Penulis: Tirtania Afrina Dhia Nuramalina

Bab 2 — Anak yang Tidak Bisa Pulang


Aesira menunggu.

Ia tidak tahu harus menunggu apa, tapi kaki kecilnya tetap berdiri di tempat yang sama. Tanah di bawah telapak sepatunya dingin, terlalu rata, dan terlalu kosong untuk disebut rumah—namun juga terlalu sunyi untuk ditinggalkan.

“Bunda...?”

Suaranya kecil, hampir terseret angin. Tidak ada yang menjawab.

Aesira memutar tubuhnya perlahan, berharap melihat rumah kayu dengan jendela miring itu kembali berdiri. Ia menunggu suara air mendidih. Menunggu pintu dibuka. Menunggu seseorang memanggil namanya dengan nada lelah tapi hangat.

Tidak ada apa-apa, hanya hamparan tanah luas dan langit pucat yang tak mengenalnya.

“Ayah...?” panggilnya lagi, lebih pelan.

Dadanya terasa sesak, tapi Aesira belum menangis. Ia belum mengerti bahwa menunggu tidak akan mengembalikan siapa pun. Anak berusia sembilan tahun belum tahu bagaimana cara berduka—ia hanya tahu kehilangan terasa salah.

Ia mulai berjalan.

Langkahnya kecil dan ragu, seolah jika ia melangkah terlalu jauh, rumahnya akan semakin menjauh. Setiap beberapa langkah, ia menoleh ke belakang.

Masih kosong.

Saat matahari mulai turun, rasa lapar datang lebih dulu daripada rasa takut. Aesira duduk memeluk lututnya, mencoba mengingat apakah tadi pagi ia sudah makan atau belum. Ingatannya terasa berlubang—seperti ada bagian yang dicabut paksa.

Air matanya akhirnya jatuh.

“Salahku ya...?” bisiknya, tanpa tahu kepada siapa ia berbicara.

“Aesira pasti salah... makanya rumahnya pergi...”

Angin bertiup lebih kencang, membawa debu dan bau asing. Aesira meringkuk, tubuh kecilnya gemetar. Dingin menyelinap ke tulang, dan kelopak matanya terasa berat.

Ia tidak tahu bahwa tubuhnya sudah seharusnya menyerah.

Namun saat kakinya terhuyung dan ia jatuh berlutut, tanah di sekitarnya retak lebih dulu. Retakan itu tidak menyakitinya—justru menjauh darinya, seperti sesuatu yang sengaja menghindari tubuhnya.

Aesira terdiam.

Ia menatap tanah yang pecah, bingung.

“...kenapa...?”

Ia mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh retakan itu. Tanah berhenti bergerak, seolah takut.

Aesira menarik tangannya cepat-cepat.

“Aesira nggak apa-apa,” gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan rasa takut yang belum ia pahami. “Ini cuma... tanahnya yang nakal.”

Malam datang.

Aesira tertidur di atas tanah dingin, memeluk jaket tipis yang sudah robek. Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang rumah—tapi setiap kali ia membuka pintu, rumah itu runtuh sebelum sempat ia masuk.

Keesokan paginya, ia terbangun dalam keadaan masih hidup.

Tidak sakit. Tidak terluka. Tidak mati.

Seorang lelaki tua menemukannya di siang hari, berdiri di kejauhan dengan mata melebar. Ia menatap Aesira seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

“Kau... dari mana, Nak?” tanyanya ragu.

Aesira mengangkat wajahnya, mata merah dan bengkak.

“Dari rumahku,” jawabnya jujur.

“Rumahku... hilang.”

Lelaki itu menoleh ke sekeliling, lalu kembali menatap Aesira. Tidak ada kota di sini. Tidak pernah ada.

“Tidak ada rumah di wilayah ini,” katanya pelan.

Aesira menggeleng kuat, air mata kembali mengalir.

“Ada,” bantahnya lirih. “Ada... lalu menghilang saat Aesira melamun menunggu ibu...”

Untuk pertama kalinya, lelaki itu merinding—bukan karena kata-kata Aesira, tetapi karena tanah di bawah kakinya bergetar halus, seolah dunia sendiri menahan napas.

Dan Aesira Sigourney, anak kecil yang kehilangan segalanya, belum tahu satu hal penting: bahwa dunia akan terus bergetar selama ia masih berusaha bertahan hidup.