Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 51: Lagu yang Menidurkan Badai


​Gelombang keperakan bercampur emas itu menyapu Nebula Hitam layaknya embun pagi yang menghapus jelaga. Di luar gerbang, kapal-kapal cepat The Echoes yang sedang mencabik lambung Skyward Grace mendadak berhenti bergerak. Logam cair merah yang beringas di sekujur tubuh mereka meredup, berubah menjadi warna abu-abu mati, lalu rontok seperti kelopak bunga yang kering.

​Kesunyian yang Damai 

​Di dalam kokpit Skyward Grace yang gelap gulita, Joran perlahan membuka matanya. Sistem darurat kapal kembali menyala dengan kedipan lampu hijau yang tenang. Tidak ada lagi alarm melengking. Tidak ada lagi getaran statis yang menyiksa.

​Joran memandang keluar jendela kokpit. Jutaan mesin armada The Echoes di dalam nebula kini mengapung tanpa daya, terkunci dalam mode tidur abadi. Mereka bukan lagi ancaman; mereka telah kembali menjadi sekadar rongsokan logam tua yang sunyi.

​"Kepin..." bisik Joran, suaranya parau. Ia segera membuka sabuk pengamannya dan melompat keluar kapal menuju koridor Cermin Kunci.

​Refleksi di Atas Air 

​Di ruang pusat, Kepin masih berlutut di tepi kolam merkuri. Suasana di dalam ruangan itu begitu tenang, hanya menyisakan pendaran cahaya perak yang lembut di dinding cermin. Kolam di hadapannya kini mengalir tenang, memantulkan bayangan langit galaksi yang bersih dan bertabur bintang.

​Joran melangkah masuk, langkah kakinya menggema pelan. Ia melihat tangan Kepin yang kosong, lalu menatap kolam itu. Ia langsung mengerti apa yang telah terjadi.

​"Dia melakukannya, bukan?" tanya Joran pelan, berdiri di samping Kepin.

​Kepin mengangguk perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya yang letah. "Dia tidak hilang, Joran. Dia hanya... mengubah dirinya menjadi harmoni yang menjaga tempat ini."

​Tiba-tiba, speaker darurat pada baju zirah Kepin yang sudah mati sejak di Marrow Desolation mengeluarkan suara kresek halus. Bukan berupa baris kode biner atau perintah sistem, melainkan sebaris melodi instrumen lama mereka—lagu Akademi Gilda—yang mengalun sangat lembut sebelum akhirnya bertransisi menjadi suara desir bintang-bintang yang damai.

​Menuju Horizon Baru 

​Beberapa jam kemudian, Skyward Grace yang telah diperbaiki secara darurat perlahan bergerak meninggalkan Nebula Hitam. Kapal itu melaju membelah ruang angkasa, tidak lagi melarikan diri dari kejaran musuh, melainkan pulang menuju rumah.

​Kepin duduk di kursi navigator, menatap hamparan galaksi luas di balik jendela. Perang melawan kuno telah usai, infeksi mesin telah diredam, dan kunci-kunci yang dulu diperebutkan kini telah melebur bersama alam semesta.

​"Ke mana kita sekarang, Komandan?" tanya Kepin, menoleh ke arah Joran yang memegang kemudi.

​Joran tersenyum, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Ke mana saja, Teknisi. Selama mesin kapal ini masih bernyanyi, kita masih punya seluruh galaksi untuk dijelajahi."

​Di atas dasbor kapal, lampu indikator bahan bakar Aether berkedip lembut dengan ritme yang sangat teratur—seirama dengan detak jantung Lyria yang kini menjaga mereka dari balik keheningan ruang angkasa.

​TAMAT