Aksa sedang berbaring di kasurnya malam itu, jenuh setelah seharian belajar. Ia membuka media sosial hanya untuk “scroll sebentar” yang biasanya berubah menjadi berjam-jam.
Tapi kali ini, jari Aksa berhenti tepat pada sebuah video dance. Seorang perempuan menari dengan gerakan luwes, energik, namun tetap terlihat lembut. Rambut pendek nya yang se akan ikut menari di udara, dan senyumnya muncul sekilas di akhir video—cukup untuk membuat dada Aksa terasa aneh.
Nama akun itu tertulis jelas:
"*Vierra Rhythm*"
Tanpa sadar, Aksa menonton ulang video itu beberapa kali. Ada sesuatu pada caranya bergerak yang terasa jujur, seperti dia menari bukan hanya untuk dilihat orang, tapi untuk dirinya sendiri.
Aksa pun meninggalkan komentar singkat.
“Gerakan kamu rapi banget. Ada energi yang bikin videonya susah buat dilewatin.”
Tak disangka, tak lama kemudian, Vierra membalas.
Dari satu komentar, berlanjut menjadi obrolan di DM. Dari DM, berubah menjadi panggilan suara. Dari panggilan suara, berkembang menjadi video call larut malam. Dan tanpa mereka sadari, dunia yang tadinya hanya layar dan internet berubah menjadi kebiasaan hangat yang mereka cari setiap hari.
Meski begitu, hubungan virtual tetap membuat mereka ragu.
“Kadang aku takut,” ucap Vierra suatu malam. “Takut kalau pas ketemu, semuanya nggak sama lagi.”
Aksa tersenyum kecil. “Kalau pun beda, aku pengen kenal kamu secara real life, ra."
*Enam bulan berlalu, dan mereka sepakat untuk bertemu.
Hari itu, Aksa datang lebih dulu di cafe kecil dekat taman kota. Tangannya dingin, jantungnya tak karuan. Tapi matanya terus memperhatikan pintu masuk, menunggu seseorang yang selama ini hanya ia lihat menari melalui layar ponselnya.
Dan.. itu dia.
Vierra datang dengan hoodie abu, rambut sedikit acak karena angin, dan senyum kecil yang lebih manis daripada yang pernah ia lihat di video.
“Aksa?”
“Vierra?”
Keduanya tertawa karena suara mereka sama-sama gugup. Canggung itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum berubah menjadi percakapan hangat. Seolah mereka sudah saling kenal bertahun-tahun.
“Kayaknya kamu lebih cantik dari video,” kata Aksa pelan.
“Dan kamu lebih tinggi dari dugaanku,” balas Vierra sambil terkekeh.
Rasa takut yang dulu mereka punya pelan-pelan menguap.
Pertemuan dengan orang tua menjadi fase paling menegangkan—namun justru yang paling menghangatkan.
Ayah Vierra hanya mengangguk sambil tersenyum ketika mendengar bagaimana mereka pertama kali saling mengenal.
“Kalau memang serius, jalani baik-baik,” katanya singkat namun tegas.
Ibu Aksa bahkan terlihat sangat cepat akrab dengan Vierra.
“Kamu penari, ya? Wah, pantes luwes banget. Aksa cocok punya pacar yang rajin bergerak, biar dia nggak mager terus,” candanya membuat semua tertawa.
Dua keluarga yang awalnya asing terasa seperti sudah lama terhubung. Di tengah momen keluarga itu, Vierra menatap Aksa dengan mata yang berbinar.
“Kita direstui..” ucapnya lirih.
Aksa menggenggam tangannya erat. “Restu mereka itu awal. Bukan akhir.”
Malam itu, ketika Aksa dan Vierra duduk berdampingan di teras rumah Aksa, tidak banyak kata yang mereka butuhkan. Angin malam lembut, lampu-lampu rumah mulai redup, dan dua hati yang dulu hanya bertemu lewat video dance kini duduk di dunia nyata. Dekat, hangat, dan penuh harapan.
Hubungan yang dulu hanya berupa komentar dan DM kini berubah menjadi kisah cinta yang bisa disentuh dan diperjuangkan.
Dan Aksa tahu…
perjalanan cintanya akhirnya benar-benar dimulai—dengan Vierra di sisinya, lengkap dengan restu kedua orang tua.