KISAH TUGU PELURU
KISAH TUGU PELURU
Setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, pasukan Sekutu dari Inggris masuk ke wilayah Surabaya dan sekitarnya untuk mengambil alih kekuasaan dari tentara Jepang. Pada akhir Desember 1945, sebuah pesawat tempur Inggris melanggar wilayah udara kita di sekitar Sidoarjo dan berhasil ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Indonesia. Pilot pesawat yang bernama Davidson selamat dari kecelakaan itu, lalu ditawan oleh para pejuang kita.
Mendengar kabar tersebut, pasukan Inggris yang terdiri dari dua kompi bergerak dari Sidoarjo menuju Krian melewati jalan raya Wonoayu dengan maksud mencari dan membebaskan pilot mereka. Kedatangan pasukan yang bersenjata lengkap itu diketahui oleh pasukan Tentara Keamanan Rakyat atau TKR yang bertugas menjaga wilayah Wonoayu. Para pejuang pun memutuskan untuk menghadang laju pasukan asing tersebut agar tidak masuk lebih dalam ke wilayah pedalaman.
Pada tanggal 24 Desember 1945, saat rombongan pasukan Inggris tiba di perempatan Wonoayu, terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Para pejuang TKR bertempur dengan gagah berani meskipun mereka jauh kalah jumlah dan senjata dibandingkan musuh yang dilengkapi persenjataan canggih serta kendaraan lapis baja. Dalam pertempuran yang menyayat hati itu, gugur empat pahlawan bangsa yaitu Kapten Herkamto, Letnan Satu Soemardanoe, Letnan Dua M. Said Ibnoe, serta Prajurit Satu M. Ikwan. Mereka mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan tanah air yang baru saja diproklamasikan.
Sebagai tanda penghormatan sekaligus pengingat bagi seluruh rakyat, didirikanlah sebuah monumen berbentuk peluru raksasa yang kemudian dikenal sebagai Tugu Peluru. Tugu ini berdiri tepat di lokasi tempat pertempuran itu terjadi dan menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan yang kita nikmati saat ini diraih dengan tetesan darah dan pengorbanan nyawa para pahlawan. Seiring berjalannya waktu, tugu sempat dipindahkan ke tempat yang lebih layak agar tetap terjaga keindahannya, namun semangat juang yang terkandung di dalamnya takkan pernah pudar oleh waktu.