Ada dua jiwa yang tumbuh di dunia yang berbeda, namun sama-sama diajarkan hal serupa, bahwa diam lebih aman daripada bicara, bahwa hati lebih baik disembunyikan daripada dipertontonkan. Mereka dibesarkan di rumah yang terlihat kuat dari luar, tetapi rapuh dan retak di dalamnya.
Satu hidup dengan kesempurnaan yang mematikan perlahan, satu lagi dengan kesunyian yang menelan jiwa tanpa suara.
Di antara lorong-lorong mewah, lampu gantung kristal, dan malam-malam yang terlalu panjang, keduanya belajar menjalani hidup sambil menahan napas, seolah jika mereka bersuara sedikit saja, dunia akan runtuh tanpa ampun.
Namun takdir sering kali bergerak pelan sebelum menghantam. Merekatkan dua luka yang berbeda, mempertemukan dua kesunyian yang sama dalam satu pertemuan kecil yang seharusnya tidak berarti, tetapi justru mengubah segalanya.
Dan sebelum mereka menyadarinya, mereka akan saling menemukan... bukan karena mereka siap, melainkan karena mereka sama-sama hancur.
Tetapi pertanyaannya adalah, jika dua jiwa yang retak saling bersandar, apakah mereka akan saling menyembuhkan... atau justru saling menghancurkan?
"Makasih, Eνα.."
"Ven, aku sudah bilang, aku selalu disini"
"Saya cuma gak mau.. Kamu ikut hancur seperti saya, Va.."