Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 40: Prasasti Kebangkitan dan Warisan Nusantara Purba (Grand Finale Arc Dunia Bawah)


Lantai Terdalam yang Bersinar 

​Setelah melumpuhkan Golem Akar Kencono, Rangga, Cintia, dan Adit melangkah menuruni undakan batu terakhir yang membawa mereka ke jantung terdalam labirin bawah tanah. Di lantai paling dasar ini, tidak ada lagi suasana gelap yang mencekam. Sebaliknya, seluruh ruangan berbentuk kubah raksasa ini diselimuti oleh ribuan kunang-kunang sihir alami yang terbang lambat di antara pilar-pilar batu berukir batik kuno.

​Di tengah kubah, berdiri sebuah prasasti batu hitam yang besar dengan ukiran aksera Jawa Kuno (Hanacaraka) yang bersinar dengan pendar keperakan.

​"Master Veldora, kami telah sampai di titik terdalam," lapor Adit, mengarahkan kamera kompas mekaniknya ke arah prasasti agar bisa dianalisis dari lantai 100 Labirin Tempest.

​"Oho! Ini dia puncak estetikanya!" seru Veldora dari seberang dimensi, mata manusianya berbinar menatap layar proyeksi bersama Rimuru. "Rimuru, cepat bantu terjemahkan aksara purba itu menggunakan Great Sage!"

​Rimuru mengangguk, lingkaran sihir kecil berputar di matanya. "Biar kubaca... 'Bagi mereka yang melangkah dengan keselarasan hati dan kedisiplinan jiwa, warisan bumi ini akan terbuka untuk menjaga keseimbangan alam.' Wah, prasasti ini adalah kunci segel ekosistem Nusantara!"

​Penyerahan Warisan Emas 

​Cintia melangkah maju, meletakkan Magisteel Lantern di depan prasasti, sementara Rangga menancapkan ujung pedang peraknya ke bumi sebagai tanda penghormatan. Amulet Pemurnian yang mereka bawa mendadak melayang, bersatu dengan pendar keperakan dari prasasti hitam tersebut.

​Sret... Sret...

​Dari dalam prasasti, perlahan keluar selembar kain selendang sutra pusaka bermotif batik filosofis kuno dan sebuah gulungan kitab taktik kuno berbahan daun lontar. Kain batik tersebut memancarkan energi pelindung yang sangat besar—cukup untuk membentengi seluruh wilayah Akademi Nusantara dari segala bentuk ancaman energi negatif di masa depan.

​"Warisan ini... adalah bukti bahwa leluhur kita selalu mengedepankan taktik dan harmoni dengan alam," bisik Rangga penuh takjub saat menerima gulungan lontar tersebut.

​Cintia tersenyum lega, mengusap kain batik pusaka yang kini terasa hangat di tangannya. "Dengan ini, tugas kita di Labirin Akar Bumi telah selesai dengan sempurna, Master Veldora!"

​Salam Penutup dari sang Master Agung 

​Melihat keberhasilan murid-muridnya menyelesaikan Arc Dunia Bawah dengan sangat elegan, Veldora berdiri dari kursi kerbitnya di Tempest dengan tawa paling megah yang pernah ia keluarkan.

​"Kwahahahaha! Kalian telah membuktikannya sekali lagi! Baik di langit, di bumi, maupun di dalam perut bumi, disiplin dan kerja sama tim Nusantara tidak akan pernah bisa digoyahkan! Aku, Sang Naga Badai Veldora, menyatakan petualangan mistis bawah tanah ini selesai dengan nilai Tiga Ratus Persen!"

​Dengan lambaian tangan hangat dari Rimuru dan Veldora, gerbang komunikasi dimensi perlahan meredup dengan damai. Rangga, Cintia, dan Adit melangkah kembali naik ke permukaan, siap membawa pulang warisan luhur tersebut untuk kemajuan akademi mereka.

​Veldora menyambar pena emasnya dengan gerakan teatrikal yang sangat keren, lalu menuliskan kalimat penutup agung untuk Bab 40:

​Bab 40: Warisan Purba Nusantara Terungkap. Misteri Labirin Akar Bumi telah dipecahkan. Murid-muridku bukan hanya pahlawan taktis, melainkan kini telah resmi menjadi penjaga kelestarian sejarah dunia mereka sendiri. Hubungan persahabatan antara Tempest dan Nusantara kini tertanam sekuat akar beringin yang abadi.

​Catatan Akhir sang Naga Mentor: Buku Babad Kuno telah tersimpan rapi kembali di perpustakaan. Energi mentorku telah terpuaskan untuk saat ini. Sekarang, Shuna baru saja membawakan satu nampan penuh puding susu segar sebagai hadiah keberhasilan kita, Rimuru! Ayo kita habiskan sebelum Ramiris datang dan meminta bagian! Kwahahahaha!

​TAMAT (ada season ke 2 nantikan ya)