Penulis: 9HEROIC

ORANG BODOH


 

“Aku bukan orang gila,” kata Pangeran Myshkin pelan, menatap mata lawan bicaranya dengan ketulusan yang hampir menyakitkan. “Aku hanya ingin memahami manusia.”

“Memahami manusia?” sahut Rogozhin sinis. “Kalau begitu kau akan mati sebelum mengerti setengahnya.”

Myshkin tersenyum tipis. Ia baru saja tiba di Rusia setelah bertahun-tahun dirawat di Swiss karena penyakit saraf. Dalam kepolosannya, ia melihat dunia dengan hati yang bersih—sesuatu yang membuatnya tampak bodoh di mata orang-orang yang hidup dengan ambisi dan tipu daya. Namun justru ketulusan itulah yang membuat banyak orang tertarik padanya, termasuk dua perempuan yang begitu berbeda: Nastasya Filippovna yang berapi-api dan terluka, serta Aglaya yang lembut namun penuh kebimbangan.

 

Suatu sore di taman, Aglaya berkata, “Pangeran, kadang aku takut padamu. Kau begitu baik hingga dunia bisa menghancurkanmu kapan saja.”

“Kalau kebaikan bisa menghancurkan,” jawab Myshkin lirih, “maka biarlah aku hancur dengan damai.”

Namun kebaikan Myshkin justru menimbulkan kekacauan di sekelilingnya. Nastasya, yang mencintai dan membenci dirinya sendiri, terombang-ambing antara cintanya pada Myshkin dan obsesi gelap Rogozhin. “Aku tidak pantas untukmu, Pangeran,” katanya menangis. “Kau seperti cahaya… dan aku hanya bayangannya.”

 

Ketika akhirnya tragedi datang, Myshkin berlutut di samping tubuh Nastasya yang telah terbunuh. Rogozhin berdiri di pojok ruangan, wajahnya pucat, mata kosong.

“Aku sudah bilang padamu, cinta bisa membunuh,” bisiknya. Myshkin menatapnya dengan mata penuh iba. “Kau tidak tahu apa itu cinta, Rogozhin… Kau hanya tahu kehilangan.”

Dan di saat itu, dunia yang ia coba pahami menolaknya. Pangeran Myshkin, si ‘idiot’ yang suci, kembali tenggelam dalam kebisuan jiwanya—menjadi simbol manusia baik yang dihancurkan oleh dunia yang tak mengenal kebaikan.