Penulis: Putri Aisyafira Ramadhani

Pertemuan dengan Penjaga Awan


Di Puncak Bisikan Angin, Elara mencoba memainkan melodi dari lubuk hatinya, sebuah improvisasi yang penuh rasa takut, kerinduan, dan cinta yang mendalam untuk lembahnya. Melodi yang melankolis namun penuh semangat itu melayang ke langit.

Saat nada terakhir berdesir, hembusan angin dingin menyapu puncak bukit, bukan angin biasa, melainkan angin yang membawa aroma embun beku dan lavender. Dari kegelapan, muncul sesosok makhluk yang luar biasa: seekor naga, tetapi bukan naga yang haus api. Naga itu memiliki sisik seputih salju murni dan sayap yang transparan, tampak terbuat dari embun beku dan cahaya bulan. Matanya bersinar biru lembut.

Elara membeku, Seruling Awan masih di bibirnya. Zephyr di sebelahnya tidak melarikan diri, tetapi justru berdiri tegak, mengeluarkan geraman rendah. 

Elara: (Berbisik)"Si-siapa... kau?" Naga itu melayang perlahan, suaranya terdengar seperti lonceng kristal yang berdesir di angin musim dingin.

Naga: "Aku adalah Penjaga Awan, yang lahir dari embun dan mimpi kuno. Aku telah tidur di puncak ini selama berabad-abad, menanti melodi yang benar. Melodimu, Elara, telah membangunkanku." 

Elara: "Melodi yang benar? Aku telah gagal. Awan memudar, dan aku tidak tahu cara mengembalikannya."

Naga: "Melodi yang kau mainkan sekarang... itu mendekati kebenaran. Melodi yang diajarkan nenek moyangmu adalah untuk awan-awan yang lama, awan yang hanya mengenal kedamaian abadi. Namun, dunia ini tidak lagi sama. Ia penuh dengan hiruk-pikuk, ketakutan, dan perubahan."

Elara: "Tapi, bagaimana aku bisa tahu lagu itu? Aku hanya tahu yang diajarkan!"

Naga: "Lagu itu tidak ada dalam buku, Elara. Lagu itu ada di dalam dirimu. Awan-awan ini, mereka bukan hanya air dan cahaya. Mereka adalah cerminan kolektif dari hati Lumina. Mereka merindukan sebuah lagu yang berasal dari kedalaman hatimu sendiri, yang mencerminkan harapan dan ketakutanmu, bukan hanya ingatan."

Zephyr: (Melompat ke depan) "Dia benar, Elara! Melodimu yang sekarang, itu terasa jujur. Jangan takut untuk merasakan apa yang kau rasakan."

Naga: "Sentuh Seruling Awanmu. Rasakan kerinduan lembahmu, kebahagiaan yang pernah ada, kesedihan karena kehilangan, dan harapan yang membara untuk masa depan. Semua itu adalah bagian dari Lumina. Mainkanlah hatimu, bukan hanya serulingnya."