Arga pulang dengan pikiran kacau. Setibanya di kamar, ia mencoba mengulang sensasi aneh tadi. Ia berdiri, memejamkan mata, memikirkan halte… dan tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik ke dalam angin besar. Udara terkompresi, dadanya sesak, lalu pop! ia muncul tepat di samping halte yang basah.
Ia terpaku. “Ini… teleportasi?”
Kakinya goyah, tubuhnya gemetar. Meski takut, ada perasaan takjub yang menari-nari di dadanya. Namun ia juga tahu—tak ada orang yang bisa memahami hal semacam ini begitu saja. Ia memutuskan merahasiakannya.