Penulis: 9J

Penghuni Kursi Nomor 12


Bus malam jurusan kota seberang selalu memiliki aturan aneh: kursi nomor 12 tidak boleh diduduki.

Tidak pernah dijelaskan alasannya, tapi sopir selalu berkata,

“Kalau penuh, tetap kosongkan yang itu.”

Rafi yang baru pertama kali naik bus itu tidak tahu aturan tersebut. Ketika ia naik, kursi-kursi penuh. Hanya kursi nomor 12 yang kosong, jadi ia langsung duduk tanpa pikir panjang.

Sopir melihatnya lewat kaca kecil, wajahnya langsung pucat.

“Tolong… pindah kursi lain, Nak,” kata sopir dengan suara panik.

Tapi bus sudah berjalan, dan Rafi tidak sempat bangkit.

“Sudah telat,” gumam sopir itu pelan.

Rafi kebingungan. “Kenapa emangnya?”

“Sudah. Jangan noleh ke samping kananmu apa pun yang terjadi.”

Rafi meneguk ludah. Ia menoleh ke kiri—aman, hanya jendela gelap. Tapi ia merasa ada sesuatu di kursi sebelah kanannya. Seperti ada orang duduk… padahal kursi itu kosong waktu ia masuk.

Saat lampu bus diredupkan, Rafi merasakan hembusan dingin di lehernya.

Ia merinding.

Tiba-tiba ada suara pelan:

“Akhirnya ada yang duduk di sini lagi…”

Suara itu datang dari kanannya.

Rafi membeku. Ia tidak berani menoleh.

“Sudah lama aku menunggu,” suara itu berkata lagi.

“Biasanya mereka tidak mau duduk di sini…”

Rafi menggenggam tasnya kuat-kuat. Lututnya gemetar.

Tiba-tiba, sesuatu menyentuh lengannya—dingin, seperti tangan tanpa darah.

Ia hampir berteriak.

Namun saat lampu bus menyala lagi karena berhenti di pos keamanan, Rafi langsung menoleh tanpa sadar.

Kursi sebelahnya… benar-benar kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi di kain jok kursi itu, terlihat jelas bekas duduk seseorang—cekung, baru saja ditinggalkan. Rafi terhenyak.

Saat turun dari bus, sopir menepuk bahunya.

“Kalau ada yang ngomong dari kursi 12… jangan ditanggapi,” katanya. “Karena kalau kamu jawab… dia bakal ikut kamu turun.”

Rafi mendadak pucat.

Karena ia baru ingat: tadi ia mengangguk saat suara itu berbicara.

Dan saat ia berjalan pulang malam itu…

Ada suara langkah kedua di belakangnya, pelan, mengikuti ritmenya.

Seperti seseorang yang baru saja ikut turun dari bus.