Sementara galaksi mulai merasakan getaran frekuensi emas, di dalam Stasiun Pusat, Kepin dan Lyria harus menghadapi kenyataan baru mereka sebagai "Penjaga Galaksi". Kondisi stasiun yang sempat rusak akibat Protokol Nol membutuhkan perbaikan besar-besaran, bukan dengan baut dan kunci inggris, melainkan dengan pemikiran dan perasaan.
Pembersihan Sisa Kegelapan
Kepin berjalan menyusuri lorong-lorong stasiun yang kini berpendar lembut. Di beberapa sudut, sisa-sisa "kerak" hitam milik Sang Arsitek masih menempel—residu dari kebencian dan keputusasaan yang dulu merajai tempat ini.
"Lyria, fokuskan resonansi pada Sektor Utara," perintah Kepin sambil menyentuh dinding kaca hitam.
Lyria, yang berada di pusat kendali, memejamkan mata. Ia mengirimkan gelombang harmoni yang terasa seperti hangat matahari pagi. Perlahan, kerak hitam itu meluruh, menguap menjadi debu cahaya. Jiwa-jiwa yang dulu terperangkap di sana kini terlepas, mengalir menuju pohon-pohon kristal yang mulai tumbuh di seluruh stasiun.
Jembatan Dua Dunia
Masalah terbesar muncul ketika mereka mencoba menghubungi Gilda. Frekuensi stasiun terlalu kuat untuk radio standar.
"Kita butuh penerjemah," ujar Lyria, proyeksinya muncul di samping Kepin. "Gilda akan menganggap sinyal kita sebagai serangan jika kita tidak mengecilkan volumenya."
Kepin mengeluarkan kacamata teknisnya yang retak. Dengan sedikit modifikasi menggunakan teknologi Void Bringers, ia menciptakan sebuah "Gerbang Suara". Ia mengirimkan pesan pertama yang bukan berupa perintah mesin, melainkan sebuah melodi sederhana—lagu yang sering dinyanyikan Lyria saat mereka masih di akademi.
Di belahan galaksi lain, Joran yang sedang dalam perjalanan pulang, mendengar melodi itu di kokpit Skyward Grace. Ia menangis lega, menyadari bahwa sahabat-sahabatnya tidak hanya selamat, tapi mereka telah menemukan cara untuk tetap "hidup".
Paradoks Sang Penjaga
Namun, menjadi penjaga stasiun memiliki harga. Kepin menyadari bahwa raga fisiknya mulai mengalami sinkronisasi dengan energi stasiun. Ia tidak lagi membutuhkan makanan atau tidur sebanyak dulu; energinya kini berasal dari harmoni yang ia jaga.
"Kau menyesal, Kepin?" tanya Lyria pelan, melihat Kepin yang menatap tangannya yang terkadang sedikit berpendar cahaya.
Kepin menatap keluar jendela stasiun, ke arah ribuan bintang yang kini tampak seperti teman lama. "Dulu aku hanya ingin menjadi teknisi kapal yang hebat. Sekarang, aku memperbaiki takdir sebuah galaksi. Tidak ada ruang untuk penyesalan, Lyria. Selama aku bisa mendengar suaramu, aku tidak akan merasa sendirian."