Hari itu sebenarnya aku malas ke sekolah, tapi karena ada jadwal olahraga, aku jadi semangat sedikit. Soalnya aku suka main bola sama teman-teman. Nah, pas istirahat, kami langsung lari ke gudang kecil dekat lapangan buat ambil bola.
Tapi begitu aku buka pintunya…
Bola kami nggak ada.
Awalnya aku pikir aku salah lihat. Aku sampai jongkok, tengok ke belakang kardus, geser ember, bahkan angkat sapu yang miring-miring itu. Tetap nggak ada. Aku mulai deg-degan karena kemarin aku yang naruh, dan guruku lumayan galak kalau ada barang olahraga yang hilang.
“Fi, jangan-jangan ada yang minjem,” kata Rafi sambil garuk kepala.
“Tapi biasanya kalau minjem kan ditaruh lagi…” jawabku agak pelan.
Akhirnya kami memutuskan buat nyari. Kami jadi kayak detektif, tapi detektif amatir yang bingung sendiri.
Pertama, kami ke kantin. Siapa tahu ada anak yang bawa bola sambil makan bakso. Tapi yang ada cuma ibu kantin yang sibuk nyiapin gorengan. Kami tanya, dan beliau cuma bilang, “Bola? Nggak lihat, Nak.”
Lanjut ke mushola. Tapi tentu saja nggak ada orang main bola di mushola. Kami cuma ketemu sepatu-sepatu berantakan.
Setelah itu kami ke belakang kelas tempat anak-anak biasanya nongkrong. Ada dua anak main kartu, tapi nggak ada bola. Mereka cuma nanya, “Emang kenapa, hilang ya?” Aku cuma ngangguk sambil makin stres.
Terakhir, kami ke kelas 6 karena mereka paling sering minjem barang. Tapi kelasnya kosong. Kami sampai masuk dan ngelihat bawah meja satu per satu. Nggak ketemu juga.
Aku mulai merasa bersalah. “Duh, gimana kalau gurunya marah…,” pikirku. Perutku rasanya nyesek kayak habis lari keliling lapangan tiga putaran.
Pak kami mau kembali ke lapangan sambil pasrah, aku lihat sesuatu bulat di bawah meja piket dekat kantor guru. Aku langsung jongkok.
Dan benar.
Itu bola kami.
Warnanya yang sudah agak pudar dan ada sedikit coretan spidol bikin aku langsung yakin 100% itu bola yang hilang.
Aku manggil Rafi, “Fi! Ketemu! Ketemu!”
Rafi langsung senyum lebar. “Wah, untung bukan dicuri!”
Sepertinya kemarin ada anak yang minjem tapi lupa taruh balik, terus bola itu digelindingin ke bawah meja piket dan nggak ada yang sadar.
Karena waktu istirahat tinggal sedikit, kami cuma bisa main sebentar. Tapi rasanya tetap seru. Bahkan tembakan pertama Rafi malah keluar lapangan sampai kena sandal guru olahraga, dan kami ketawa semua.
Waktu bel masuk berbunyi, aku pegang bola itu erat-erat. Aku janji dalam hati, mulai besok harus lebih hati-hati naruh barang.
Setidaknya hari itu, walaupun sempat panik, berakhir dengan lega.
Dan itu saja ceritanya… ya, nggak terl
alu bagus sih, tapi lumayan panjang hehehe.