Penulis: GARIZAH SYAUQIYAH HANANY

RINTIK PERTEMUAN


Langit sore itu gelap, awan hitam seakan siap meledak. Samuel berdiri di halte dekat sekolah, sambil menggenggam payung kecil yang terlihat usang. suasana sore itu begitu sunyi dan lenggang hanya suara rintik hujan yang menemani langkah waktu. 

 

Tak lama, terlihat seorang gadis berlari kecil sambil mengibas-ngibaskan roknya yang terkena cipratan air hujan. Rambutnya acak-acakan karena tersapu tetes demi tetes hujan yang tak kunjung reda. Mata cantik gadis itu sembab, seolah baru saja menangis. Ia berhenti di pinggir halte, ngos-ngosan, lalu menoleh ke arah Samuel.

 

"Duh, payungnya pake acara ketinggalan segala lagi." Ia menepuk jidat sendiri, lalu merapatkan tas ke dada.

 

Samuel menoleh dengan senyuman lebar di wajahnya. "Ngibas-ngibasin rok gitu doang bisa bikin seragam balik kering, hah? niat banget ya Ra."

 

Gadis itu melirik sekilas, lalu tertawa kecil. 

"Daripada kedinginan, kan?"

 

Ada jeda canggung diantara mereka. suara hujan menggantikan percakapan, tapi entah kenapa, keheningan itu terasa hangat. Samuel memberanikan diri untuk membuka obrolan. 

 

"Kamu Damara Elara Prameswari, anak pindahan yang sudah buat onar di hari pertama itu kann?". Tanya Samuel dengan melihat ke arah Damara. 

 

Damara mengganguk pelan. "Iya. Kamu siapa?".

 

"Kenalin aku Samuel Aksara Adhitama, kelas XI IPA". Ucapnya sambil mengulurkan tangan dengan senyum hangat, meski hujan masih turun membasahi sekitar.

 

"Oh anak IPA, yaudah duluan ya". Sambil mengambil ancang-ancang untuk menyebrang jalan yang basah terkena air hujan. 

 

Sebelum Damara berlari menyeberang jalan, tangannya lebih dulu diraih oleh Samuel. Sontak detak jantung Damara berdegup kencang, ia pun menoleh ke arah Samuel yang masih menggenggam tangannya erat. 

 

“Ada apalagi sih?” tanya Damara sambil menatap Samuel, separuh ingin tahu, separuh menutupi degup jantungnya yang belum reda.

 

“Nih pakek payungku biar kamu nggak basah. Aku sih nggak apa-apa, yang penting kamu,” ucap Samuel sambil menyodorkan payung.

 

 

Damara tertegun, menatapnya dengan campuran bingung dan haru.

“Hujan deras gini, kamu malah mikirin aku,” jawab Damara lirih.

 

Samuel hanya tersenyum, lalu menunduk sedikit agar bisa melindungi Damara di bawah payung.

“Ya jelaslah, soalnya kamu lebih berharga daripada sekadar hujan,” bisiknya.

 

"Jangan lupa balikin payung aku besok". Ucap Samuel tatapan lembut, seakan ingin memastikan Damara benar-benar baik-baik saja.

 

“Iyaa!” teriak Damara sambil berlari kecil menembus hujan. Suaranya nyaring, tapi ada senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

 

Samuel menatapnya dengan lembut, lalu berucap pelan, “Andai aja kamu tahu, aku sebenernya nggak cuma nitip payung…”