Penulis: 9J

Kereta Terakhir Ke Kota Cahaya


Di sebuah stasiun kecil yang jarang digunakan, ada satu hal aneh: setiap malam pukul 11:11, sebuah kereta tua berwarna perak akan berhenti di jalur 3. Kereta itu tidak pernah terlihat pada jam lain, dan tidak pernah tercatat dalam jadwal resmi.

Orang-orang menyebutnya Kereta Cahaya.

Suatu malam, seorang anak bernama Mika menunggu ayahnya pulang kerja di stasiun itu. Namun ayahnya terjebak hujan badai, jadi Mika menunggu sendirian sambil memeluk tas sekolahnya.

Ketika jam menunjukkan 11:11, kereta perak itu datang dengan suara lembut, bukan seperti kereta biasanya. Dari dalamnya keluar cahaya lembut biru keperakan, dan pintunya terbuka tanpa ada awak.

Mika ragu.

Tapi tiba-tiba ada suara kecil dari dalam:

“Masuklah kalau kau ingin pulang… atau menemukan sesuatu yang hilang.”

Hatinya berdegup, tapi ia melangkah masuk.

Di dalamnya, kereta itu seperti dunia lain. Ada jendela-jendela yang menunjukkan langit penuh bintang, padahal di luar hujan deras. Penumpangnya bukan manusia biasa—ada orang yang wajahnya berpendar, ada yang membawa lampu kecil di telapak tangan, ada yang memakai jubah seperti kabut.

Seorang wanita bercahaya duduk di sebelah Mika.

“Kau terlihat gelisah,” katanya dengan suara selembut angin.

“Apa yang kau cari?”

Mika menunduk. “Ayahku. Dia selalu pulang lewat sini, tapi hari ini hujan badai. Aku takut.”

Wanita itu tersenyum. “Kereta ini tidak membawa orang ke masa depan atau masa lalu. Tapi membawa hati ke tempat ketenangannya.”

Kereta melaju melewati terowongan cahaya. Dari jendela, Mika melihat bayangan ayahnya—berlari, berusaha pulang meski hujan mengguyurnya. Mika tiba-tiba merasa hangat, seolah ada keberanian yang mengalir dalam dadanya.

Saat kereta berhenti, Mika menemukan dirinya kembali di stasiun. Jam tetap menunjukkan 11:11, dan hujan mulai mereda.

Dan di ujung peron, ayahnya muncul, berlari sambil tersenyum lega.

“Mika! Maaf lama! Hujannya parah sekali.”

Mika memeluk ayahnya erat-erat.

Saat ia menoleh ke jalur 3—kereta itu sudah hilang, seolah tidak pernah ada.

Namun di lantai peron, ia menemukan sebuah benda kecil:

sebuah karcis perak bertuliskan “Untuk yang Berani Berharap.”

Mika tersenyum.

Ia tahu suatu hari, jika ia benar-benar membutuhkan—kereta itu akan datang lagi.