Penulis: Tirtania Afrina Dhia Nuramalina

Bab 3 — Tempat yang Katanya Tidak Pernah Ada


Lelaki tua itu akhirnya membawanya pergi.

Aesira berjalan di belakangnya dengan langkah kecil, berusaha tidak tertinggal. Setiap beberapa saat, ia menoleh ke belakang—ke tanah kosong yang masih ia yakini sebagai rumahnya. Seolah jika ia cukup lama memandanginya, tembok kayu dan jendela miring itu akan kembali muncul.

Tidak ada yang muncul.

“Siapa namamu?” tanya lelaki itu tanpa menoleh.

“Aesira,” jawabnya pelan. “Aesira Sigourney.”

Lelaki itu mengangguk singkat, seakan nama itu tidak berarti apa-apa. Mungkin memang tidak berarti apapun—setidaknya bagi dunia di luar ingatan Aesira.

Mereka tiba di sebuah desa kecil menjelang sore. Rumah-rumah batu berdiri rapat, asap tipis mengepul dari cerobong. Orang-orang berhenti bergerak ketika melihat Aesira. Mata mereka menyapu tubuh kecilnya—bajunya kotor, sepatunya robek, rambutnya kusut oleh debu dan angin.

“Anak siapa itu?” bisik seseorang.

“Aku punya orang tua,” kata Aesira dengan cepat, seolah takut pernyataan itu akan dicabut darinya. Ia menoleh ke lelaki tua itu. “Ayah dan bunda Aesira tinggal di sini. Tidak jauh. Di sana—” jarinya menunjuk ke arah kosong di kejauhan.

Beberapa orang saling pandang. “Wilayah itu?” seorang perempuan mengernyit. “Nak, di sana hanya tanah mati. Sejak dulu.”

“Bukan,” bantah Aesira, suaranya bergetar. “Di sana ada kota, ada rumah, dan ada menara penjaga. Ayah Aesira kerja di sana...”

Keheningan menyelimuti Aesira.

Lelaki tua itu berjongkok di hadapannya. Wajahnya tidak keras, tapi juga tidak percaya. “Tidak ada kota di sana,” katanya pelan, seolah berbicara pada anak yang sedang berkhayal. “Tidak pernah ada.” 

Kalimat itu terasa seperti tamparan. “Bohong,” Aesira menggeleng kuat. “Aesira lahir di sana. Aesira tahu jalannya. Tahu toko roti di tikungan. Tahu lonceng sore—”

“Cukup,” potong perempuan tadi, nadanya melembut namun tegas. “Kau pasti tersesat, Nak. Banyak anak kehilangan ingatan saat trauma.”

Trauma... Aesira tidak mengerti kata itu, tapi ia tahu rasanya—seperti ada lubang di dadanya yang tidak bisa diisi. Ia menunduk, menggenggam ujung bajunya erat-erat.

“Mereka mati?” tanyanya lirih. “Ayah... dan bunda Aesira mati?" Tidak ada yang langsung menjawab.

Seseorang menghela napas. Yang lain menunduk. Bukan karena berduka—melainkan karena tidak tahu harus berduka untuk apa.

“Kami tidak tahu orang tuamu,” kata lelaki tua itu akhirnya. “Dan kami tidak bisa menemukan kota yang kau maksud.”

Air mata Aesira jatuh satu per satu, membasahi tanah batu. “Kalau begitu...” suaranya pecah, "kenapa Aesira masih ada?”

Tidak ada jawaban.

Malam itu, Aesira tidur di sudut rumah orang asing. Atapnya kokoh, lantainya hangat, tapi ia tetap menggigil. Tangannya memeluk lutut, tubuhnya meringkuk seperti takut dunia akan kembali mencabut segalanya.

Dalam tidurnya, ia memanggil orang tuanya. Namun yang datang bukan mereka—melainkan hening.

Di luar rumah, tanah bergetar pelan. Sangat pelan. Tidak cukup kuat untuk dirasakan manusia dewasa, tapi cukup untuk membuat batu-batu kecil bergeser menjauh dari dinding tempat Aesira tidur.

Seolah dunia tahu anak itu sendirian sekarang—dan entah bagaimana, dunia memilih mengalah lebih dulu.

Aesira Sigourney terbangun keesokan paginya tanpa rumah, tanpa orang tua, dan tanpa satu pun orang yang mempercayai kisah hidupnya.

Dan sejak hari itu, ia belajar satu hal kecil—bahwa kehilangan paling menyakitkan bukanlah ketika sesuatu hancur, melainkan ketika tidak ada yang percaya bahwa itu pernah ada.