Penulis: 9J

Lorong Belakang Yang Tidak Pernah Dipakai


Di sekolah tua itu, ada satu lorong sempit di belakang perpustakaan.

Lorong itu selalu gelap, dingin, dan lampunya sudah lama mati.

Semua murid dilarang lewat situ.

Tapi suatu sore, setelah kegiatan kelas selesai, Raina harus mengembalikan buku ke perpustakaan. Ketika ia keluar, hujan turun deras. Jalan utama tertutup pagar sementara. Satu-satunya jalan pulang lewat lorong belakang itu.

Guru perpustakaan hanya berkata pelan,

“Kalau kamu lewat situ… jangan menoleh ke kanan.”

Raina merinding.

“Tapi kenapa, Bu?”

Ibu guru tak menjawab. Dia hanya menutup pintu perpustakaan dengan cepat.

Dengan napas berat, Raina melangkah ke lorong.

Gelapnya bukan gelap biasa.

Di sana seperti tak ada udara… tak ada suara…

hanya dentingan hujan dari jauh.

Raina berjalan cepat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga—

Tiba-tiba terdengar suara tap… tap… tap…

Langkah kaki di belakangnya.

Raina mencoba mengabaikan.

Dia ingat pesan guru: jangan menoleh ke kanan.

Tapi suara itu semakin dekat.

Dan anehnya, langkah itu selalu mengikuti langkahnya.

Pelan ketika ia pelan… cepat ketika ia cepat.

Sampai akhirnya langkah itu berhenti tepat di belakangnya.

Diam.

Raina menggigit bibir, napas tercekat.

Kemudian…

Ada suara bisikan di telinganya:

“Kenapa tidak menoleh?”

Suara itu dingin.

Bergetar.

Seolah berasal dari tenggorokan yang patah.

Raina hampir menjerit, tapi ia tetap berjalan lurus tanpa menoleh.

Tapi suara itu muncul lagi, lebih dekat:

“Lihat aku… sebentar saja…”

Raina meremas buku di tangannya.

Kakinya bergetar.

Lalu dari sisi kanan, terdengar suara kuku panjang menggesek dinding:

“kreee… kreeee…”

Seolah sesuatu merangkak sejajar dengannya…

tetapi menempel di dinding…

dan bergerak mengikuti.

Raina tak tahan lagi.

Matanya melirik sedikit ke kanan.

Dan di sana—

Ada sosok panjang, tubuh ramping seperti tulang, tersungkur di dinding.

Kepalanya terbalik 180 derajat, menatap Raina dari bawah,

matanya hitam pekat seperti dua lubang tak berujung.

Mulutnya terbuka perlahan…

dan mengarah ke telinga Raina.

“Sekarang kamu sudah melihatku…”

Raina berlari sekencang mungkin, tak peduli apa pun.

Ketika dia keluar lorong, hujan berhenti.

Lorong kembali sunyi seperti biasa.

Keesokan harinya, ibu guru perpustakaan menemukan buku yang ditinggalkan Raina.

Di sampul belakang, tertulis goresan kuku panjang:

“Kamu harus kembali.”