Penulis: 9J

Pagi yang Penuh Kejutan


Tara bangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa, hari itu badannya terasa ringan dan hatinya bahagia tanpa alasan. Ia membuka jendela kamar, dan angin pagi langsung menyapa wajahnya.

 

Di luar, burung-burung berkicau seperti sedang bikin konser kecil.

Tara tersenyum.

“Wah, alam aja ceria, masa aku enggak?”

 

Setelah sarapan, Tara berangkat sekolah sambil naik sepeda. Di tengah jalan, ia melihat anak kecil yang balonnya hampir terbang. Dengan refleks, Tara menangkap balon itu—dan anak kecil itu langsung berteriak senang.

 

“Mbak hebat! Kayak superhero!” katanya sambil tertawa.

 

Tara ikut tertawa. “Superhero yang takut kecoa, iya!”

 

Di sekolah, suasana makin ceria ketika wali kelas datang membawa kotak besar.

 

“Anak-anak! Hari ini kita belajar di luar ruangan!”

 

Semua langsung bersorak. Tara juga.

Pelajaran berpindah ke taman sekolah yang sejuk, penuh pohon, rumput hijau, dan suara daun bergesekan. Mereka belajar sambil duduk di tikar, dan teman-teman Tara saling tukar bekal snack.

 

Yang lebih seru lagi… teman sebangkunya, Rafi, membawa es lilin buatan neneknya.

 

“Cobain. Rasanya stroberi asli,” katanya.

 

Tara menggigit sedikit. Matanya langsung berbinar.

“Ini enak banget! Kayak rasa bahagia dimasukin freezer!”

 

Rafi ngakak. “Perumpamaan macam apa itu?”

 

Sepulang sekolah, Tara kembali mengayuh sepeda. Semua terasa menyenangkan hari itu. Bahkan matahari sore pun seperti tersenyum hangat.

 

Sesampainya di rumah, ibunya sudah menyiapkan teh hangat dan roti bakar.

Tara duduk dan menghela napas lega.

 

“Bu, hari ini… semuanya indah banget,” katanya.

 

Ibunya tersenyum sambil mengelus kepalanya.

“Kalau kamu bangun dengan hati ceria, dunia memang ikut ceria, Nak.”

 

Tara mengangguk.

“Jadi… mungkin aku harus ceria lebih sering.”

 

Dan sore itu ditutup dengan tawa, makanan hangat, dan rasa syukur yang membuat hati Tara terasa penuh.