Rani selalu penasaran dengan loteng rumah neneknya. Setiap liburan, ia ingin naik ke sana, tapi neneknya selalu berkata, “Belum saatnya.”
Suatu hari, ketika nenek tidur siang, Rani memberanikan diri membuka pintu loteng. Tangga kayunya berderit pelan, dan udara berdebu menyambutnya. Di tengah loteng, ia melihat sebuah benda besar tertutup kain.
Dengan hati-hati, Rani membuka kain itu.
Di bawahnya ada sebuah jam kayu tua. Jarumnya tidak bergerak, namun di bagian tengahnya terdapat tulisan aneh:
“Putar hanya ketika kau siap mengubah sesuatu.”
Rani menelan ludah. Ia memegang pemutar jam dan mencoba memutarnya satu kali ke depan.
Mendadak seluruh ruangan dipenuhi cahaya. Ketika cahaya mereda, Rani berada di halaman sekolahnya—tapi semuanya terlihat berbeda. Teman-temannya lebih muda, guru-guru terlihat belum setua biasanya.
Rani menyadari ia kembali ke masa lalu: hari ketika ia bertengkar besar dengan sahabatnya, Tio.
Mereka berdua saat itu salah paham, dan sejak hari itu hubungan mereka tidak pernah pulih. Rani ingat betul rasa sesalnya.
Kini ia mendapat kesempatan.
Ia mendekati Tio kecil yang sedang duduk sendirian di tangga sekolah.
“Tio,” kata Rani pelan, “maaf ya… aku salah waktu itu.”
Tio menatapnya bingung, tetapi kemudian tersenyum kecil. “Aku juga maaf. Kita temenan lagi ya?”
Rani mengangguk. Hatinya terasa hangat—lebih hangat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Tiba-tiba cahaya kembali muncul, dan Rani berada di loteng rumah nenek lagi. Jam tua itu berdetak sekali, lalu berhenti seperti semula.
Saat ia turun, neneknya sudah terbangun dan tersenyum seolah tahu apa yang terjadi.
“Jam itu tidak mengubah masa lalu,” kata nenek, “tapi mengubah cara hatimu melihatnya.”
Rani memeluk nenek erat-erat. Ketika ia membuka ponselnya, ada pesan dari Tio:
“Ran, lama ga chat. Kapan-kapan main ke rumah, ya?”
Rani tersenyum.
Mungkin ia tidak mengubah waktu—tapi waktu telah mengubahnya.