Aesira tetap mengikuti lelaki tua itu. Bukan karena ia yakin lelaki itu akan menjaganya—melainkan karena ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Setiap pagi, ia bangun lebih awal, berdiri di depan pintu rumah batu itu, dan menunggu. Jika lelaki tua itu bergerak, Aesira ikut melangkah. Jika ia berhenti, Aesira ikut berhenti.
Seperti bayangan kecil yang takut menghilang.
Orang-orang desa memperhatikannya dari jauh.
Anak-anak lain tidak mendekat. Mereka berbisik, menunjuk, lalu menjauh ketika Aesira menoleh. Sekali waktu, seorang anak lelaki berani mendekat, tapi ibunya langsung menarik lengannya. “Jangan dekat-dekat,” bisik perempuan itu, cukup keras untuk didengar. “Anak itu... aneh.” Aesira menunduk.
Ia mencoba tersenyum. Mencoba terlihat biasa. Tapi tidak ada yang membalas. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mengajaknya bermain. Seolah ia tidak sepenuhnya ada.
Suatu sore, saat lelaki tua itu memperbaiki pagar, Aesira berdiri di dekatnya, memegang sepotong kayu kecil. “Aesira boleh bantu?” tanyanya hati-hati.
Lelaki tua itu melirik, ragu sesaat, lalu mengangguk singkat. “Pegang saja di situ.”
Aesira melakukannya dengan sungguh-sungguh, jari-jarinya kecil dan gemetar. Ketika palu menghantam paku, kayu itu seharusnya tergelincir—namun tidak. Tanah di bawahnya sedikit bergeser, menahan kayu itu tetap di tempatnya.
Lelaki tua itu berhenti memukul. Ia menatap pagar. Menatap tanah. Lalu menatap Aesira. “Kau... sering membuat hal-hal jadi seperti ini?” tanyanya pelan.
Aesira bingung. “Seperti apa?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia kembali bekerja, tapi wajahnya tidak lagi tenang.
Malam itu, ketika mereka berjalan menyusuri jalan desa, beberapa orang berdiri menghalangi. Wajah mereka tegang, tidak ramah.
“Anak itu tidak boleh tinggal di sini,” kata seorang pria. “Sejak dia datang, sumur kami mengering sehari. Besoknya penuh lagi. Itu tidak normal.”
“Aku cuma anak kecil,” Aesira berkata cepat, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku nggak ngapa-ngapain…”
“Kami tidak menuduh,” sahut perempuan lain, dingin. “Kami hanya tidak mau mengambil risiko.”
Lelaki tua itu menghela napas panjang. “Aku akan membawanya pergi,” katanya akhirnya.
Aesira menoleh cepat. “Pergi ke mana?”
“Ke mana pun,” jawabnya lirih. “Tempat yang tidak terlalu ramai.”
Aesira mengangguk, meski dadanya terasa semakin kosong. Ia tidak berani bertanya apakah "ke mana pun” berarti sendirian.
Mereka berjalan keluar desa saat malam benar-benar turun. Langit gelap tanpa bintang, jalan tanah memanjang tanpa tujuan. Aesira menggenggam ujung mantel lelaki tua itu, takut kehilangan satu-satunya sosok yang tersisa.
“Paman…” panggilnya pelan.
“Apa?”
“Aesira jahat ya…?”
Langkah lelaki itu terhenti.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Karena kalau Aesira ada,” katanya dengan suara patah, “orang-orang selalu pergi.”
Tidak ada jawaban langsung.
Setelah beberapa saat, lelaki tua itu berkata, “Kadang dunia tidak suka pada hal yang tidak bisa ia pahami.” Aesira tidak mengerti, tapi ia mengangguk.
Malam semakin dingin. Tubuh kecil Aesira mulai gemetar. Ketika ia tersandung dan jatuh, lelaki tua itu refleks menarik lengannya. Namun sebelum tubuh Aesira menghantam tanah, jalanan di depannya amblas sedikit—cukup untuk memperlambat jatuhnya.
Lelaki itu terdiam, ia menatap tangan Aesira yang menggenggam mantelnya.
Untuk pertama kalinya, ketakutan di matanya bukan untuk Aesira—melainkan karena Aesira.