Di sekolah SMP Bima Utama, semua siswa tahu satu aturan tak tertulis:
“Jangan gunakan kubikel paling ujung di toilet putri, terutama setelah jam 5 sore.”
Tidak ada yang tahu siapa yang membuat aturan itu, tapi semua mematuhinya… kecuali Naya.
Suatu hari, Naya harus membersihkan ruang kelas untuk tugas piket. Sudah hampir jam 5 sore ketika ia merasa ingin ke toilet. Toilet sekolah sepi; lampunya temaram dan air kerannya menetes pelan—tik… tik… tik…—membuat suasana tidak nyaman.
Naya masuk. Semua kubikel penuh… kecuali kubikel terakhir.
Ia menghela napas.
“Ah, masa cuma cerita doang sih,” gumamnya.
Ia masuk ke kubikel itu.
Saat baru menutup pintu, tiba-tiba lampu toilet tampak bergetar, berkedip pelan. Namun ia mencoba mengabaikan. Sampai ia mendengar suara yang tidak seharusnya ada.
Dari kubikel sebelah—yang kosong—terdengar suara seseorang berbisik:
“Kamu sendirian…?”
Naya terdiam.
Ia melihat ke bawah—celah kaki kubikel itu kosong, tidak ada siapa-siapa.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
“Bolehkah aku pinjam cerminmu…?”
Naya menahan napas. Ia berpikir itu cuma halusinasi. Ia buru-buru keluar dari kubikel—tapi ketika ia menekan tombol pintu, pintunya tidak bisa dibuka. Seperti ada sesuatu yang menahannya dari luar.
Tiba-tiba sesuatu terdengar jatuh dari atas kubikel: duk… duk…
Seperti ada seseorang merangkak di atas dinding pembatas.
Naya menatap ke atas.
Di bagian atas kubikel, muncul sepasang mata.
Putih semua.
Tanpa bola mata hitam.
Menatap ke bawah… tepat ke arah Naya.
Mata itu perlahan bergerak, lebih dekat, dan suaranya kembali terdengar:
“Aku suka wajahmu… boleh aku coba…?”
Pintu kubikel tiba-tiba terbuka sendiri dengan keras, BRAK!
Naya berlari keluar tanpa menoleh, menangis ketakutan. Ia berlari sampai ke ruang OSIS, tempat beberapa kakak kelas masih berkumpul.
Ketika ia menceritakan apa yang terjadi, salah satu kakak kelas yang paling senior terlihat sangat pucat.
Ia berkata pelan,
“Dulu, ada siswi yang hilang setelah jam 5 sore… terakhir kali dilihat, dia masuk kubikel itu untuk bercermin. Sampai sekarang, katanya… arwahnya masih mencari wajah untuk diganti…”
Sejak malam itu, toilet putri selalu ditutup lebih awal.
Dan Naya… setiap kali melihat cermin, ia merasa ada wajah pucat di belakangnya,
bergerak setengah detik lebih lambat.