Langkah kaki kecil yang terlihat kacau. Napasnya memburu. Jubah lusuhnya berkibar saat ia terus berlari menyusuri hutan di sekitar Guild Arven.
“Alena! berhentii !! kalau kau kabur lagi, aku—!”
Suara seorang laki laki dari belakang yang terdengar menggema, tajam, galak… tapi entah kenapa terdengar seperti ayah kucing mencari anaknya.
Namun Alena tak menoleh.
“Tidak mau! Aku tidak mau menjaga ruang buas ituu! Tidak mauuu!”,
Ia memegangi dada, betisnya sudah protes jika bisa berbicara, pandangan sedikit berputar. Sesekali menengok ke belakang untuk memastikan seniornya jauh dari dirinya. Alena Ketakutan? —atau mungkin lebih tepatnya kemalasan tingkat tinggi—memberinya tenaga tambahan untuk menjauhi pekerjaan atau suruhan dari seniornya itu.
Maka ketika ia menengok ke depan…
BRUK!
Alena menabrak sesuatu—atau seseorang?—keras sekali sampai sampai tubuhnya terpental ke belakang.
“A–A–AA!! IYA, IYA AKU PULANG! TAPI NANTI! BUKAN SEKARAAANG!!”
Teriak Alena refleks, seperti memohon ampun pada semesta, ia mengira bahwa seniornya menggunakan sihir perpindahan nya sehingga bisa dalam sekejap mata berada di hadapan Alena, padahal ia tidak tahu siapa yang ia tabrak barusan.
Laki-laki berpostur tinggi yang tertabrak Alena itu terpaku. Rambutnya kacau seperti baru saja tertiup oleh angin badai, dan matanya… terbelak, antara bingung dan ikut takut.
“Aku… tidak menyuruhmu untuk melakukan apapun.. gadis kecil .. ?”
katanya pelan. Suaranya datar, tetapi terdengar benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Alena yang masih gemetar mengangkat wajah, menatap laki laki selain seniornya itu.
“H-ha? Kau bukan Senior ?”
“Tentu saja bukan,”
jawabnya.
“Siapa itu?”
“HEYY!! BERHENTI TIDAAAKKK??! atau aku harus menarik telingamu terlebih dahulu—”
Tiba-tiba Senior yang di panggil ' Drax ' itu muncul di depan Alena, hanya berjarak 20 cm dari mereka, tatapannya seperti akan membakar dunia. Ia memperhatikan Alena yang bersembunyi di balik pria asing. Drax tersenyum, tapi senyumnya… manis -, tidak, itu terlihat sangat palsu.
“Alenaaaa ... Kemari.. ? ... ~ ”
“Tidak mau!!!”
Tolak Alena ketika ia sudah berada di belakang laki-laki asing itu, seperti anak kecil bersembunyi di balik tiang yang menjulang tinggi.
Laki-laki itu berdiri kaku.
“Tunggu. Siapa dirimu? anak kecil? mengapa kau bersembunyi di belakangku? Kita bahkan belum saling mengenal.”
“Karena kau terlihat aman, sebagai tempat persembunyian sementara untukku”
Bisik Alena, menyahuti pertanyaan darinya dengan cepat.
Drax menyipit.
“Dan siapa laki-laki yang tidak ku kenal itu ? mengapa kau bersembunyi dariku? dan malah berlari serta bersembunyi ke arahnya ? apakah dia terlihat lebih aman daripada aku?”
Alena mengangguk cepat tanpa malu.
Laki-laki itu berkedip dua kali, seperti mencoba memproses data.
Ia sama sekali tidak menunjukkan aura apa pun—seakan ia hanyalah manusia biasa. Tapi gerak matanya diam-diam menilai sekitar, tenang, presisi… seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat.
“Begini…”
katanya berbisik, sangat pelan namun jelas, beberapa kali menoleh ke belakang melihat sosok gadis yang terlihat lebih kecil darinya, serta dengan lantang nya menjadikan dirinya tameng.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kau seperti dikejar naga?”
Alena menunjuk ke depan tanpa berpikir panjang akan mendapatkan hukuman yang lebih kejam dari senior senior nya.
“Aku hanya… tidak suka menjaga hewan buas itu...., mereka besar..... mereka menatapku seolah aku adalah makanan pembuka .. Merenafas mereka bau. Dan mereka—”
“Alena,”
potong Drax sambil menepuk lututnya dengan tingkat sihir yang di bawanya—seperti memanggil kucing bandel.
“Tugas. Sekarang.”
Alena menggeleng agresif seperti anak kecil yang menolak sayur.
Laki-laki misterius menatap keduanya bergantian.
“…Aku rasa aku datang di waktu yang sangat tidak tepat..”
gumamnya.
Alena memegangi lengan baju pria tersebut.
“Kau… bisa bantu aku kabur tidak?”
“Tidak,”
jawabnya otomatis.
“Tega!”
" ..... "
" sebelum itu. "
" perkenalkan terlebih dahulu, siapa dirimu, darimana asal usul mu, siapa namamu, mengapa dirimu soal di incar? "
" mana bisa aku menjelaskan sekarang ! dirimu bisa melihat kan bahwa aku sedang terancam ? selamatkan diriku terlebih dahulu ! "
" hah..... "
" diriku mempunyai solusi terbaik, namun dengan syarat, dirimu harus mengatakan jawaban dari seluruh pertanyaan ku tadi "
Alena langsung berbinar mendengarkan bahwa ada solusi untuk masalah yang sedang ia hadapi.
" iya iya ~, boleh ~ "
Bisik Alena menjawab pernyataan dari pria tersebut, nyaris seperti anak kecil yang tergiur oleh hadiah dari mesin gatcha.
Sementara Drax hanya bisa memijit pelipisnya saat melihat anggota buildnya terus berbisik bisik dengan pria lain, ia merasa jika ia di sirkel i, di asingkan atau disingkirkanoleh Alena, wajah Drax terlihat galak, tetapi jelas sekali ia sebenarnya sangat sayang pada gadis itu.
Hembusan napas Alena masih terengah engah, bekas kelelahannya melarikan diri dari senior nya.
Namun tiba tiba, pria asing itu mengangkat tongkat sihirnya.
Ujung tongkat tersebut menyala, cahaya biru keperakan muncul, lalu melilit angin seperti benang tipis.
Pria itu merapatkan jemarinya ke tongkat, dan dengan suara rendah ia merapalkan mantra:
“Reloctum… Vitae Fractum.
Tempo, solus mea audite.”
Seketika, suara dunia terbungkam—angin berhenti, debu yang terangkat membeku di udara, Drax terlihat memaku di tempat seperti patung.
Suasana mendadak sunyi… terlalu sunyi, sampai Alena bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
“…E-Eh?”
Alena memandang sekeliling, wajahnya pucat dan kebingungan.
“Kenapa… semuanya diam?”
Pria itu membisu, tidak menjawab pertanyaan dari Alena. Ia menurunkan tongkatnya perlahan, memasukkan nya ke dalam saku celana sesuafh memastikan sihirnya terkunci.
Alena akhirnya melihatnya dengan benar—menatap sisa cahaya darisihir yang melingkari tongkat pria tersebut. Cahaya itu… ia mengenal pola gemerincingnya.
“…Itu…”
Suara Alena kembali memecah suasana hening.
“Kau baru saja merapalkan sihir waktu, kan?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Baru sadar?”
Alena menelan ludah dengan susah payah. Jari-jari, lengan serta badannya gemetar ketika ia menunjuk tongkat itu dengan jari telunjuknya, lalu reflek menurunkan tangannya.
“A-Aku pernah melihat cahaya seperti itu… Namun dari sihirku sendiri! Tidak ada penyihir waktu yang lain di guild-ku! Bahkan senior-seniorku bilang aku ‘anomali’. Lalu bagaimana mungkin kau…?”
Pria itu berjalan mengitari Alena, mengamati Alena dari rambut sampai ujung kaki, seolah menilai sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan orang lain padanya.
“ Anomali, hmmm ๐ค ? ”
Ia berhenti tepat di depannya.
“Mungkin mereka benar.”
Alena berkedip beberapa kali.
“Hah?! Apa katamu ?!”
Pria itu mengangkat tangannya dan mengetuk jam tangan yang ia pakai di hadapan Alena.
Gelombang sihir bergetar… dan Alena melihat refleksi dirinya sendiri di udara membeku—tetapi di sekitar tubuhnya ada garis halus yang mengalir seolah meretakkan cahaya.
“…Apa itu?”
bisik Alena takut.
“Jejak waktu,”
jawab pria itu.
“Itu tidak muncul pada penyihir waktu biasa. Hanya muncul pada seseorang yang memiliki inti sihir jauh… jauh lebih tua dari usianya.”
Alena melotot.
“ A-Aku tidak mengerti! Aku bahkan belum bisa mengendalikan sihirku! Dan kau tiba-tiba bilang aku… apa? Penyihir tua yang terjebak di tubuh remaja?! ”
" Apakah wajahku terlihat memiliki keriput ?! "
Pria itu menghela napas panjang, seolah Alena benar-benar membuatnya lelah.
“Bukan begitu maksudku.” Ia mendekat sedikit.
“Tapi, yang jelas… kau bukan penyihir biasa. Dan bukan kebetulan.. tapi... aku merasakan bahwa kau sedang diincar.”
Alena mengepalkan tangannya sendiri—takut, bingung, tapi juga… sedikit marah.
“Kalau kau tahu semua itu…”
Ia mendongak menantang.
“Kenapa tidak dari tadi membantuku kabur?!”
Pria itu tertawa pelan.
“Karena aku bukan pengasuh bocah.”
“HEY!”
Namun tawa itu cepat mereda, berganti ekspresi serius.
“Setidaknya,”
katanya sambil kembali mengangkat tongkatnya,
“aku sudah menghentikan waktu agar kita bisa berbicara tanpa gangguan.”
“…Lalu apa maumu?”
Alena menahan napas.
Pria itu memandangnya lurus.
Tatapan yang membuat Alena merasa seolah seluruh dirinya sedang diterawang.
“Aku ingin penjelasan.”
“Siapa dirimu sebenarnya, penyihir muda?”
Alena tercekat.
“…Aku… aku… tidak tahu.”
“Tepat.”
Pria itu mendengkus.
“Dan di situlah masalahnya.”
Alena menghembuskan napas panjang. Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap tongkat pria itu lagi—tongkat yang baru saja membekukan dunia.
“…Kau benar-benar penyihir waktu,” gumamku lirih.
“…dirimu sama... sepertiku.”
Namun pria itu membalas dengan kalimat yang membuat bulu kuduk Alena berdiri
“Tidak. Kita memang sejenis… tapi kekuatanmu sama sekali tidak setara denganku.”
Ia mendekat, suaranya merendah.
“Kekuatanmu… lebih besar.”
Alena membeku.
Bibinya bergetar.
Ia tidak tahu apakah harus bangga… atau takut.
" Bercandaa! "
" Kau kira aku peramal ? "
" ๐ ๐คฌ "
Kurang lebih, seperti itulah ekspresi Alena ketika mendengarkan ucapan yang awalnya ia percaya, namun ternyata, itu semua hanya ucapan sampah
" tenanglah tenanglah... anak kecil tidak boleh marah kepada orang yang lebih dewasa, ingat itu ya.. ~ "
Ucap pria tersebut dengan menepuk nepuk rambut atas Alena, seolah sedang menenangkan peliharaan yang sedang marah.
Namun segera di tangkis oleh Alena.
" Sebelum itu, perkenalkan.. aku Arkaviand , penyihir dari kerajaan....., aku menyukai kebebasan, maka dari itu diriku bisa berada di mana saja, sesuai dengan kemauanku melewati sihir waktu ku. "
" Arkaviand .. ? bisakah diriku memanggil dirimu dengan sebutan ' kavi ' ? "
" Terserah kau saja. "
" Oh iya! jikalau kau tadi mengatakan bahwa kau sama denganku. Maka bisa aku simpulkan bahwa dirimu adalah seorang penyihir ? betul ? "
Arkaviand kembali berjalan dengan perlahan, memutari tempat Alena berdiri.
" betul,๐ "
" ๐คจ๐ค "
" lalu... sihir apa yang kau miliki ? "
" apakah kau tidak ingin menceritakan atau menyebutkan identitas mu ? "
" apakah kau tak ingin menjawab pertanyaan pertanyaan ku ? "
Lontaran - lontaran kata yang terucap dari mulut Kavi, membuat kepala Alena serasa ingin meledak.
" baiklah - baiklah, sekarang diamlah, diriku akan menceritakan sedikit diriku kepadamu. "
Ucap Alena menyahuti berbagai kata dari kavi
Alena masih berdiri tegak di hadapan kavi namun dengan menundukkan kepalanya.
" Diriku... disebut penyihir oleh senior senior yang berada di guildku, mereka mengatakan bahwa diriku di terlantarkan.., di depan pintu guild, saat masih berumur kurang lebih 6 tahun ? "
" Apakah dirimu mengetahui ? bahwa setiap benua memiliki akademi sihir ? diriku pernah berada di sana, dengan peringkat teratas di materi pengetahuan atau semua tentang angka.. "
" Sayangnya... tidak dengan kekuatan ku.., entah mengapa, hingga saat ini aku masih belum bisa mengendalikan sihirku.... diriku di katakan sebagai penyihir gagal yang tak pantas memperjuangkan nama benua... "
" Diriku di sebut anak cacat..., karena penampilan fisik dari tubuhku, rambut diriku dikatakan sebagai nenek nenek, karena berwarna putih sejak lahir, kulit pucatku yang di katakan sebagai mayat hidup, mataku yang di anggap tak normal, dan sekali lagi... sihirku... "
" Diriku hidup sederhana, oh iya, perkenalkan, diriku bernama ' Alena ' "
" Alena .. ? "
gumam kavi.
" yaaa, ' Alena Nawasenna ' "
" diriku sekarang berusia 14 tahunnn. "
" diriku menyukai- "
" cr-cr-cr-CRACK! ”
" Dasar anak nakal, sudah sore ! saatnya pulang "
Alena terkejut ketika pohon dan benda di sekitar nya kembali bergerak.
Ia membalikkan badan, melihat siapa yang datang, seolah ada yang memutus mantra sihir dunia waktu yang di buat oleh kavi.
" senior ... ? "
" itu dirimu... ? "
Tanpa ada aba - aba, Drax menarik yang
pergelangan tangan Alena dengan lembut namun cepat, membuat Alena terhentak seketika.
" Pulang ! "
“Fwooosh… fwuuum—”
Sihir dari Drax membuka sebuah pintu yang membentuk oval dan melayang.
" AAAA !! - TIDAKK !!! AKU TIDAK MAU PULANGGG !! KAV- "
Hening.
Suara Alena menghilang bersamaan dengan tertutupnya sihir teleport tersebut.
Seolah matahari terbenam.
Tak ada suara yang melengking lagi di telinga Arkaviand.
" menarik.... "
Suara yang tadinya terdengar sebagai penyihir normal, entah mengapa seolah berubah menjadi suara yang berat.
Percakapan, serta cengkrama hangat hanya berlangsung sampai di situ.
Kepergian Kavi di iringi dengan munculnya senyum miring yang terlihat di wajahnya.