"haduhh.. bisaa.. gaa.. ya..," ucap batinku.
Besok aku mengikuti lomba musikalisasi puisi di sekolah. Pulang sekolah ini aku akan menyiapkan lagu untuk puisi yang sudah kami pilih. Aku takut tidak sesuai keinginanku pada saat tampil nanti. Saat latihan dirumah temanku.
"ehh.. kata Bu Rinda.. musikalisasi puisi.. itu penggabungan antara puisi dengan musik, di mana puisi diubah menjadi bentuk lagu atau dibacakan dengan iringan musik," ucap Kia.
"hah.. serius?.. kirain lagu diselingi puisi," ucap Nana dengan nada terkejut.
"makanya sekarang ayo mikirin nadanya, udah besok loh," ucap aku.
"ayo cari referensi lagu yang cocok buat puisi itu bareng - bareng," ucap Xavi.
"gimana kalau pakai nada lagu Laskar Pelangi? cocok gassie?," ucap aku.
"emang bisa?.. rada susah kemarin tak coba," ucap Nana.
"bisa.. gak bisa kita coba dulu, jlas soalnya lagu Laskar Pelangi ini kunci gitarnya lumayan gampang, biar yang cowok - cowok bisa," ucap aku.
"betul.. kita juga belum pernah belajar main gitar," ucap Idan.
"yaudah ayo hafalin kunci gitarnya sama bikin nadanya," ucap Kia.
Aku dan teman-temanku menghafalkan kunci gitar lagu Laskar Pelangi dan membuat nada puisi tersebut menjadi seperti lagu Laskar Pelangi. Aku membagi tugas bersama, ada yang menghafalkan kunci gitar, ada yang sambil mencoba gitarnya, dan menadakan puisi sehingga sama seperti lagu. Sangat lama menghafal dan membuat nadanya, sampai pada akhirnya aku dan teman-temanku hafal.
"huuhh.. akhirnya hafal juga puisi yang dilaguin ini," ucap Nana.
"bener, akhirnya hafal juga, pusing banget dari tadi gak hafal hafal," ucap aku.
"sama.. belibet banget yang bait tiga ini," ucap Kia.
"woyy yang cowok udah hafal belum?" ucap Nana.
"mayann sih tapi.. masih bingung sama kunci - kuncinya," ucap Xavi.
"apalagi aku yang bagian main gitarnya ini, malah belum lancar," ucap Idan.
"gapapa namanya juga baru belajar, besok kalau gak hafal pasrah aja, namanya juga kita gak pernah belajar," ucap aku.
"iya lagi ini aja kita pertama kali," ucap Xavi.
"sudah udah ayo hafalin lagi, terus habis ini pulang, biar nanti ada waktu buat siapin kostum yang dipakai untuk besok," ucap Kia.
Singkat waktu aku dan teman-temanku menghafalkan, lalu istirahat sebentar sekedar makan cemilan, ngobrol dan bermain game. Aku melanjutkan latihan bersama, dan merencanakan besok memakai kostum apa, sehingga waktu sudah sangat sore, dan kita memutuskan untuk pulang.
"udah sampai sini dulu yuk latihannya, kita bahas kostum buat besok," ucap Kia.
"oke.. ya besok kita pakai kostum, yaudah ayo break dulu latihannya," ucap aku.
"jadi pakai baju apa besok?" ucap Nana.
"yang simple - simple aja yang penting sopan," ucap Xavi.
"heh.. yang cewe baju maroon bawahan hitam aja yuk," ucap aku.
"emm boleh si tapi kenapa gak putih aja?" ucap Kia.
"setelah sering gasi.. kalau itu besok juga pasti banyak yang pakai warna itu. Maroon juga bagus sii," ucap Nana.
"oo.. yaudah itu aja, kalian punya kan?" ucap Kia.
"punya lah, makanya aku nyaranin hehe," ucap aku.
"yang cowo pakai atasan hitam aja," ucap Kia.
"emm.. boleh - boleh punya kan Idan?" ucap Xavi.
"oo.. deh.. ada kok," ucap Idan.
"bawahannya terserah deh.. itu aja cocok," ucap aku.
"udah dijemput nih, aku pulang duluan ya," ucap Nana.
"oke.. eh.. ayo pulang Ki aku anter," ucap aku.
"yaudah ayo.. pulang dulu ya gais," ucap Kia.
Singkat waktu mereka sudah sampai di rumah, dan aku membersihkan diri lalu beres - beres. Mereka saling berkabar di grup WhatsApp, merencanakan apa saja yang akan dipakai besok. Aku juga menyempatkan untuk latihan agar besok tidak grogi.
Dan tibalah pada saat pagi hari aku sudah sampai disekolah, badan terasa panas dingin jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku bersama teman - temanku menyempatkan untuk latihan bersama setengah jam. Beberapa jam kemudian kita dipanggil untuk berkumpul ke aula, kita mendapatkan nomor tampil ke 7. Saat kita menunggu tampil, kita sambil latihan agar di atas panggung tidak nervous.
"hii aku takut banget nanti kalau udah dipanggil" ucap aku.
"sama sii aku udah deg degan banget ini" ucap Nana.
"kita buat latihan aja biar gak tambah deg deg an" ucap Kia.
"ayo.. ayo" ucap Xavi.
"gas.. gas.." ucap Idan.
Akhirnya kami dipanggil dan keringat dingin. Kami maju kedepan memusikalisasikan puisi dengan lantang namun kurang terdengar di Mic. Saat turun kami kecewa karena Mic nya hanya dua, sehingga suara kami tidak terlalu terdengar.
"huhh padahal puisinya bagus banget.. toh juga kita membuat nada sendiri, tapi kenapa Mic nya cuma 2" ucap aku dengan nada sedikit kesal.
"iya lagi, tapi gapapa lah yang pendek udah tampil," ucap Nana.
"gapapa gays yang penting kita udah tampil," ucap Xavi.
Kami kembali menunggu anak yang sedang tampil sampai selesai. Ketika semua peserta sudah tampil kita kembali ke dalam kelas.