Mereka berjalan sampai fajar.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan ketika lelaki tua itu akhirnya berhenti. Aesira hampir menabraknya dari belakang—kakinya terlalu lelah untuk mendadak berhenti. Ia terhuyung, lalu mencengkeram mantel lelaki itu seperti biasa.
Namun kali ini lelaki itu tidak bergerak.
“Aesira,” katanya pelan.
Nada suaranya berbeda. Tidak kasar. Tidak marah. Justru terlalu hati-hati.
Anak itu mendongak, “Paman capek?” tanyanya dengan polos.
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Matanya memandang jalan di depan mereka—panjang, kosong, seolah menunggu keputusan yang tidak ingin diambil siapa pun.
“Aku tidak bisa membawamu lebih jauh,” katanya akhirnya. Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam lebih keras dari batu.
Tangan kecil Aesira mengencang di mantel itu.
“Kenapa...?”
“Aku orang tua,” katanya lirih. “Aku tidak punya rumah tetap. Tidak punya uang. Kalau kau terus ikut aku... kau akan menderita.” Aesira menggeleng cepat. “Aesira nggak apa-apa. Aesira bisa jalan jauh. Aesira nggak rewel. Aesira—”
Suaranya pecah sebelum sempat selesai.
Untuk pertama kalinya sejak kota itu hilang, ketakutan yang sesungguhnya muncul di wajahnya.
“Jangan tinggalin Aesira...” bisiknya.
Lelaki tua itu menutup mata sebentar. Tangannya terangkat, ragu, lalu mendarat di kepala anak itu. Sentuhannya kaku, seperti orang yang sudah lama lupa cara menghibur.
“Kau anak kuat,” katanya.
“Kau akan hidup.”
Aesira tidak ingin hidup.
Ia ingin rumah.
Ia ingin suara panci di dapur lagi.
Ia ingin ayahnya pulang sore hari dan memeluknya lagi..
“Aesira nggak mau kuat...” katanya sambil menangis pelan.
“Aesira cuma mau pulang...”
Lelaki tua itu menarik tangannya perlahan. Langkahnya mundur satu, lalu satu lagi.
Aesira berdiri membeku.
Ia tidak mengejar. Tubuh kecilnya seperti lupa cara bergerak. Ia hanya menatap lelaki itu semakin jauh, semakin kecil, sampai akhirnya kabut menelannya.
Dan dunia kembali sunyi.
Angin pagi berhembus, dingin dan acuh tak acuh. Aesira berdiri sendirian di tengah jalan tanah yang tidak memilihnya. Tidak ada suara langkah lain. Tidak ada tangan yang bisa digenggam.
Hanya dirinya.
Setelah waktu yang terasa sangat lama, ia duduk di tepi jalan. Lututnya ditarik ke dada. Wajahnya disembunyikan di sana, seolah jika ia tidak melihat dunia, dunia juga tidak akan melihatnya.
“Aesira baik kok...” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Aesira bisa diam. Aesira nggak ganggu siapa-siapa..." Tidak ada yang menjawab.
Matahari naik perlahan. Bayangannya memendek. Rasa lapar datang lagi, disusul rasa pusing. Tapi Aesira tidak bergerak. Ia takut kalau berdiri, jalan ini juga akan pergi.
Seperti semua yang lain.
Burung-burung mendarat beberapa meter darinya. Mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sepenuhnya menjauh. Untuk sesaat, Aesira menatap mereka dengan mata bengkak.
“Aesira nggak aneh...” katanya pelan pada burung-burung itu.
“Aesira cuma... kesepian.”
Burung-burung itu terbang pergi.
Dan Aesira Sigourney, anak sembilan tahun yang kehilangan kota tempat tinggalnya, orang tua, dan satu-satunya orang dewasa yang sempat menemaninya, akhirnya mengerti sesuatu yang terlalu besar untuk usianya:
bahwa dunia bisa terus berjalan, meskipun seseorang tertinggal jauh di belakang.
Ia duduk di sana sampai matahari tinggi, tidak ada yang datang mencarinya. Tidak ada yang memanggil namanya.
Dan untuk pertama kalinya, Aesira tidak menunggu siapa pun lagi. Ia berdiri sendiri—dan mulai berjalan tanpa tahu ke mana.