"Ciee, kasian amat kayak gembel nunggu jemputan."
Aduh, suara menjengkelkan itu lagi. Suara dari musuhku sejak kelas 7 hingga sekarang kelas 10. Tiap liat Khalid—atau yang kerap kupanggil keset saking nyebelinnya—mood-ku selalu rusak.
“Apaansih lo, gausah sok asik,” gumamku sambil menepis air hujan yang menetes di seragamku.
Tiba-tiba saja dia membuka payung berwarna hitam dan menghampiriku. “Mau pinjem payung gak?” katanya dengan alis terangkat satu.
Aku langsung menolak tawaran dia. “Nggak,” ucapku.
Aku melirik jalanan, berharap orang tuaku segera menjemput. Seharusnya sudah dari tadi, tapi tiba-tiba muncul notif di HP-ku: “Maaf Yisa, kamu gojek bisa nggak? Mama sama ayah kejebak macet, nak.”
Selesai sudah nasibku. Aku benar-benar bingung. Mataku melirik kanan-kiri berharap keajaiban instan datang.
Khalid menatapku dari sela-sela pepohonan depan halte. “Yakin masih mau nunggu?”
Aku menjawabnya, “Kalau gue bilang iya, lo pergi nggak?”
“Enggak. Gue nungguin lu sampe bener-bener dijemput.”
“Gausah sok peduli kali,” ucapku sambil membuang muka.
Dengan santainya dia menjawab dengan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Udah, ayo bareng gua. Kita juga searah, kan?”
Pikiranku campur aduk. Perasaan bimbang antara menolak atau terpaksa karena seragamku sudah basah kuyup dan aku juga kedinginan.
“Nanti kalau ada apa-apa di jalan, lo tanggung jawab ya,” kataku akhirnya—yang secara tidak langsung menyetujui ajakannya.
“Oke, deal.”
Kami berjalan menuju parkiran motor di samping sekolah sambil membawa payung yang terasa terlalu kecil buat dua orang.
Tibalah kami di parkiran motor milik Abah Rahman, parkiran yang menjadi markas para lelaki sepulang sekolah. Khalid memberiku helm yang dia pinjamkan dari temannya.
“Gue gamau dipakein helm sama preman kelas kayak lo,” gumamku ketus.
“Yaelah tenang aja kali, gua cuma mastiin biar kepala lu aman. Kalau lo kenapa-napa ntar gua dimarahin si bunda.”
Khalid memang dekat dengan bundaku. Dari TK sampai SMA aku selalu bersamanya. Ibuku dan ibunya sahabat dari SMA, jadi wajar kalau dia ngerti perasaan ibuku.
Aku pasang helm itu. Tapi ketika melihat kaca spion, aku kelihatan seperti kepala bayi alien.
Khalid naik duluan, lalu menengok ke arah kaca spion yang sedang kupakai mengaca.
“Woi, naik dong. Mau pulang nggak?”
“Aduh bisa sabar gak sih? Lo gak liat helm gue kebesaran?” gerutuku.
“KWWKWKW lagian itu kepala apa tomat, kecil amat,” serunya.
Aku ingin marah, tapi kutahan karena sadar aku masih akan bersamanya di motor.
Aku naik pelan. Tanganku bingung mau ditaruh di mana. Pegangan pinggang? Enggak lah, itu kemustahilan dalam sejarah hidupku. Akhirnya aku memegang tasku sendiri yang kutaruh di bagian depan agar jadi pembatas antara aku dan Khalid.
Khalid melihat wajahku dan tertawa puas. “Tolong lah, kalau lo sebenci itu sama gua jangan sampai bikin diri lo tersiksa juga.”
“Gue gak biasanya begini, Set. Lo juga satu-satunya cowo yang bonceng gua,” jawabku.
“Kalau lo gak nyaman, pegang hoodie gua aja.”
Akhirnya dengan gengsi setinggi Monas, pelan-pelan aku pegang ujung bajunya.
Khalid langsung bersuara, “Weh, pelan amat neng megangnya. Kayak nangkep ikan aja lo, pelan-pelan segala.”
“Diam deh lo.”
“Awas lo kalau narik sampe bajunya melar.”
“DIAM.” Nada tinggiku keluar.
“Eh tapi gapapa sih kalau melar juga. Gua tinggal bilang ‘ini bekas orang yang selalu ngomelin gua tiap hari.’”
Saat itu rasanya aku mau menjambak rambutnya sampai botak, tapi aku sadar kami lagi di atas motor. Sumpah, semesta terasa tidak adil di momen itu.
Motor berhenti di depan rumahku. Khalid segera mematikan motornya. Baru saja melepas helm, mamaku langsung membuka pagar.
“Loh, sama Khalid toh, Dek?” kata ibuku heran.
“Iya bun, tadi Yisa udah kedinginan nungguin jemputan, jadi saya antar,” ucap Khalid.
“Oalah... iya tadi tante sama om gak bisa jemput soalnya kejebak macet pas perjalanan pulang. Makasih ya Khalid udah nganter Yisa. Mau mampir dulu gak?” tanya ibuku panjang lebar.
“Hehehe, maaf ya bun. Hari ini Khalid mau ke les. Mungkin kalau ada waktu nanti Khalid mampir,” katanya dengan wajah polos.
“Gausah mampir deh. Ntar Miko ada, nggak mau ngelepasin lo lagi,” kataku.
Miko adalah hamster yang kurawat sejak dulu. Hamster itu kubeli atas rekomendasi Khalid. Tiap kali dia ke rumah, Miko pasti nempel kayak perangko.
“Aduh Yisa, gapapalah Khalid main ke rumah. Lagian kamu juga gak ada temennya di rumah. Terus juga kamu belum ngucapin terima kasih ke Khalid kan?”
Deg.
Benar kata ibuku. Aku belum bilang terima kasih.
“Makasih, Set. Besok-besok gue repotin lagi,” ujarku dengan nada ngeselin.
Khalid tertawa kecil. “HAHAHAHA, gapapa lah kalau lo yang ngrepotin.”
Jantungku berdetak kencang. Semakin kupikir kata-kata terakhirnya sebelum dia pergi, semakin aku gila. Setelah mandi, aku berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa supaya nggak terlalu mikirin dia.
Esoknya ketika masuk sekolah, aku dan Khalid kembali berubah menjadi Tom and Jerry seperti biasanya. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak terlalu membencinya, karena kadang... dia adalah penolong sekaligus pelawak di hidupku.