Penulis: GARIZAH SYAUQIYAH HANANY

JANJI PERTAMA


 

Pagi yang cerah, matahari menembus jendela kelas dengan sinarnya yang hangat. Samuel sedang menunduk menyalin catatan, ketika terdengar suara langkah pelan mendekati ke mejanya.

 

"Sam.." suara lembut itu terdengar ragu-ragu.

 

Samuel mendongak, dan dihadapannya berdiri gadis yang kemarin ia temui di halte. Rambutnya sudah rapi, wajahnya segar, meski ada sedikit canggung dalam senyumnya.

 

Gadis itu mengulurkan sebuah benda ke arahnya. Payung kecil, usang, dengan sedikit bekas air yang masih membekas di permukaannya.

 

"Ini... payung kamu. Makasih ya kemarin udah pinjamin. Kalau nggak ada ini, aku pasti basah kuyup dan kedinginan." Ia menatap Samuel sebentar, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

 

Samuel terdiam sejenak lalu tersenyum. "Kamu inget ngembaliinnya, aku kira bakal jadi alasan biar bisa ketemu lagi."

 

Gadis itu langsung menatap Samuel dengan wajah merah padam seperti api. "Eh? Bukan gitu! Aku cuma mau balikin aja. Ga enak aja kalau nggak balikin."

 

Samuel tertawa kecil, sambil menutup bukunya, lalu menerima payung itu. "Aku seneng kok. Jadi lain kali kalau hujan, jangan lupa bawa payung sendiri ya. Jangan ngandelin payung tua ini lagi."

 

Gadis itu menggigit bibirnya, sambil menahan senyuman. "Iya, iya. Tapi... kalau kebetulan hujan lagi, boleh pinjem nggak?"

 

Samuel menatapnya, bibirnya terangkat membentuk senyum samar. Gimana kalau payung ini jadi alasan aja, biar aku bisa ketemu dia lagi? batinnya.

 

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap gadis itu lebih dalam. "Iya boleh. Tapi dengan satu syarat."

 

Udara kelas yang tadinya hangat tiba-tiba terasa penuh ketegangan. Suara gaduh teman-teman seolah memudar, menyisakan hanya dua orang di bangku itu.

 

Gadis itu berkedip pelan, matanya berkilat penasaran. "Apa?" tanyanya dengan suara yang hampir berbisik.

 

Samuel tersenyum misterius, lalu berkata pelan, "Kalau lain kali hujan turun... jangan cuma minjem payung. Tapi kamu juga harus janji nemenin aku jalan pulang bareng."

 

Gadis itu terdiam, pipinya memerah, lalu tersenyum tanpa sadar. Bel tanda masuk berbunyi nyaring, seakan menjadi saksi lahirnya janji kecil di antara mereka berdua.