Tiara adalah namaku orang-orang sering menyebutku 'si pendiam', sejak kecil aku tak pernah merasakan perasaan apa pun, dunia hanya terlihat dan terasa...ya sudah begitu, dokterku berkata bahwa aku mengalami alexithymia, dimana aku tak dapat mengerti dan memahami perasaan orang lain dengan akurat, dan ya aku rasa memang seperti itu.
Inilah adalah hari pertamaku masuk SMA di sidoarjo, para guru menyambut dan mengarahkan murid-murid ke kelas mereka masing-masing, aku diarahkan ke kelas A sudah banyak anak yang hadir di kelas itu, aku duduk di salah satu bangku yang kedua kursinya kosong, tak lama kemudian ada anak yang menghampiriku dan bertanya apakah dia boleh duduk di sebelah k.
"Permisi..aku boleh duduk disebelahmu ngga?" Kata anak itu
Tiara hanya menganggukan kepalanya dengan muka datar, gadis itu pun duduk di sebelahnya. Gadis itu merasa canggung, namun akhirnya dia memulai pembicaraan terlebih dahulu
"Namaku Amel, kalo kamu siapa?" Kata Amel dengan nada pelan
"Tiara, 15 tahun, dari wonoayu, 13 juli, merah" Jawab Tiara singkat
"O-Oh..okee?nama kamu bagus ya..salam kenal yaa aku 16 tahunn" jawabku, Aku Amel baru saja berbicara dengan anak ini, dia...unik ya? Tapi sepertinya menarik.
Ketika guru masuk mereka pun saling berkenalan, begitu juga denganku dan Tiara, lalu pelajaran akhirnya dimulai, untuk hari pertama pelajarannya ringan, kita juga dipulangkan awal, itu lah kesempatanku untuk semakin dekat dengan Tiara, aku menggenggam tangannya dan berkata
"Jangan pulang dulu ya? Kita pergi beli jajanan yuk? Plisss" kataku mencoba membujuk gadis ini
"Boleh" Jawab Tiara
Kita pergi membeli jajanan di toko-toko dekat sekolah hari ini, begitu juga hari-hari seterusnya. Amel mencoba untuk membuat topik baru setiap hatinya mengajaknya jalan-jalan melihat sunset, dan banyak lagi, aku menemaninya setiap hari, jujur saja walaupun dia tak banyak bicara dia anak yang jujur, baik, dan pendengar yang baik. Kita membuat kenangan indah bersama, lama-lama ia mulai tersenyum dan tertawa ketika pertama kali Tiara tersenyum aku merasakan perasaan yang amat sangat senang di hatiku.
"Amel..terima kasih sudah menemaniku selama ini.." kata Tiara yang tersenyum lebar kepada Amel
"Hehe, iya kamu kan temanku?" Kata Amel
Begitu lah hari-hari mereka berjalan dengan baik hingga mereka memasuki kelas dua...tentu kebahagiaan yang hangat, lembut dan menyenangkan, tak ada yang pernah bertahan lama. Amel perlahan-lahan menjauh dari Tiara tak tau sebabnya apa Tiara merasa aneh..
"Amel-..." panggil Tiara
Namun...Amel malah menjauh pergi, dia menghindariku? Kenapa??? Aku tak tau sebabnya apa apakah karena aku terlalu banyak bicara? Atau aku membosankan? Setiap hari hatiku selalu bertanya alasannya..ku tak bisa melepaskan pikiran ini dari ku...saat ku memaksa Amel untuk memberitahu alasannya ia malah berkata.. "semua manusia berubah." Dan saat itu aku merasakan perasaan yang sangat sangat aneh..sakit..dadaku sesak dan berat..rasanya aku ingin menghilang saja.
Setiap hari tubuhku rasanya berat, bergerak sedikit saja rasanya lelah, ku teringat terus tentang kenangan menyenangkan kita, aku terus bertanya kenapa? Apakah manusia memang seperti ini? Kalau iya...lebih baik ku tak pernah mengenal nya, begitu juga dengan emosi² ini..apakah aku tak sepenting itu? lama kelamaan tubuh melemah..aku sering sakit sakitan
"Tau kalau aku lemah,lebih baik aku tak pernah mengenal emosi saja.."
Tiara berdiri di tepi jembatan yang ia sering kunjungi bersama Amel..ia meratap langit oren cerah dengan warna ungu yang terlihat indah..burung-burung berterbangan, suara desiran air yang lembut di bawah jembatan, matahari yang perlahan tenggelam menggantikan langit indah itu menjadi gelap. Tatia berdiri di atas batas jembatan itu perlahan melangkah maju..