
"Kok kamu begitu sih Dewi!! aku penasaran banget, kenapa tiba tiba kamu berubah drastis??" ucapku lirih
sambil menatap wajah dia yang tertunduk dihadapanku. Pertanyaan itu menggantung diudara, dipenuhi oleh rasa sakit yang tak terucapkan.
“Aku… aku mau minta maaf” ucap Dewi lirih
“Apa?? Maaf?? Setelah semua yang kamu lakukan Dewi!” tanyaku dengan suara meninggi.

”Maaf aku memang salah besar. Aku yang ngomongin kamu di belakang. Aku yang melebih-lebihkan masalah kecil itu… sampai jadi cerita yang nggak sesuai fakta,” ucapnya dengan suara bergetar
“Aku fitnah kamu, aku nyebar berita tidak benar tentang kamu ke teman teman kamu sekolah bahkan teman rumah juga, dan aku tahu itu udah keterlaluan banget.” ucapnya lagi
“Kamu sadar nggak wi? apa yang sudah kamu lakukan?? Karena omonganmu, semua orang terdekatku menjauh. bahkan orang yang aku sayang juga, Aku jadi kaya hantu- TIDAK DILIHAT. Gara-gara kamu aku sampai hampir pindah sekolah Dewi! Orang tuaku khawatir banget sama kondisi mentalku.. Tiap malam aku nangis, aku trauma. Kamu tahu rasanya dihianati sahabat sendiri?? orang yang aku percaya dan aku sayang” ucapku dengan nada bergetar, air mata mulai mengalir.

Dewi pun menangis lalu, menutupi wajahnya dengan tangan.
“Aku tahu… aku tahu banget. Aku dengar kabar itu, dan hatiku hancur. Awalnya aku iri sama kamu, aku terhasut rasa nggak aman. Aku merasa aku nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Bukannya cerita langsung sama kamu, aku malah nyebarin omongan bodoh itu. Aku nyesel, aku bener-bener nyesel,” ujar Dewi terbata-bata
Aku menatapnya penuh luka.

“Kamu tahu nggak, Dewi? Aku sayang banget sama kamu. Kamu sahabatku. Tapi kamu yang justru bikin aku ngerasa sendirian di dunia ini. Luka ini nggak gampang sembuh.” ujarku dengan air mata yang mengalir
“Aku ngerti, aku juga sayang sama kamu” sahut Dewi dengan lirih
"Aku tau aku nggak pantas lagi jadi sahabatmu. Tapi aku mohon banget… jangan benci aku selamanya. Aku cuma pengen kamu tahu, aku benar-benar menyesal.” jawabnya lagi
Aku menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri.
“Aku maafkan kamu Dewi, Tapi maafku bukan berarti kita bisa balik seperti dulu. Aku butuh waktu. Tolong… jaga jarak dulu. Aku harus sembuh dari semua ini.” ujarku
dia terdiam lama, lalu mengangguk.
“Aku ngerti… terima kasih masih mau maafin aku, meski aku udah bikin kamu hancur,” katanya lirih
Aku hanya menatapnya sebentar. Sejak hari itu, meski aku memaafkannya, kepercayaan yang runtuh tidak pernah bisa kembali begitu saja. Luka batin akibat pengkhianatan Dewi membuatku lebih hati-hati dalam memilih teman, membangun dinding tinggi di sekeliling hati. Aku memang tidak jadi pindah sekolah, tapi kenangan pahit itu tetap membayang, meninggalkan trauma yang tidak mudah hilang…