Pagi hari di Lumina, desa dipenuhi dengan sorakan. Awan-awan kembali bersinar terang, memancarkan cahaya yang hangat. Daun-daun di pohon apel Kakek Finn seketika menjadi hijau cerah lagi.
Kakek Finn bergegas ke arah Elara, matanya berkaca-kaca.
Kakek Finn: "Elara! Apa yang kau lakukan? Cahaya itu! Belum pernah aku melihatnya sekuat ini!"
Elara: (Tersenyum, memeluk serulingnya) "Aku tidak memainkan apa yang sudah diajarkan, Kakek. Aku memainkan apa yang kurasakan. Aku memainkan Lumina yang sekarang, dengan semua ketakutan dan harapan kita."
Sejak hari itu, Elara tidak lagi hanya memainkan melodi yang diwariskan. Dia memainkan Simfoni Perasaan, melodi yang berubah setiap hari, setiap musim, karena dia tahu bahwa Lumina, seperti hati setiap makhluk, tidak pernah diam. Dia menjadi penjaga yang menyadari bahwa tradisi adalah penting, tetapi kebenaran hati adalah yang abadi.
Dan setiap malam, di Puncak Bisikan Angin, Elara memainkan lagu hatinya, ditemani oleh Zephyr, memastikan bahwa Awan Bercahaya akan selalu menjadi cerminan sejati dari Lembah Lumina.