“Kalimat yang Tak Pernah Diucapkan”
Varo menunggu di depan gerbang, menatap jalan yang sepi disekitar nya. Ketika seorang gadis—Raleysha— akhirnya muncul, langkahnya langsung ia percepat.
“Lo lama banget, Cha,” keluhnya. “Gw kira lo hilang.”
Raleysha mengangkat alis. “Lo nunggu gw? Kok kayak orang khawatir banget.”
“Bukan. Gw cuma takut lo nyasar.” Balas Varo.
“Nyasar? Di rumah sendiri?” Bingung Raleysha. Aneh. Teman nya yang satu ini sungguh aneh.
“Ya… siapa tau lo lupa arah pulang.” Ucap Varo sambil mengangkat kedua bahu nya.
Raleysha menyenggol bahunya. “Ngaco.”
Varo tak langsung membalas, tetapi berjalan di sebelahnya, terlalu dekat untuk dua orang yang katanya selalu bertengkar.
Dari belakang, suara Kala muncul. “Heran banget gue sama kalian. Ribut mulu kerjaannya, tapi jalannya mepet banget. ”
Varo menoleh cepat. “Bang Kala bisa enggak… sehari aja nggak komentarin gw?”
“Bisa. Kalau lo berhenti nyari-nyari Echa kemarin,” balas Kala dengan santai.
Raleysha langsung menatap Varo. “Lo nyari gw?”
“Enggak! E-eh maksud gw… itu Bang Kala aja yang lebay. Padahal gw cuma lewat doang”
Kala terkekeh. “Lebay tapi bener. Orang lo aja 3 kali ngelewatin depan rumah.”
Sebelum Varo sempat membantah lagi, Raga muncul sambil ngemut permen. “Bang Var, Kak Cha… kalian tuh cocok. Soalnya kalian suka berantem, tapi saling sayang.”
“Raga!” seru keduanya bersamaan.
Raga kabur sambil ketawa, meninggalkan mereka yang malah makin salah tingkah.
“Adik lo ngeselin banget, Cha,” gumam Varo.
“Lo kira adik gw doang yang kayak begitu? Kakak gw juga bikin gw malu setengah mati setiap saat,” balas Raleysha.
“Kadang gw mikir tau Cha, salah langkah banget gw kenal lo dulu.” Ujar Varo
“Wih. Lo mau banget ya gw hilang?” Sahut Raleysha yang kini tengah menatap Varo.
“Enggak lah.” Sanggah Varo.
Raleysha menatapnya. “Ha? Apa?”
“Maksud gw… ya jangan hilang gitu aja.” Kata Varo yang membingungkan Raleysha.
Echa berkedip dua kali. “Lo aneh.”
“Lo juga.” Seru Varo
---
Sesampainya di rumah, Varo menaruh tas sambil menarik napas panjang. Papanya memanggil dari ruang tamu.
“Varo,” kata Bagas. “Kamu kenapa masuk rumah kayak habis dihukum?”
“Enggak, Pa. Capek aja.” Jawab Varo seadanya.
“Kamu ribut lagi sama Echa?” Tanya Bagas tiba-tiba
“Bukan ribut. Dia cuma… diem.” Lirih Varo.
“Terus kenapa kamu terlihat sedih begitu?” Tanya Bagas, seolah mendesak Varo agar bercerita padanya.
“Sedih apaan, Pa. Enggak kok.” Elak Varo.
Bagas tersenyum samar. “Kamu nggak suka Echa diam, kan?”
Varo terhenti. “Ya… ya enggak suka.”
“Itu karena kamu terbiasa dengan suaranya.” Kata Bagas
“Pa, jangan mulai…”
Erlinda ikut masuk sambil membawa gelas air. “Sudah, Papa. Biarkan saja. Nanti dia sadar sendiri.”
“Ma!” seru Varo protes.
Erlinda hanya tersenyum, membuat Varo makin salah tingkah.
---
Di rumah Raleysha, Helen memotong buah sambil melirik putrinya yang masuk kamar dengan wajah bingung.
“Echa,” panggil Helen lembut. “Kamu kenapa? Dari tadi wajahmu kayak banyak pikiran.” Tanya Helen langsung.
“Enggak, Bun.” Jawab Raleysha pelan.
“Kamu dan Varo bertengkar lagi?” Helen menatap pada putri semata wayangnya.
“Enggak juga. Dia cuma… marah tapi nungguin aku juga.” Bantah Raleysha pelan.
“Oh, jadi dia marah sambil menunggu?” Sindir Helen.
“Bunda jangan nyindir.” Seru Raleysha.
Helen tertawa kecil. “Kadang laki-laki begitu. Peduli, tapi tidak bisa bicara dengan jelas.”
Dari samping, Erry ikut menimpali. “Ayah melihat tadi Varo melirik ke arah rumah kita sebelum masuk rumahnya. Sepertinya memang ada yang dipikirkan. Mungkin juga memikirkan kamu, kak.”
“Ya Tuhan… Ayah juga,” keluh Raleysha sambil menutupi wajah.
Tiba-tiba Raga muncul di hadapan mereka. “Kak Echa! Tadi waktu bang Var bilang ‘Echa’, nadanya beda banget tahu, kak. Kayak—”
“RAGA!!!”
Raga langsung kabur ke luar sambil ketawa, meninggalkan Raleysha yang memerah. Lagi-lagi adiknya itu berulah, hingga membuatnya malu kembali.
---
Malam itu, Varo duduk di tempat tidur, memandangi layar ponsel. Ia mengetik pesan ‘Cha, lo udah makan belum?’ lalu menghapusnya. Mengetik lagi ‘Lo kenapa diem aja tadi?’ lalu menghapus lagi.
Keinala membuka pintu tanpa izin, lalu masuk ke dalam kamarnya dan melihat tingkah sang abang tadi. “Bang, nanti ponselnya protes kalau diketik-hapus terus.”
“Kei, jangan ganggu.” Ujar Varo.
Keinala mencondongkan kepala. “Abang mikirin Kak Echa ya?”
“Enggak, Kei. Lo jangan asal bicara.” Bantah Varo.
“Tapi Kak Echa pasti lagi nunggu bang Varo chat duluan. Dia pasti lagi buka roomchat kalian sama kaya lo, bang.”
Varo memalingkan wajah. “Udah sana. Jangan ganggu gua lagi.”
"Eh eh? Salting ya bang? CIEEEE, BANG VARO KASMARANN!" Seru Keinala.
"KEINALA!!"
Keinala pergi berlari sambil cekikikan.
---
Di kamar lain, hal yang sama terjadi.
Raleysha menatap layar chat. Tangannya mengetik ‘Var, lo udah tidur?’ kemudian menghapusnya. Mengetik lagi ‘Lo kenapa marah?’ lalu menghapus kembali.
Kala lewat di depan pintu kamar Raleysha yang terbuka. “Cha, kalau mau chat, chat aja. Jangan gengsi. Nanti keduluan sama yang lain!”
“Pergi sana, Kak!” Usir Raleysha.
Kala tertawa sambil menutup pintu. “Sama aja. Dua-duanya keras kepala.”
Raleysha mengubur wajahnya di bantal. “Kenapa sih susah banget…”
"Oke, cha. Ketik, habis itu tinggal pencet enter. . . . IH, NGGA BISAA," seru Raleysha.
---
Di dua rumah berbeda, dua layar ponsel sama-sama menampilkan chat kosong.
Dua pesan tidak pernah dikirim—hanya bertahan sebentar sebelum terhapus.
Dua orang saling menunggu tapi tak satu pun mau memulai.
Dua orang yang saling berharap, namun tidak satu pun mau untuk menurunkan ego mereka.
Kalimat yang ingin mereka ucapkan masih sama—
tapi tetap tidak pernah keluar malam itu.
Karena keduanya sibuk menunggu siapa yang duluan berani mengaku.
Keduanya saling membentuk ego yang besar. Tidak mau merobohkan ego mereka. Padahal keduanya sangat ingin berbicara satu sama lain.
Saling berbalas pesan, dan juga perasaan. Saling berinteraksi baik di kehidupan nyata maupun di ruang chat mereka yang kosong itu.
Hanya sekedar mengirim pesan saja sangat sesusah itu untuk mereka. Apalagi nanti bila ingin menyatakan perasaan satu sama lain?
Keduanya sama sama gundah. Tak ada yang bisa mengalahkan kegundahan hati mereka, kecuali mereka sendiri yang mengalahkannya.
Interaksi dalam suatu hubungan itu diperlukan. Apalagi di awal. Sebab, hubungan tanpa interaksi sama saja dengan kalian yang menciptakan kehidupan namun kalian tidak peduli dengan kehidupan itu.
Kunci hubungan bukan hanya saling percaya, saling menjaga, dan saling melengkapi. Melainkan dibutuhkan interaksi yang dapat mempererat hubungan. Bukan hanya kepercayaan, kelengkapan, dan penjagaan. Melainkan interaksi bersama.
Sepertinya, mereka berdua harus belajar banyak dari para teman-teman mereka yang tengah menjalin hubungan asmara. Agar mereka mengerti apa yang menjadi kunci hubungan serta apa yang bisa membuat mereka dapat bertukar pesan.
---
Pagi hari kini diselimuti oleh awan gelap. Entah mengapa suasana pagi ini membuat seluruh anak Gen-Z terlalu malas untuk melakukan suatu kegiatan. Seakan-akan langit sangat mendukung mereka untuk bermalas-malasan.
Contohnya gadis satu ini yang masih bergelut dengan mimpinya. Selimut sudah tidak lagi di tempatnya. Ia bergerak tak menentu arah.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 di layar ponsel milik gadis itu. Banyak notifikasi alarm tertunda sebab tak dihiraukan. Sebab terlalu asyik tidur.
Tok
Tok
Tok
"Kakak!" Panggil seorang wanita dari luar sana.
"Eungh.." Lenguh nya.
"Kakak? Bangun sayang! Jam tujuh pagi ini, nak!" Seru sang bunda.
Matanya terbuka pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk di netranya. Mengerjapkan matanya sejenak, lalu terduduk diatas kasur seraya menguap lebar.
"Hoamm... Iya bun!" Jawab Raleysha dari dalam.
"Cepat turun sayang. Ada Varo di bawah!" Ujar Helen lalu setelah itu terdengar samar langkah kaki yang semakin menjauh.
"Iya.. HAH?" Teriak Raleysha.
"Kenapa pagi-pagi banget sih.." Gumam Raleysha.
Ia mengacak-acak rambutnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Tentu dengan sangat cepat, karena hawa masih sangat dingin di pagi ini. Jadi tidak baik untuk terlalu lama di dalam kamar mandi.
"Cepol dulu aja deh. Males banget kalau sisiran." Gumam Raleysha yang tengah menatap cermin didepannya.
Ia beranjak dari meja riasnya menuju pintu kamar. Membukanya pelan. Lalu ke luar dari dalam kamar, dan menutup kembali pintu berwarna putih itu. Melangkah menuruni tangga sebagai pijakan agar mencapai lantai bawah.
Di bawah sana —ruang tamu— ia melihat siluet seorang laki-laki berparas tampan tengah terduduk bersandar pada sofa empuk itu. Terlihat juga ia sedang berbincang dengan pria paruh baya di depannya.
Ketika mata Raleysha beradu tatap dengan mata pria paruh baya. Ia langsung dipanggil oleh pria itu. Menyuruhnya agar mendekat kearah mereka.
"Echa, sini nak, ada Varo ini." Panggil Erry dengan suara lembut.
Raleysha pun berjalan santai menghampiri keduanya, ralat ketiganya. Sebab, di samping sang ayah terdapat adik bungsunya yang tengah bergoler di sofa empuk. Badannya tertutup oleh sandaran sofa itu.
"Ei? Ada Raga ternyata." Kata Raleysha saat melihat adiknya itu.
"Parah banget, padahal badan gw segede ini masa' ngga kelihatan?!" Seru Raga.
"Diem. Sini ngga ngajak situ bicara." Sahut Raleysha.
"Echa," panggil Varo yang kini berada tepat di hadapan Raleysha.
"Hm?" Raleysha hanya menjawab panggilan dari Varo dengan deheman.
"Kak, jawab yang bener, ah. Ngga boleh gitu!" Tegur Erry.
"Iya ayah, maaf ya. Kenapa, Var?" Jawab Raleysha ulang.
"Eum. . . Ada yang mau gw omongin, Cha." Ujar Varo.
"Eh? Apa? Kok ngga chat gw dulu? Ah, gapapa. Bilang aja sekarang disini." Ucap Raleysha beruntut.
"Berdua?" Mendengar itu, Erry ikut menatap Varo. Mengalihkan pandangannya yang awalnya melihat TV yang menayangkan berita pagi.
"Penting ya? Ya udah. Ayah mau ke bunda dulu, kalian berdua ngobrol aja. Raga sana tidur di kamar." Saat Erry hendak beranjak, Varo mencegahnya.
"Ah, ayah disini aja. Varo sama Echa aja yang bicara di luar, ayah lanjutin nonton TV-nya." Cegah Varo.
Erry hanya mengangguk, tapi sebelum membiarkan mereka keluar, ia bertanya kembali pada mereka.
"Beneran kalian aja yang di luar? Ngga ayah aja yang pindah?" Tanya Erry sekali lagi untuk meyakinkan mereka.
"Iyaa ayah. Lagian cuma sebentar kok. Iya kan, Var?" Kata Raleysha.
"Oke deh, selamat berbincang anak muda!" Canda Erry pada kedua insan itu.
"Ayah ada-ada aja sih!" Sahut Raleysha sebelum ia keluar dari pintu rumah dengan Varo yang terkekeh kecil di belakang nya.
---
Di luar rumah. Tepatnya di teras yang terdapat dua kursi kayu dengan meja kayu di tengah-tengah nya. Hanya itu jarak yang mereka punya.
"Cha." Panggil Varo setelah beberapa menit mereka hanya diam saja.
"Iyaa??" Sahut Raleysha.
"Gw.. Gw suka sama lo." Ujar Varo pada intinya.
"Ohh... HAH? Yang bener aja, Varo.." Ujar Raleysha yang terkejut.
"Iya, Cha. Gw udah suka lo dari lama. Maybe dari SMP. Cupu banget gua ga berani confess ke lo selama itu, Ahahaha." Jawab Varo lirih disusul dengan tawa kecutnya.
"Var.. Kenapa ga bilang dari dulu?" Tanya Raleysha.
"Gw pengecut, Cha. Gw terlalu ngebesarin ego. Ah, gw nyesel banget, Cha. Udah dahuluin besarin ego daripada harus ungkapin rasa gw ke lo." Ucap Varo dengan hati yang penuh penyesalan.
"Hahaha, same. Gw juga pengecut, Var. Yang juga udah lama suka sama lo. Tapi gw juga lebih dahuluin besarin ego." Jawab Raleysha.
"Andai, gw ngga nurutin ego. Pasti gw udah chat lo dari dulu. Gw selalu ga berani deketin lo secara langsung, Cha. Gw takut lo ngejauh dari gw. Gw takut lo ngga mau jadi sahabat gw lagi." Kata Varo.
"Salah! Gw bener salah langkah, Cha." Ujar Varo.
"Ngga. Lo ngga salah. Kita sama-sama pengecut, Var. Pengecut yang terlalu besarin egonya." Bantah Raleysha.
"Hahaha, iya. Intinya gini, Cha. Lo terima gw ga?" Varo ingin sandiwaranya selama ini cepat berlalu.
"Lo pikir aja sendiri, selama ini gw juga pendam rasa yang sama, Var." Seru Raleysha.
"Jadi lo terima?" Tanya Varo meyakinkan.
Raleysha membalasnya hanya dengan anggukan. Tetapi hal kecil itu, mampu membuat Varo tersenyum lebar. Setelah sekian lama, ia berani menurunkan egonya. Dan kini, ia mendapatkan sang pujaan hatinya selama ini.