— Pagi yang cukup ramai
Rumah itu terlalu hidup untuk ukuran pukul lima pagi. Suara mama yang memindahkan barang dari meja ke tas, suara papa menyeret galon kecil untuk persediaan air minum, dan suara Tante yang memanggil Shabira berulang kali—semua bercampur menjadi sebuah orkestra yang memaksa mataku terbuka.
Aku keluar dari kamar, masih dengan rambut kusut dan mata yang setengah terbuka. Udara pagi Sukodono dingin, tapi suasana rumah jauh dari kata tenang.
Saat aku turun ke ruang tamu, Shabira sudah berlari-lari kecil sambil membawa topi safari lusuh yang ia temukan entah dari mana.
“Nun! Aku udah siap lihat zebra!” serunya dengan suara terlalu lantang untuk jam segini.
Aku mengedip pelan mencoba memproses energinya.
“…Masih jam lima, Bira,” gumamku sambil menguap.
Tapi Shabira tidak peduli. Ia memutar tubuhnya, mengibaskan rambutnya, lalu berkata,
“Aku harus pemanasan biar nanti nggak kaget lihat singa!”
Aku nyaris tersedak udara.
Sementara itu, om datang menggendong Iqbal yang masih belepotan biskuit bayi. Iqbal memandangku dengan mata besar dan kantuk yang belum hilang. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya ke arahku.
“Bah!” pekiknya sambil mengacung.
Entah apa maksudnya, tapi ekspresinya membuatku tersenyum.
Segala keruwetan pagi sedikit mereda setelah melihat wajah polos itu.
— Berangkat Tepat Jam 6, Tapi Dengan Keriuhan Tak Berubah
Jam enam tepat, papa memutar kunci mobil dan mesin mulai hidup. Udara pagi Sidoarjo perlahan hangat, namun suasana dalam mobil sudah panas sejak menit pertama.
Aku duduk di kursi tengah, di antara Shabira dan tempat duduk yang di depannya ada mama.
Belum lima menit mobil berjalan, Shabira mulai berbicara lagi.
“Nun, kamu tahu nggak? Aku itu semalam mimpi dikejar burung unta.”
Aku menoleh perlahan.
“…terus?” tanyaku, pura-pura tertarik.
“Terus aku naik motor! Tapi motornya meledak!”
Aku menutup wajahku dengan tangan.
Iqbal yang duduk di pangkuan Tante tiba-tiba ikut menjerit, mungkin karena mendengar kata ‘meledak’.
“Ah! Bah! Bah!!”
Tante memeluknya sambil menenangkan. Tapi Iqbal tetap mengibaskan tangan seolah ikut berdiskusi.
Aku mulai berpikir perjalanan ini tidak akan pernah hening sedetik pun.
— Tol, Nyanyian Aneh, dan Tingkah Iqbal
Mobil memasuki jalan tol, dan Shabira meminta mama memutar lagu kesukaannya. Namun entah kenapa, sinyal radio hilang dan malah terdengar suara kresek-kresek.
Daripada diam, Shabira memutuskan menciptakan lagunya sendiri.
“Aku mau ke safari~ aku mau ketemu zebraaa~ zebra lucu tapi suka nyeruduuuuk~”
Aku menatapnya lama.
“…Bira. Zebra itu nggak nyeruduk.”
Ia langsung menatapku dengan mata dramatis, lalu berkata pelan,
“Biar lagu aku seru, Nun.”
Aku tidak punya argumen.
Sementara itu, Iqbal sibuk memukul-mukul botol minumnya ke paha om sambil teriak kecil.
“Bah! Bah! Ah!”
Om menahan sakit sambil tetap menyetir. Aroma biskuit bayi dan minyak telon memenuhi mobil.
Perjalanan panjang itu diisi dengan tawa, suara nyanyian tidak jelas, dan Iqbal yang kadang tertawa, kadang berteriak tanpa alasan yang diketahui umat manusia.
— Memasuki Gerbang Taman Safari
Ketika mobil kami memasuki kawasan Taman Safari, semuanya mendadak hening selama dua detik—momen langka sepanjang perjalanan.
Pohon-pohon besar menaungi jalan. Udara terasa lebih segar. Suasana seolah berubah dari dunia biasa menjadi dunia lain.
Papa memperlambat mobil.
“Siap semua? Kita mulai dari safari journey,” katanya.
Aku merapatkan dudukku, memegang wortel yang sudah mama siapkan dalam kantong plastik besar. Shabira menempelkan wajahnya ke jendela seperti anak ayam menetas.
Iqbal membuka mulutnya kecil, entah terheran atau lapar lagi.
— Zebra Mendekat, Shabira Panik
Zebra pertama muncul dari balik pepohonan, berjalan anggun mendekati mobil kami.
Aku membuka kaca sedikit, cukup untuk mengulurkan wortel.
Dan zebra itu memakannya dengan sopan.
“Nun… Nun… NUN! DIA MAKAN!!” teriak Shabira sambil memeluk lenganku.
Aku mengangguk, merasa bangga bisa memberi makan hewan selucu itu.
Namun momen manis itu tiba-tiba berubah ketika zebra kedua muncul dengan ekspresi seperti ingin ikut makan juga.
Shabira langsung mundur.
“Aku nggak punya wortel lagi! Jangan ke aku! Aku bukan wortel!”
Aku tertawa keras sampai mobil goyah sedikit.
— Unta dan Insiden ‘Air Liur Terbesar Hari Ini’
Unta berjalan mendekat perlahan. Bulunya berantakan, wajahnya polos tapi… mulutnya selalu bergerak.
Mama membuka kaca sedikit untuk video.
Tante memperingatkan, “Nggak usah deket-deket, nanti kena—”
Belum sempat Tante menyelesaikan kalimatnya, setetes besar liur unta jatuh tepat di kaca mobil.
Kami semua terpaku.
Shabira langsung menjerit,
“MAMAAA!! UDAAAN LIUR!!”
Aku memukul-mukul paha sambil tertawa keras.
Mama juga tak tahan dan suaranya terdengar goyah karena menahan tawa saat merekam.
Iqbal menatap tetesan itu dengan ekspresi bingung sebelum berkata:
“Bah?”
Dan itu makin bikin aku ketawa.
— Kepala Rusa Masuk Jendela
Ketika rusa-rusa muncul, suasana kembali tenang—setidaknya itu pikiranku.
Aku membuka kaca sedikit.
Terlalu sedikit.
Tapi rusa itu memaksanya dengan moncong.
Kepalanya masuk hampir setengah.
Aku langsung melepas wortel dan menjerit kecil, lalu mendorong kaca naik.
“Nun! Tutup! TUTUP! DIA MAU MASUK!” teriak Shabira sambil memelukku.
Aku gemetar setengah takut setengah geli, sementara papa berkata sambil tertawa,
“Rusa itu cuma numpang nebeng sebentar.”
Benar-benar hari paling kacau dalam hidupku.
— Pertunjukan Burung dan Papa Jadi Korban
Setelah safari journey, kami menuju area pertunjukan.
Yang paling lucu? Pertunjukan burung.
Pemandu meminta salah satu orang dewasa menjadi relawan.
Papa dengan polos mengangkat tangan.
Tak lama kemudian, seekor burung besar hinggap di bahu papa.
Papaku membeku seperti patung.
“Ma… ini jangan pup ya… tolong…” katanya dengan suara sangat pelan tapi panik.
Mama tertawa terbahak-bahak sampai kameranya hampir jatuh.
Aku juga tidak bisa menahan tawa. Shabira bahkan sampai jongkok saking ngakaknya.
— Rumah Hantu dan Om yang Terbongkar Kedoknya
Om bilang ia paling berani.
“Tuh lihat, cuma boneka-boneka gitu. Ayo masuk!”
Kami masuk.
Lampu berkedip. Angin buatan bertiup. Musik menyeramkan terdengar.
Tiba-tiba, dari atas, boneka hantu digerakkan oleh pegawai jatuh ke arah om.
Dan om berteriak paling keras di antara kami.
“YAA ALLAAAH!!”
Aku sampai terduduk saking kaget dan ngakak bersamaan.
Tante memukul bahu om sambil berkata,
“Itu tadi bukan hantu! Itu boneka!”
Om menjawab cepat sambil terengah,
“Ya aku tau! Tapi jatuhnya tiba-tiba! Namanya refleks!”
Kami semua tidak percaya padanya.
— Sore, Malam, Lelah, Tapi Bahagia
Selepas semua wahana, hari berganti sore. Dan tiba-tiba sudah gelap.
Kami makan malam sambil tertawa—tentang unta, tentang om di rumah hantu, tentang papa dan burung di bahunya.
Lalu perjalanan pulang dimulai.
Namun jalanan macet.
Gelap.
Sepi.
Iqbal tidur di pangkuan Tante.
Shabira mulai ngantuk dan tiba-tiba bicara pelan,
“Nun… kalau kita pulang jam dua pagi… apakah zebra masih bangun?”
Aku menahan tawa.
“…Zebra sudah tidur, Bira.”
Ia mengangguk sambil memeluk topi safari-nya.
Mobil terus melaju di bawah lampu-lampu jalan yang jarang.
Semua orang mulai diam.
Hanya suara mesin dan tarikan napas lelah.
Dan akhirnya…
Sekitar pukul 12.30 menuju jam 1 pagi…
Mobil masuk kembali ke Sukodono.
Rumah terlihat seperti istana paling nyaman di dunia.
Aku merasa capek luar biasa, tapi hatiku penuh.
Hari itu kacau, panjang, penuh tawa, penuh kejutan—tapi sangat berharga.
Hari itu akan selalu aku ingat.