Ji-a tidak pernah mempercayai firasatnya sendiri, tetapi akhir-akhir ini setiap kasus yang muncul justru seolah memanggilnya. Setiap pola pembunuhan GENE–0 terasa seperti bisikan yang hanya ia yang bisa dengar.
Dan di setiap akhir jejak itu… selalu ada Do-hyun.
Laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang tidak manusiawi. Seolah dunia yang kacau di sekeliling mereka hanyalah detail kecil yang tidak perlu dihiraukan. Ji-a merasakan sesuatu dalam dirinya menegang—ketakutan, kemarahan, atau mungkin pengakuan yang tidak ingin ia pahami.
“Sunwoo sudah memberitahumu, ya? Tentang gen itu.” Do-hyun membuka percakapan tanpa emosi.
Ji-a menarik napas panjang. “Aku ingin mendengar darimu.”
Do-hyun mengangguk pelan, seolah ia sudah menunggu permintaan itu sejak lama.
“Aku adalah pembawa gen psikopat yang kau cari.” Ucap Do-hyun
Kata-katanya turun seperti pisau. Tidak keras, tapi tajam.
Ji-a mundur selangkah. “Kalau begitu… korban-korban itu—”
“Aku yang memilih mereka,” potong Do-hyun. Nadanya datar, seperti menyebut fakta sederhana.
“Aku ingin melihat apakah seseorang bisa membaca langkahku tanpa petunjuk.” Ucap Do-hyun
Ji-a merasakan jantungnya berpacu. “Kenapa aku?”
Do-hyun memiringkan kepala, mempelajarinya. “Karena kau satu-satunya yang selalu tiba paling dekat. Bahkan sebelum polisi. Itu bukan keberuntungan, Ji-a. Itu insting.”
Ji-a menegakkan tubuhnya. “Aku bukan sepertimu.”
Do-hyun tertawa tipis—desahan yang menilai.
“Bukan? Lalu kenapa kau bisa merasakan langkahku bahkan ketika aku tidak meninggalkan apa pun? Kenapa kau tahu arah pikiranku? Kenapa kau selalu datang sebelum polisi tahu ada korban?”
Pertanyaan yang diajukan oleh Do-hyun terlalu banyak
“Aku hanya… peduli pada kasus ini.”
“Tidak,” ucap Do-hyun lembut, “kau bereaksi seperti seseorang yang mengingat sesuatu. Sesuatu yang pernah kau kubur.”
Ji-a membeku. Kata-katanya menusuk terlalu dalam—seperti gema dari masa lalu yang tidak pernah ia sentuh. Do-hyun tersenyum kecil, senyum yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Aku mungkin lahir dengan gen itu,” katanya sambil mengangkat tangan, menyentuh udara dekat wajah Ji-a tanpa benar-benar menyentuhnya. “Tapi kau… kau punya hal yang lebih berbahaya.”
Ji-a menelan ludah. “Apa itu?”
“Ketertarikan,” bisiknya.
“Ketertarikan pada kegelapan yang sama denganku.”
Ji-a menggigit bibirnya hingga terasa besi darah. Ia benci bahwa sebagian kecil dari dirinya merespons—bukan dengan takut, tapi dengan rasa ingin tahu yang tajam. Itu yang menakutkan. Bukan Do-hyun. Bukan gen itu. Tapi kenyataan bahwa bagian dalam dirinya… mengenali Do-hyun. Dan mengenali kegelapannya.
Do-hyun mengambil satu langkah mundur, matanya tidak lepas dari Ji-a. “Bagian itu akan bangun. Cepat atau lambat.”
Ji-a nyaris tidak tahu apakah ia harus lari dari Do-hyun… atau dari dirinya sendiri.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponsel di sakunya bergetar. Ia meraihnya seperti seseorang yang butuh pegangan.
“Sunwoo?” tanya Ji-a, napasnya tidak stabil.
“Ji-a! Ada korban baru. Kami baru dapat laporan—”
Ji-a menatap Do-hyun. Laki-laki itu tidak bergerak, namun senyum samar di wajahnya menjawab lebih cepat dari suara Sunwoo. Ia sudah tahu. Ji-a juga… sudah tahu.
“Lokasi?” suara Ji-a pelan, nyaris kosong.
Sunwoo menyebutkan alamatnya. Ji-a memejamkan mata. Tentu saja. Ia sudah merasakannya sebelum mendengarnya. Ia menutup telepon tanpa menjawab lebih lanjut.
Ketika membuka mata, tatapan Do-hyun sudah menunggunya. “Sekarang kau paham,” ujarnya tenang. “Kenapa aku memilihmu.”
Ji-a menggenggam ponselnya begitu kuat hingga terasa retakan kecil. “Kau pikir aku akan membiarkanmu terus bermain seperti ini?”
“Kau tidak bisa menghentikanku kalau kau terus membohongi dirimu sendiri.”
“Aku tidak membohongi apa pun!”
Do-hyun tersenyum puas. “Kalau begitu kenapa kau bisa menebak lokasi sebelum Sunwoo menyebutkan? Kau bukan hanya melihat polaku. Kau… terhubung.”
“Itu hanya intuisi.”
“Itu resonansi.” Suara Do-hyun turun menjadi bisikan yang menusuk. “Gen itu merespons sesuatu. Mungkin bukan genku. Mungkin… milikmu.”
Ji-a memucat.
“Aku tidak—”
“Belum.”
Do-hyun menatapnya dalam-dalam, seolah melihat sesuatu yang lebih tua daripada ingatan. Lalu ia berbalik perlahan.
“Kau harus pergi ke TKP, Ji-a. Kalau tidak, Sunwoo yang akan melihatnya duluan.”
Ji-a membeku. “Melihat… apa?”
Do-hyun menoleh, senyum gelap menggores wajahnya. “Pesanku untukmu.”
Ia pergi dengan langkah yang tenang, seolah baru saja mengucapkan selamat malam.
Ji-a berdiri tak bergerak. Lalu ia menyeret dirinya menuju mobil—karena dunia terasa kabur, jarak terasa hampa, dan suara hatinya sendiri terdengar seperti seseorang yang ia tidak kenal.
Yang membuat jantungnya berdetak kencang bukan hanya ketakutan akan apa yang menunggunya di TKP.
Tetapi ketakutan yang lebih besar—
Bahwa Do-hyun benar.
Dan bahwa bagian dirinya yang gelap… sedang menunggu waktu untuk keluar.