"kok tega ya...diaa" ucap batinku. Aku yang mengetahui ku yang hilang dari bangku, sepulang dari kantin. Aku melihat Tiara temanku yang tertawa ke arahku, dan aku menanyakan kepadanya.
"Tiara tas ku aku gak lihat kok..." ucap Tiara sambil tertawa.
Aku mencarinya di seluruh kelas, dan sempat bertanya kepada teman-teman ku yang lain. Saat aku mencarinya, aku selalu mengawasi gerak-gerik Tiara yang mencurigakan. Aku tetap diam dan pergi meninggalkan kelas, dan bertemu temanku terdekatku.
"lun...aku boleh tanya gak" ucap aku
"mau tanya apa..." ucap Luna
"ini loh, tadi aku pas dari kantin tiba-tiba tas ku udah gak ada di bangku" ucap aku
"waduhh..udah kamu cari ta, kalau belum aku bantu cariin" ucap Luna
"tadi udah aku cari dikelas tetapi tetep gak ketemu" ucap aku
"ayo..aku bantu cari lagi sampai ketemu" ucap Luna
Aku menceritakan semua tentang kejadian hilangnya tas ku ke Luna. Luna membantuku mencari tasnya sampai ketemu. Aku dan Luna bergegas kembali ke kelas untuk mencarinya. Saat aku kembali ke kelas aku sempat menceritakan ke Luna tentang kecurigaanku terhadap Tiara.
"Luna kamu tau gak?" ucap aku
"apa..?" ucap Luna
"ada satu orang yang tadi waktu aku kembali dari kantin dia tertawa ke arahku, seperti menyembunyikan sesuatu dariku" ucap aku
"HAH... SIAPAA..." ucap Luna dengan ekspresi kaget
"TIARAA.." ucap aku
"KAMU SERIUS KAN, kalau gitu ayo kita tanya sampe ngaku dia" ucap Tiara
Sesampainya di kelas ekspresi wajah Tiara berubah menjadi panik. Aku dan Luna langsung bertanya ke Tiara.
"Tiara kamu dari tadi tertawa ke arahku saat aku tau tasku udah gak ada di bangku" ucap aku
"kita curiga kalau kamu yang menyembunyikan tasnya" ucap Luna
"HAH.. ENG.. GAKK" ucapa Tiara dengan nada gugup
"kalau kamu gak ngaku, aku bakal laporin ke bapak ibu guru" ucap Luna
"iya..iya..aku ngaku" ucap Tiara dengan nada kesal
"YAULAH MANA" ucap aku dengan nada membentak
Tiara mengambil tasnya yang ia sembunyikan di etalase kelas. Tiara memberikan tas itu ke aku dengan wajah kesal.
"maksud kamu apa Ra.."
"nyembunyiin tas aku" ucap aku dengan nada kesal
"masa sih tadi pagi nyepuin aku yang kemarin bolos, terus jadi aku yang ditegur Bu guru" ucap Tiara
"apa yang udah kita lakuin itu bener, kita juga gak terima lah kalau kamu ngelakuin hal yang gak baik" ucap Luna
"bener... kalau kita gak cepuin kamu pasti ngulangin lagi" ucap aku
"hemm..maaf" ucap Tiara
"terus kamu juga gak boleh balas dendam dengan cara kaya gini" ucap Luna
"bener..coba kamu pikir kalau kamu ada di posisi kita kalau kamu tau ada yang bolos, pasti kamu kesel kan" ucap aku
"jelas lah..kalian kira gak kesel kalau aku bolos kalian cepuin" ucap Tiara
"itu kan emang kesalahan kamu" ucap Luna
"kamu harus berubah Ra... kamu nanti kamu ke jenjang yang lebih tinggi kamu gak malu apa kalau sampe dikeluarin dari sekolah karena sering bolos" ucap aku
"iyaa...aku minta maaf, aku janji gak ngulangin lagi" ucap Tiara
"sama-sama, aku juga minta maaf udah cepuin, tapi ini hal yang harus kita lakukan kalau kita ngelihat teman kita bolos" ucap aku
"iyaa..." ucap Tiara
Aku dan Luna bergegas pergi dan mencoba memaafkan perbuatan Tiara, dengan mengintropeksi diri apa aku salah kalau aku bilangin ke bapak ibu guru kalau ada yang bolos.
Aku berharap Tiara gak pernah mengulangi kesalahannya lagi, sampai lulus dari jenjang yang lebih tinggi.