Tidak ada lonceng kematian yang berbunyi ketika kota itu runtuh. Tidak ada tanda dari langit, tidak pula peringatan dari para pendeta. Dunia tidak memberi aba-aba apa pun—seolah kehancuran adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang tak perlu dicatat. Aesira Sigourney saat itu baru berusia sembilan tahun.
Ia duduk di ambang jendela rumah kayu kecil milik keluarganya, menghitung burung yang melintas di langit kelabu. Angin musim dingin menyusup melalui celah-celah papan, membawa bau tanah basah dan besi tua. Kota mereka selalu seperti itu—sunyi, sederhana, dan terlalu kecil untuk dianggap penting oleh siapa pun di luar temboknya.
Aesira tidak tahu bahwa pagi itu adalah pagi terakhir kota itu bernapas.
Ibunya sedang merebus air, ayahnya belum pulang dari menara penjaga, dan Aesira memeluk lututnya sambil menunggu suara langkah kaki yang tak pernah datang. Di kejauhan, tanah bergetar pelan—bukan gempa, bukan badai—melainkan sesuatu yang terlalu rapi untuk disebut bencana. Lalu terbelah tanpa suara.
Retakan hitam membentang seperti luka yang disengaja, dan cahaya asing jatuh menimpa atap-atap rumah. Orang-orang menoleh ke atas, bingung, sebelum satu per satu tubuh mereka terhempas oleh kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan doa atau logika. Aesira berdiri terpaku.
Ia tidak berteriak. Tidak menangis. Tubuhnya terlalu kecil untuk memahami bahwa dunia sedang mencabut akarnya sendiri.
Saat bangunan runtuh dan api menjilat udara, Aesira terjatuh, kepalanya menghantam lantai, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—ia seharusnya mati, namun kematian tidak datang.
Sebaliknya, tanah di sekelilingnya ambruk lebih dulu, menelan rumah, jalan, dan suara-suara yang ia kenal. Kota itu runtuh seperti mengorbankan dirinya sendiri, membungkus tubuh kecil Aesira dalam keheningan yang mustahil.
Ketika ia membuka mata kembali, hari telah berubah. Tidak ada kota. Tidak ada reruntuhan. Tidak ada mayat. Hanya hamparan tanah kosong, dingin, dan sunyi—seolah tempat itu tidak pernah dihuni oleh siapa pun.
Aesira berdiri sendirian, Namanya masih sama. Wajahnya masih miliknya. Tetapi dunia… tidak lagi mengenalnya.
Di kejauhan, angin bertiup melewati tanah yang tidak memiliki ingatan. Dan tanpa Aesira sadari, sejak hari itu, sesuatu dalam hukum dunia telah patah—dan tidak akan pernah pulih selama ia masih hidup.