Aroma wewangian bunga memenuhi seluruh ruangan. Kotak-kotak perhiasan berjejer rapi menampilkan perhiasan yang katanya memiliki permata-permata paling mahal di seluruh kerajaan. Serena duduk dengan nyaman di depan cermin sambil rambutnya ditata oleh pelayan.
Ditunjukan kepadanya jajaran gaun indah nan mewah dengan berbagai gaya dan warna, Namun Ia nampak sedikit tak suka.
"Apakah tidak ada gaun lagi selain ini?"
Para pelayan saling bertukar pandang dan setelah beberapa saat mereka menukar jajaran pakaian itu dengan jajaran pakaian yang lain lagi. Gadis itu masih saja menghela nafas tanda tak puas.
"Kenapa semua modelnya seperti ini? apakah masuk akal kalau aku menemui Theron dengan pakaian seperti ini"
"Maaf Nona, apakah nona ingin pakaian yang lebih mewah? atau dengan lebih banyak permata?"
"Tentu saja tidak! lihatlah semua pakaian itu, lebih banyak permata katamu? dimana lagi akan dipasangkan lebih banyak permata kalau setiap sudut sudah ada permatanya begitu" Serena memijat pelipisnya pening.
"Norak sekali gaya berpakaian Kak Serena" Gumamnya.
Para pelayan tampak keheranan.
Tidak biasanya Serena mengomentari soal gaun yang sudah menjadi selera nya sehari hari.
"Apakah tidak ada yang lebih sederhana?" Tanyanya. Meskipun masih ragu sederhana yang dimaksud Serena itu sederhana yang seperti apa, Pelayannya tetap berusaha semaksimal mereka untuk memenuhi keinginan Nona mereka itu.
"Yang ini lumayan, tidak se norak yang lain. tapi kenapa ini terbuka sekali??! apakah tidak ada yang lebih tertutup? yang lebih sopan sedikit?"
Mereka menunduk. Kalau ditanya baju yang lebih sederhana mereka masih bisa mencarikannya. Tapi kalau baju yang lebih tertutup tentu saja tidak ada. Dari dulu Serena suka baju yang terbuka.
"Oh bagaimana dengan baju musim dingin?"
"Nona ingin dibawakan baju musim dingin?"
"Iya!"
"Sungguh? di musim panas seperti ini?”
"Bawakan saja. Setidaknya itu lebih baik daripada baju baju seksi ini"
"Baik kami mengerti”
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Tumpukan dokumen kerajaan, Pena bulu yang dicelup ke tinta hitam, serta cap resmi kerajaan, sudah 3 jam penuh Theron bergelut dengan semua itu. Di depannya, gadis manis menghela nafas. Ia kebosanan. Ia yang awalnya duduk manis di sofa sekarang menjadi rebahan.
Menunggu pekerjaannya selesai sehingga bisa menghabiskan waktu bersama.
"Haish... Pangeran, kapan pekerjaan pangeran selesai? aku mulai bosan duduk disini"
"Sebentar lagi Erish, setelah ini kita jalan-jalan, ya?"
"Setengah jam yang lalu kau juga mengatakan hal yang sama pangeran! aku bosan!"
Pangeran Theron tertawa kecil sambil masih membolak balikan dokumen dokumen itu. Seandainya Ia bisa, Ia ingin segera menghabiskan waktunya berdua saja dengan Lady Erish.
Namun mau bagaimana lagi? pekerjaannya sungguh tidak bisa ditinggal.
"Beri aku sepuluh menit lagi lady"
"Hahhh... baiklah~ baiklah~ ingat! hanya sepuluh menit saja!" Erish mendengus kesal.
"iya iya, aku janji hahaha"
"Kalau begitu akan aku hitung 1... 2... 3... 4... 5..."
Pangeran segera tertawa lagi melihat tingkah kekanak kanakannya yang menggemaskan itu.
Cklek!
Hitungan Erish terjeda ketika Leiv, sekertaris Theron masuk ke ruangan itu.
"Maaf Yang Mulia, Lady Serena datang menemui anda"
Ekspresi Theron langsung berubah drastis. Senyum di wajahnya menghilang. Digantikan dengan ekspresi benci, lelah, dan muak.
"Suruh dia pergi dari sini, katakan bahwa aku sedang banyak pekerjaan dan tak bisa diganggu sampai besok pagi"
Leiv membungkuk tanda memahami perintah Theron dan keluar lagi dari ruangan itu.
"Kenapa pangeran berkata seperti itu? bukankah sepuluh menit lagi pekerjaan pangeran selesai?"
"Waktu ku sangat berharga Lady, daripada membuang buangnya dengan menemui Serena, lebih baik aku menghabiskan waktu ku dengan mu”
Erish tampak tersenyum tersipu. Pipinya memerah dan duduknya jadi tak tenang.
Namun belum lama Leiv meninggalkan ruangan itu, Ia masuk kembali dengan perasaan gelisah.
"Maaf Yang Mulia, tapi Lady Serena tetap memaksa masuk, Ia berkata akan menyampaikan sesuatu yang penting kepada anda"
"Cih, sesuatu yang penting apanya. Paling dia ingin menempel padaku seperti biasanya. Aku sudah jijik dan muak dengan kelakuannya"
"Sampaikan padanya aku tetap tidak mau menemuinya, Leiv. "
"Tapi Yang Mulia, Lady Serena berkata Dia.." Leiv ragu ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa Leiv? kenapa ekspresimu begitu?"
"Maaf yang mulia, Lady Serena berkata maksud kedatangannya kesini adalah ingin membatalkan pertunangan dengan Yang Mulia"
"APA?!"
"Maka dari itu menurut saya sebaiknya Yang Mulia menemuinya"
"Suruh dia masuk! entah trik apa lagi yang Ia pakai untuk menarik perhatianku kali ini”
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
"Salam kepada matahari kecil kerajaan, Pangeran Mahkota, Theron Ashley Isidora."
"Apa yang kau lakukan?! bangunlah! kali ini apa lagi yang kau rencanakan"
Wajar saja Theron berfikir begitu. Setiap harinya ketika Serena datang ke Istana, jangankan memberi salam terlebih dahulu, Ia bahkan tak pernah meminta Izin untuk menemuinya. Begitu bertemu dengannya, Serena akan langsung memeluknya dan menempel padanya sepanjang waktu.
Serena menatap sinis kepada Erish yang dari tadi masih duduk di ruangan itu.
"Ah! ma-maafkan saya Lady Serena, saya akan keluar sekarang juga" Kata Erish sambil berdiri ketakutan. Meskipun tidak diminta keluar, Erish paham tatapan Serena memintanya begitu.
"Tidak lady, tetaplah disini, kami tidak akan berlama lama. Serena! Jangan memandang Lady Erish dengan tatapan menghina seperti itu! aku tidak akan segan segan menghukummu kalau kau tidak bersikap sopan"
Serena menghela napas dalam.
Mencoba mengontrol emosi dan menahan umpatannya supaya sumpahnya kepada Tuhan untuk menjadi Villain baik hati tetap terjaga. Ia sudah berjanji tidak akan berbuat jahat. Namun jika perlakuan seperti ini yang diterimanya, Ia jadi kurang yakin kalau Ia bisa melakukannya. Ini tidak ada bedanya ketika Ia masih menjadi Ivy yang selalu disalahkan.
"Baiklah terserah, aku tidak peduli wanita itu mau menguping pembicaraan kita atau tidak, aku akan buat ini cepat, Aku akan memutuskan pertunangan kita, Yang mulia"
"Tutup mulutmu! rencana apa lagi ini?! asal kau tahu aku tidak akan tertipu muslihatmu lagi. Jangan berfikir dengan melakukan sesuatu seperti ini kau bisa menarik perhatianku"
"Menarik perhatianmu? haha! ternyata yang putra mahkota pandai bermimpi juga"
"Apa apaan dengan mulut tak beradabmu itu"
"Tidak usah bicara adab kalau yang mulia sendiri yang jelas jelas sudah tunangan saja dengan bangga selingkuh dengan putri baron rendahan seperti dia. " Kata Serena sambil menunjuk tepat ke wajah Erish.
Sial! sepertinya aku tak bisa jadi baik hati kalau di hadapan mereka. Bolehkah kalau mereka jadi pengecualian saja? Batinnya.
"Tutup mulutmu. Sepertinya kau habis minum alkohol dan sedang tidak sadar sehingga bicara melantur seperti ini, pulang ke rumahmu. aku tidak mau kau melantur lebih jauh"
"Aku tidak melantur brengsek! Aku SANGAT SADAR DAN AKU, INGIN, PERTUNANGAN KITA, BATALLLL!"
Setelah mengatakan itu Serena meninggalkan ruangan dengan amarah. Sedangkan dua orang yang lainnya mematung, otak mereka tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.