Hujan turun begitu deras sore itu. Arga berdiri di bawah halte yang hampir roboh karena usia, menunggu hujan mereda. Angin menderu, udara dingin menusuk kulit. Tiba-tiba petir menyambar sangat dekat—begitu dekat hingga membuat tanah bergetar. Cahaya putih membungkus tubuh Arga seperti kabut terang.
Dalam sekejap pandangannya gelap. Ketika ia membuka mata, ia berbaring di lantai kasar atap gedung sekolah. Angin kencang menerpa wajahnya, membuatnya sadar bahwa ia tidak lagi berada di halte. Ia berdiri sambil memegang kepala. “Apa yang… terjadi?”
Yang lebih aneh, tak ada seorang pun melihatnya datang. Ia seperti muncul dari udara kosong.