setiap emosi harus disembunyikan agar tidak merusak estetika ruangan.

 

Setelah selesai, Maeva naik ke lantai dua. Di sana, suasana terasa berbeda, lebih hangat, lebih manusiawi.

 

Kamar neneknya, yang terletak di ujung lorong, selalu membawa nuansa lembut. Lampu meja dengan tudung kain bermotif bunga. selimut rajut tipis, dan foto-foto lama keluarga membuat tempat itu terasa seperti rumah yang sebenarnya.

 

Maeva mengetuk pelan sebelum masuk, "Nek?" panggilnya.

 

Neneknya membuka mata perlahan, tersenyum dengan cara yang membuat seluruh dingin rumah itu mencair untuk sesaat. "Kamu sudah mau berangkat nak?" suaranya lemah, namun tetap mengandung kehangatan yang tidak pernah Maeva temukan dari kedua orang tuanya.

 

Maeva mengangguk, mendekat, membetulkan posisi bantal neneknya. "Nenek tidur lagi saja. Aku pulang cepat kok."

 

Neneknya hanya mengusap tangan Maeva sebentar, sentuhan ringkas yang tetap mampu menenangkan sesuatu yang sering bergejolak di dada gadis itu.

 

 

Hari berjalan seperti biasa. Sekolah, aktivitas, tatapan orang-orang, kemudian pulang. Namun sore itu, saat Maeva kembali ke rumah, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Lampu ruang tamu menyala redup, suara angin terdengar samar dari sela jendela, dan langkah kakinya bergema sepanjang lorong.

 

Setelah meletakkan tas, ia kembali naik ke kamar nenek. Namun kali ini, ruangan itu lebih sunyi. Napas neneknya teratur, tetapi lebih lambat. Maeva duduk di tepi ranjang, menatap wajah yang dulu begitu kuat itu.

 

Ada rasa takut yang tidak ia pahami, tapi selalu menghantuinya, rasa takut kehilangan, rasa takut ditinggalkan, rasa takut bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang benar-benar tinggal.

 

Malam turun cepat, Maeva masuk ke kamarnya, ruangan besar dengan langit-langit tinggi, rak buku berwarna merah muda dan jendela besar yang memperlihatkan sebagian halaman rumah. Namun di tengah kemewahan itu, ia justru merasa lebih kecil, seakan dirinya hanyalah tamu sementara di hidup sendiri.

 

Ia duduk bersandar di dinding. lampu dimatikan. Gelap selalu membuat pikirannya berputar lebih keras daripada yang ia inginkan. Nafasnya mulai berat, dada terasa sempit, dan dunia seakan mengerut perlahan.

 

Maeva menarik lututnya, menunduk, meremas ujung lengan baju. Ia mencoba bernapas perlahan, namun dadanya justru semakin sakit. Tidak ada suara manusia lain, hanya detak jam antik di lorong yang terdengar teratur dan dingin.

 

Di tengah sesak yang menghimpit itu, ia berbisik pada dirinya sendiri-halus, hampir tidak terdengar.

 

"Kenapa rasanya selalu begini...?"

 

Tidak ada jawaban. Tidak pernah.

 

Maeva menggigit bibir bawahnya kuat saat rasa sesak itu kian bertambah. Kemudian akhirnya, ia berjalan tergesa, memencet tombol saklar di dinding hingga ruangan itu seketika menjadi terang.

 

Maeva mendapati keringat sudah bercucuran di dahinya, ia melangkah ke arah meja rias, kemudian membuka laci, mengambil sesuatu disana, sebuah alat panjang dengan aroma terapi yang menenangkan, lalu ia dekatkan ke hidungnya untuk mendapatkan kembali ketenangan singkat yang sempat hilang.

 

Sambil tetap memegang alat itu, Maeva menatap dirinya di cermin, kulit putihnya yang nyaris pucat, rambut sebahunya yang tampak begitu sehat.

 

Dari luar, ia tampak begitu sempurna. Ia akui itu. Andai saja, didalamnya tidak tersimpan luka yang begitu besar.

 

Tatapan Maeva beralih ke sebuah foto di sudut kamarnya yang menampakkan wajah seseorang yang hampir mirip dengan wajahnya, hanya saja wajah itu lebih tegas.

 

Maeva menatap wajah di foto itu dengan rasa benci, takut, dan sakit hati. Disana, tersenyum seseorang yang menjadi salah satu sumber luka hebatnya, kakaknya-Prameswari Leonara.

 

Maeva meraih bingkai foto itu, lalu dengan amarah, ia menghantamkannya ke lantai, hingga kaca bingkai berhamburan disana.

 

Ia benci, sungguh BENCI