(Kabut Gelap Hutan Gupit)
Di sebuah desa di pinggiran Gunung Lawu, ada hutan kecil yang disebut warga sebagai Alas Gupit. Orang tua melarang siapa pun masuk setelah Magrib, karena katanya di sana tinggal Singup—makhluk halus yang suka meniru suara manusia.
Rani, siswi SMA yang baru pindah dari kota, awalnya tidak percaya hal begituan. Tapi ia penasaran karena setiap malam ia mendengar suara perempuan memanggil dari arah hutan:
“Raniii… tolong aku… Raniii…”
Padahal ia tak mengenal siapa pun yang bisa memanggil namanya.
Malam Pertama: Suara dari Pohon Randu
Malam itu listrik padam. Rumah Rani gelap gulita. Dari jendela belakang, ia melihat pohon randu besar bergoyang perlahan meski angin tak terasa.
Lalu terdengar suara lirih:
“Ndok… bukain pintu, ndok…”
Suara itu mirip suara ibunya.
Tapi ibunya sedang di luar kota.
Rani menggigit bibir.
“Bu…?”
Tak ada jawaban. Hanya bunyi “kruk… kruk…” seperti tulang yang digesek.
Ketika ia mendekat ke jendela, tiba-tiba sepasang mata hitam memantul dari balik pohon randu, menatap tajam ke arahnya.
Rani lari dan mengunci pintu.
Malam Kedua: Jejak Kaki Basah
Paginya, nenek tetangga memperingatkan:
“Kalau di Alas Gupit ada suara yang kamu kenal… jangan disahuti. Itu bukan manusia.”
Rani mengangguk, tapi malam berikutnya suara itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat.
“Raniii… sini… ikut aku…”
Ia pura-pura tidak mendengar.
Tapi lantai kamarnya tiba-tiba basah.
Jejak kaki basah… mengarah dari pintu menuju kasurnya.
Seperti ada seseorang baru masuk dari hujan.
Tapi di luar tidak hujan.
Rani menahan napas. Jejak itu berhenti tepat di samping tempat tidurnya.
Di kegelapan, terdengar napas kasar:
“Heh… ketemu kowe…”
(Heh… ketemu kamu…)
Rani menjerit tetapi suaranya seperti ditahan sesuatu, hanya keluar lirih.
Rahasia Alas Gupit
Besoknya, Mbah Tugin—dukun tua desa—datang ke rumahnya.
“Kamu harus cerita. Suara itu mirip siapa?”
Rani menggigil.
“Mirip ibu saya… tapi juga bukan. Seperti… ditarik-tarik.”
Mbah Tugin terdiam lama.
Lalu berkata, “Singup itu makhluk yang bisa mengambil suara terakhir orang mati di hutan. Kalau ada yang pernah mati tersesat, suaranya disimpan makhluk itu… buat narik korban baru.”
Rani merasa dadanya dingin.
Dua tahun lalu… ibu tirinya hilang saat mendaki area yang terhubung ke Alas Gupit.
Malam Ketiga: Panggilan Asli
Malam itu, suara kembali datang.
Tapi kini terdengar lebih jelas.
“Rani… ini Ibu… jangan takut…”
Rani menutup telinga.
“Bukan Ibu! Kamu bukan Ibu!”
Suara itu berubah lirih… sedih… tepat seperti suara ibu tirinya dulu.
“Rani… maafkan Ibu… jangan tinggalin Ibu sendirian di sini… dingin, Nduk…”
Hatinya goyah. Air mata mengalir.
Tapi tiba-tiba suara itu berubah drastis, parau dan dalam:
“METU KENE… METU!!”
(KELUAR SINI!!)
Jendela kamar terbanting terbuka, angin hitam menerobos masuk.
Rani melihat sosok tinggi, kurus, berkulit hitam legam… wajahnya seperti kain basah diikat kuat.
Dan dari celah kain itu… suara ibunya teriak minta tolong.
Singup itu bukan hanya meniru suara.
Ia menyimpan suara manusia yang mati di hutan itu.
Akhir: Bisikan yang Tak Pernah Hilang
Mbah Tugin berhasil menutup kamar Rani dengan doa dan kemenyan, dan makhluk itu menghilang.
Tapi sampai hari ini… setiap malam tepat jam 12, Rani masih mendengar:
“Nduk… ibumu kedinginan… temani Ibu… masuklah ke hutan…”
Kadang suaranya lembut.
Kadang suaranya pecah seperti tulang retak.
Dan dari arah Alas Gupit, selalu terlihat bayangan kurus tinggi berdiri menunggu… seperti tahu bahwa suatu hari Rani akan keluar juga.