Di SMP Nusantara, ada satu loker yang selalu dibiarkan kosong: loker nomor 27. Bukan karena rusak, tapi karena semua siswa tahu kalau loker itu… aneh. Setiap melewati lorong itu saat sore hari, selalu terdengar bunyi “duk… duk… duk…” seperti ada yang mengetuk dari dalam.
Suatu hari, Rani—siswi paling penasaran di kelas 9—dipindah tempat lokernya oleh guru piket. “Kamu pakai loker nomor 27 ya, loker lain penuh,” katanya sambil menyerahkan kunci. Teman-temannya langsung menatap Rani dengan mata besar.
“Ran… itu loker angker,” bisik Siska.
Rani hanya tertawa. “Ah paling kalian lebay.”
Sore itu, ketika semua murid sudah pulang, Rani kembali ke loker untuk mengambil buku yang tertinggal. Lorong sudah sepi, lampu putih redup, dan hanya ada suara kipas angin tua yang berdecit. Dia membuka loker nomor 27 pelan-pelan…
Dan di dalamnya, ada selembar kertas.
Tulisan tangan berantakan: “JANGAN DIBUKA SEBELUM JAM 5.”
Rani bingung. Apa maksudnya? Jam di dinding menunjukkan 4.58. Hanya dua menit lagi.
Tiba-tiba—“duk… duk… duk…”
Suara ketukan dari dalam loker.
Padahal pintunya terbuka lebar.
Detik terasa lama. Jam berubah menjadi 5.00. Dan loker nomor 27 berhenti berbunyi. Angin seolah berhenti, lorong menjadi sunyi sekali.
Pelan-pelan, Rani membuka kertas itu. Ada tulisan baru muncul sendiri, seperti ditulis oleh tangan tak terlihat:
“Terima kasih sudah menunggu. Aku hanya keluar saat jam 5.”
Di bawah tulisan itu, muncul bayangan tangan dari dalam loker—lalu menghilang begitu saja.
Sejak hari itu, loker nomor 27 tak pernah diketuk lagi. Tapi Rani masih menyimpannya…
Dan setiap jam 5 sore, dia selalu merasa ada yang lewat di belakangnya, walau lorong itu kosong.