Penulis: Putri Aisyafira Ramadhani

Simfoni Hati yang Baru


Elara menyentuh Seruling Awan. Kali ini, dia tidak mencoba mengingat nada. Dia menutup mata dan membiarkan dirinya merasakan segalanya:

Dia merasakan embun dingin yang tidak lagi menyegarkan.

Dia mencium aroma bunga yang layu.

Dia merasakan beban kata-kata Kakek Finn.

Dia merasakan kehangatan dan kepercayaan Zephyr di sisinya.

Dia menyatukan semua rasa itu ke dalam napasnya dan meniup seruling.

Melodi yang keluar adalah simfoni yang sama sekali baru. Ada nada-nada rendah, berat seperti kekhawatiran, disusul oleh nada-nada cepat, ringan seperti tawa anak-anak yang dia ingat. Ada rintihan angin yang berduka, diselingi gemericik air sungai yang berjanji untuk mengalir lagi. Itu adalah perpaduan antara kesedihan, kegelisahan, dan optimisme yang membara. Itu adalah Lagu Lumina Masa Kini.

Saat Elara bermain, hal yang menakjubkan terjadi. Naga Penjaga Awan melayang ke atas, sayapnya menangkap cahaya yang perlahan kembali. Awan-awan di atas Lumina mulai bergerak. Warna-warna pucat berangsur-angsur digantikan oleh cahaya terang yang penuh warna: hijau zamrud, emas, dan ungu lavender. Awan-awan itu tampak menari mengikuti irama hati Elara.

Naga: (Suaranya kini penuh sukacita) "Kau menemukannya, Elara! Lagu yang jujur dan hidup! Pertahankan lagu itu, karena keajaiban haruslah jujur!"

Sesaat sebelum fajar, Elara menyelesaikan lagunya. Naga itu membungkuk hormat padanya, sebuah isyarat yang mulia, dan kemudian terbang melesat, menghilang di antara Awan Bercahaya yang kini kembali penuh.