Di balik pegunungan es, terletaklah Lumina, sebuah lembah tersembunyi yang selalu diselimuti Awan Bercahaya berwarna lembut, sumber kehidupan dan kesuburan. Keajaiban ini dipertahankan oleh Seruling Awan, dimainkan oleh penjaga yang diwariskan secara turun-temurun. Penjaga saat ini adalah Elara, seorang gadis remaja dengan tanggung jawab yang berat.
"Zephyr, lihatlah," bisik Elara, jarinya menunjuk ke langit. "Mereka semakin kusam. Bahkan warna ungunya yang paling terang pun mulai pudar."
Rubah biru kecil, Zephyr, mengangkat telinganya. "Aku merasakannya, Elara. Ada keheningan dalam udara. Melodimu... apakah kau yakin tidak ada nada yang salah?"
Elara memegang Seruling Awan, instrumen kayu kuno yang terasa hangat di tangannya. "Aku memainkan Melodi Kehidupan Tiga Nada persis seperti yang Nenek ajarkan. Nada yang mengikat awan dan bumi. Tapi hasilnya berbeda."
Di desa, kekhawatiran berubah menjadi kepanikan. Kakek Finn, tetua desa dengan janggut seputih salju, mendatangi Elara di bawah pohon apel yang daunnya kini tampak layu.
Kakek Finn: "Elara, ini sudah minggu ketiga. Sungai kecil mulai dangkal. Jika Awan Bercahaya lenyap, Lumina akan menjadi gurun es. Kau harus berbuat sesuatu!"
Elara: "Aku sedang berusaha, Kakek Finn. Aku berlatih setiap malam. Aku bahkan mencoba Melodi Panen Sunyi—melodi yang hanya digunakan saat panen melimpah—tapi tidak ada yang berhasil."
Kakek Finn: "Jangan main-main dengan melodi lama! Mereka memiliki kekuatan yang tidak kita mengerti. Dengarkan aku. Kau adalah penjaga, dan tugasmu adalah melindungi kami! Kau harus menemukan akar masalahnya!"
Malam itu, beban harapan Lumina terasa begitu berat di pundak Elara. Dia memutuskan untuk pergi ke Puncak Bisikan Angin, tempat tertinggi di lembah, untuk mencari inspirasi, atau setidaknya, kedamaian.