Hujan baru saja berhenti ketika Arven menjejakkan sepatu ke halaman rumah. Udara terasa lembap, aroma tanah basah bercampur dengan dingin yang menusuk kulit. Lampu teras menyala redup, namun cukup untuk menunjukkan betapa besar dan sunyinya rumah itu.
Tidak ada suara apa pun selain tetesan air dari talang. Tidak ada percakapan. Tidak ada sambutan.
Arven menelan napas pelan, menyeimbangkan tas di bahunya, lalu membuka pintu depan dengan hati-hati. Engselnya mengeluarkan bunyi kecil-bunyi yang bahkan dirinya sendiri tidak suka dengar. Ia melangkah masuk, membiarkan kehangatan ruangan menyelimuti tubuhnya yang setengah basah.
Di ruang tamu, lampu sudah menyala. Dan seseorang duduk di sana.
Edgar.
Ayahnya, dengan kemeja yang masih rapi dari pertemuan kantor, namun wajahnya menunjukkan sesuatu yang lain-ketegangan, ketidaksabaran, dan muram yang pekat.
Rani, salah satu asisten rumah tangga, terlihat sedang membereskan meja kecil di dekat rak buku, namun gerakannya sangat pelan, seolah ia sendiri takut suara sekecil apa pun akan memicu sesuatu.
Dan Arven langsung tahu Ia terlambat. Dan Edgar tidak menyukai itu.
"Pulangnya lama," ucap Edgar tanpa menatap langsung, namun suaranya cukup membuat Rani menghentikan gerakannya.
Arven merapatkan bibir. "Tadi ada... sedikit urusan, yah."
Edgar akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, namun bukan tajam yang lantang-melainkan tajam yang sunyi, dingin, dan membuat siapa pun merasa terpojokkan. "Urusan apa yang membuat kamu pulang hampir magrib?"
Rani mundur perlahan, memberi jarak. Pelayanan sore seharusnya belum selesai, tapi ia tahu kapan harus menjauh.
Arven menunduk sedikit, mencari kata yang tidak akan menambah masalah. "Hanya menyelesaikan hal sekolah. Tidak lama sebenarnya."
Jawaban itu tentu tidak membuat Edgar puas. "Seharusnya kamu memberi kabar." Nada suaranya tetap datar, namun ada ketegangan yang jelas.
"Saya lupa," sahut Arven pelan.
Keheningan merayap masuk.
Hening yang membuat udara naik turun seperti gelombang terpendam.
Edgar berdiri, langkahnya teratur namun berat. Ia mendekat, tidak terburu-buru, seakan setiap geser sepatu memiliki arti. Arven mematung, berusaha menahan napas agar tidak terlihat gugup.
Edward-salah satu pengawal rumah -muncul di ambang pintu koridor, wajahnya khawatir namun ia memilih diam. Seperti rani, dia tahu batasnya.
"Arven," panggil Edgar dengan perlahan, "kamu tinggal di rumah ini. Kamu tahu aturan pulang. Kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Arven menahan suara hatinya agar tetap stabil. "Saya... akan ingat lain kali, yah."
Edgar menarik napas panjang. Bukan marah meledak, tapi marah yang menekan jenis kemarahan yang tidak perlu volume untuk terasa berat.
"Kamu selalu berkata begitu," ucapnya datar.
Kemudian pintu ruang tamu ditutup pelan - pelan oleh Rani.
Arven merasakan tengkuknya menegang. Ia tahu apa yang akan terjadi saat pintu benar-benar tertutup antara mereka berdua.
Bukan untuk memenjara, bukan untuk mengunci-namun seperti kebiasaan, Saat ayah dan anak mulai bicara serius, pintu selalu ditutup. Tidak ada yang memandang. Tidak ada yang ikut campur.
Dan justru di situlah semuanya terasa semakin sempit.
Edgar mendekat, hanya beberapa langkah dari Arven sekarang.
"Kamu bilang tadi sekolah."
"Iya."
"Dengan siapa?"
Arven diam sejenak. Jawaban itu tidak sulit, tapi ia tahu nama apa pun bisa menjadi bahan persoalan. Mereka tidak pernah sepakat soal teman.
"Saya mengerjakan laporan kelompok. Lalu pulang."
"Tadi kamu bilang selesai cepat. Lalu kenapa pulang lama?"
Suasana berubah mencekam. Arven tidak ingin mengulang detail kecil-tentang ia sempat menunggu hujan reda, tentang ia sempat berhenti sebentar untuk membeli buku tulis yang sudah menipis.
"Saya berhenti sebentar, Ayah."
"Untuk apa?"
Arven menarik napas. "Membeli keperluan sekolah."
"Kamu punya banyak di rumah."
"Tapi yang itu habis."
Lagi-lagi, jawaban itu tidak disukai Edgar.
"Arven," ucap Edgar perlahan, "kamu tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Apalagi jika itu membuat kamu pulang terlambat."
Arven ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa hanya sepuluh menit, hanya hujan yang memperlambatnya, hanya tugas sekolah yang tidak bisa ia abaikan.
Namun ia menahan semuanya. Arven mengepalkan tangan nya kuat - kuat. Ia tahu benar, penjelasan panjang tidak pernah membuat situasi membaik.
Rani dari luar pintu menunduk sambil menata baki minuman. Ia tampak ingin berlalu, tapi langkahnya sangat berhati-hati.
Edward berdiri menjaga jarak, wajahnya cemas namun tidak berani ikut berbicara.
Rumah itu besar, megah, tapi suasananya seperti tidak punya udara.
"Besok kamu ikut saya," ujar Edgar akhirnya.
"Ke mana?"
"Ke kantor. Saya ingin memastikan kamu tidak membuang waktu lagi."
Arven terdiam. Ia belum pernah diajak ke kantor ayahnya lagi sejak kelas enam. Itu bukan tempat yang menyenangkan baginya berisik, tegang, penuh aturan yang bahkan lebih ketat dari di rumah.
"Tapi besok hari Minggu," sahut Arven hati-hati.
"Justru karena itu. Kamu tidak memiliki kegiatan. Jadi kamu bisa ikut saya."
Arven memejam sesaat.
"Baik," jawabnya pelan.
Edgar menghela napas seperti menutup pembicaraan. "Pergi mandi. Kamu tampak basah."
Arven mengangguk pelan.
Edgar berbalik dan melangkah naik ke lantai dua, meninggalkan aroma parfum pria yang kuat dan hawa dingin yang tertinggal.
Arven menunggu sampai suara
langkah itu menghilang sebelum ia membiarkan bahunya jatuh sedikit-seakan baru saja melepaskan beban yang tadi ia tahan mati-matian.
Rani mendekat perlahan. "Mas Arven... tidak apa-apa?" tanyanya hati-hati.
Arven tersenyum kecil, tipis, lebih sebagai sopan santun daripada benar-benar ceria. "Tidak apa-apa, bi."
Rani mengangguk, namun sorot matanya sedih.
Edward ikut mendekat dari jauh. "Kalau ada apa-apa, panggil saya, Mas."
Arven kembali mengangguk.
pelan dan teratur seperti seseorang Lalu ia menuju kamar, langkahnya yang terbiasa menahan banyak hal agar tidak tumpah.
Arven masuk dan menutup pintu dengan sangat lembut. Kamar itu rapi, luas, penuh buku, namun tetap terasa sunyi.
Ia melepas tasnya, menaruhnya rapi, lalu duduk di tepi ranjang, memegang ujung jaket yang masih lembap.
Ia menarik napas panjang.
Hanya di sini ia bisa bernapas sedikit lebih bebas.
Pikirannya kembali ke satu hal yang membuatnya hangat hari ini, Percakapan kecil dengan Maeva dikelas tadi. Cara Maeva menatapnya tanpa menuntut apa pun. Cara gadis itu menerima jawabannya tanpa memaksa.
Ia mengusap wajahnya perlahan. Suara ayahnya masih terngiang, namun rasa pedih itu teredam oleh sesuatu yang lebih lembut.
Maeva.
Arven mengambil ponselnya, membuka chat, tetapi ia tidak mengirim pesan.
Ia hanya membaca ulang kalimat terakhir Maeva,
'Kalau kamu butuh bantuan... bilang aja nggak apa-apa kok.'
Arven menutup ponsel itu dengan pelan.
Padatnya suasana rumah tidak membuat kalimat itu hilang-justru membuatnya terdengar lebih berarti.
Hujan kembali turun di luar jendela, pelan namun teratur. Arven menatapinya sejenak sebelum bangkit dan bersiap mandi, mencoba meredakan kepenatan yang menggantung di tubuhnya.
Untuk malam itu, ia memilih diam. Ia memilih bertahan.
Dan esok, ia tidak tahu apa yang menunggu.