Penulis: 9J

Cinta di Balik Gorengan


Raka adalah siswa paling cuek sedunia. Tapi ada satu hal yang bisa bikin dia langsung serius: gorengan. Apalagi bakwan renyah di kantin Bu Sari. Dan entah kenapa, setiap kali ia beli, selalu ada satu orang yang ikut rebutan: Alya.

 

Suatu hari, hanya satu bakwan terakhir yang tersisa.

 

Raka dan Alya menatap bakwan itu… lalu saling menatap satu sama lain… seperti adegan film, tapi versi anak sekolah dan lebih lapar.

 

“Aku duluan!” kata Raka sambil mengulurkan tangan.

 

“Enggak! Aku yang antre dulu!” protes Alya.

 

Bu Sari cuma geleng-geleng. “Sudah, bagi dua saja.”

 

Alya langsung bilang, “Nggak bisa Bu, bagi dua itu dosa… bikin pertemanan retak!”

 

Akhirnya mereka memutuskan lomba paling aneh:

Siapa yang bisa menebak angka yang Bu Sari pikirkan, dia yang dapat bakwan terakhir.

 

Bu Sari: “Oke, aku sudah pilih angka 1–10.”

 

Raka: “6!”

 

Alya: “2!”

 

Bu Sari: “Yang benar… 7.”

 

Mereka berdua langsung “HAAAAH?”

 

Raka mengerutkan dahi. “Lho Bu, berarti nggak ada yang dapet dong?”

 

Bu Sari senyum nakal. “Enggaklah. Kalian makan berdua aja. Kan dari tadi rebutan terus. Cocok tuh.”

 

Alya dan Raka saling menatap, sama-sama malu.

 

Akhirnya mereka makan satu bakwan berdua, duduk sebelahan di bangku kantin.

Raka menggigit duluan.

Alya ikut menggigit dari sisi lain.

 

Tiba-tiba mereka berhenti—jarak mulut tinggal 5 cm.

 

Raka buru-buru mundur. “A–anu… maaf.”

 

Alya tertawa. “Santai. Kita hampir kayak adegan Lady and The Tramp, versi bakwan.”

 

Sejak hari itu, setiap istirahat mereka selalu beli gorengan bareng.

Dan entah kenapa, tiap kali Alya dapat bakwan terakhir… dia selalu bagi dua.

Katanya sih, “Biar lucu kalau bareng kamu.”

 

Raka cuma nyengir.

Cinta ternyata bisa dimulai dari hal kecil. Bahkan dari… bakwan.