Suatu hari, kelas 9J kedatangan alat baru dari gudang: penggaris 1 meter warna biru. Tapi anehnya… setiap kali guru meletakkannya di meja, penggaris itu bergerak sendiri kayak punya misi rahasia.
Korban pertama: Rafi.
Saat dia lagi fokus nulis, tiba-tiba…
“TOK!”
Penggaris nyolek punggungnya.
Rafi kaget, “SIAPA?!”
Teman-temannya geleng—semua lagi sibuk.
Rafi duduk lagi.
TOK!
Nyolek lagi.
Rafi langsung berdiri panik, “AKU DIGANGGU PENGGARIS HANTU!”
Satu kelas ngakak nggak karuan.
Korban kedua: Naya.
Dia lagi minum es teh, tiba-tiba penggaris maju pelan… lalu nyentil sedotan.
Es teh Naya tumpah di meja.
Naya teriak, “INI PENGGARIS KURANG AJAR!”
Kelas makin meledak ketawa.
Korban ketiga: Damar.
Dia lagi makan roti diam-diam di bawah meja.
Penggaris tiba-tiba muncul dari bawah seperti ular laut.
PLAK!
Roti Damar ditabok dan jatuh ke lantai.
Damar bengong, “KENAPA HIDUPKU GINI TERUS…”
Bu Aulia masuk kelas dengan muka bingung melihat semua chaos.
“Apa lagi yang terjadi?”
Penggaris itu tiba-tiba melompat ke papan tulis dan menulis sendiri:
“TOLONG, SAYA CAPEK DIBUANG DI GUDANG.”
Satu kelas teriak, “PAAAKUUNGGG!”
Bu Aulia cuma tahan ketawa sambil bilang:
“Kelvin… kamu modifikasi penggaris lagi ya?”
Kelvin mengangkat tangan pelan, “Bu… itu cuma versi beta. Versi final nanti bisa ngepel sendiri.”