Penulis: Aprilia Kamalinda

KURSI YANG KOSONG


Kursi itu masih ada di sudut meja, persis seperti dulu. Tiap pagi Elise duduk berhadapan dengannya.

 

“ayah, lagi nyemil roti ya, pelan - pelan makanya nanti tersedak loh," ujar Elise, Pura - pura ayah masih duduk di sana sambil membaca koran . 

“Aku tau aku cuma ngomong - ngomong sendiri, tapi rasanya seolah ayah masih mendengarkan seperti biasa." ucap Elise dalam hati.

 

“Kamu masih saja begitu," suara ibu terdengar pelan dari dapur.

 

Elise hanya mengangguk, tidak menoleh. Ibu mematikan kompor, berjalan menuju ke arah Elise

 

“Aku cuma belum siap bu," jawab Elise dengan nada pelan 

 

“Ibu tidak memaksa nak..tapi kamu jangan terus-menerus begini," ucap ibu sambil memeluk Elise, dan menyuruhnya duduk.

 

Tatapan ibu lembut, tapi penuh luka.

 

Elise ingat sekali tawa ayah setiap pagi. Dia selalu bilang, “hidup itu kayak teh panas, perlu kamu nikmati pelan - pelan." Tapi pagi itu semuanya berhenti. Kecelakaan itu mengambilnya begitu cepat. Dan sekarang, hanya kursi itu yang tersisa. Kursi yang diam. Kursi yang pernah penuh suara.

 

“nak, kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, sebab sampai kapanpun hidup ini akan terus berjalan," ucap ibu sambil memegang pundak Elise.

 

Elise menarik napas panjang.

 

“aku takut lupa sama ayah," ucap Elise sambil menangis pecah.

 

Ibu menggeleng. 

 

“Kamu gak akan lupa..yang hilang cuma raga, bukan kenangannya yang pergi." ucap ibu.

 

Elise menatap kursi itu sekali lagi. Hanya kursi dan bayangan ayah lah yang bisa kupandangi mulai saat ini. Bukan untuk menghapus ayah dari hidup ini, tapi menerima kenyataan bahwa rindu memang tidak punya obat selain menerima dan mengikhlaskan. Elise memindahkan kursi itu sedikit ke samping meja, bukan karena ingin menjauh, tapi supaya akan bisa terus melangkah. Pelan. Bersama ingatan yang tetap tinggal. Kepergian ayah membuat hidup ini tidak lagi berwarna. Mungkin masih ada ibu yang memberi warna hitam dan putih, jika tidak ada maka hidup ini akan menjadi gelap gulita.

 

 

SEJAUH APAPUN KAMU PERGI, SEJAUH APAPUN KAMU LARI, HANYA MEREKA BERDUA YANG MENERANGI DAN MEMBERI WARNA DALAM HIDUP INI

_aprlya