Penulis: 9J

Karya Terakhir Ibu


Rara selalu suka menggambar. Di kamar kecilnya, kertas-kertas penuh coretan warna bertebaran di lantai, lemari, bahkan menempel di dinding. Ibunya sering berkata sambil tertawa:

 

“Rara, kamarmu itu galeri seni atau kapal pecah?”

 

Tapi tak peduli bagaimana berantakannya kamar itu, ibu selalu memuji setiap gambar Rara.

“Suatu hari kamu akan bikin karya yang sangat berharga,” katanya.

 

Rara percaya.

 

Hingga Hari Itu

 

Suatu pagi, Rara pulang dari sekolah dan mendapati rumahnya penuh orang. Wajah ayah pucat. Semua terasa kabur.

 

Ibu… meninggal. Mendadak.

 

Rara merasa seperti dunianya runtuh.

Sejak hari itu, ia berhenti menggambar. Pensil warna yang dulu selalu ia genggam kini hanya tergeletak di meja.

 

Kotak Kayu Kecil

 

Beberapa minggu kemudian, ayah masuk ke kamar Rara sambil membawa sebuah kotak kayu kecil.

 

“Ayah baru menemukannya di lemari Ibu,” katanya. “Sepertinya… untuk kamu.”

 

Tangan Rara gemetar saat membuka kotaknya.

 

Di dalamnya ada sebuah kertas tebal, terlipat rapi.

 

Saat dibuka, Rara melihat gambar dirinya—sangat indah, penuh detail. Ia tampak sedang tertawa, dengan rambut berkibar dan bunga kecil terjepit di telinga.

 

Di bawah gambar tertulis tulisan tangan ibu:

 

“Ini anakku, pelukis masa depan.

Ini karyaku yang paling berharga.”

 

Rara menutup mulut, menahan tangis yang pecah begitu kuat.

Ternyata, dari semua gambar dan karya yang pernah ia buat…

baginya ibu adalah sumber inspirasi,

tapi bagi ibu—dirinyalah karya paling berharga yang pernah diciptakan.

 

Hari Baru

 

Sejak hari itu, Rara kembali menggambar. Tapi kali ini berbeda.

Setiap goresannya, setiap warna yang ia pilih… terasa seperti ada tangan lembut ibu yang memandunya.

 

Dan ketika ia menang lomba seni untuk pertama kalinya, ia membawa gambar ibunya naik ke panggung.

 

“Aku berdiri di sini,” katanya sambil menahan air mata,

“karena karya paling berharga Ibu adalah aku… dan karya paling berharga aku adalah melanjutkan mimpinya.”