Penulis: Achmad Waliyudin Arvin Rachmatullah

Bab 2 — Kehidupan yang harus diatur sedemikian rupa


Moser tinggal di apartemen lantai 6 Warenna Residence,tidak banyak yang ada di dalam hanya kasur,kulkas,kamar mandi,pc,dan PS 5,dapur yang sangat bersih bukan karena selalu dibersihkan tetapi tidak pernah digunakan dan ada di ventilasi semua trophy yang ku sembunyikan disana.

 

“Ah sial, tetangga sialan itu lagi”,ada tetangga di lantai atas pas di apartemenku mereka selalu berisik anak mereka selalu saja merengek setiap malam Jumat.

“Kota ini terlalu berisik tetapi aku menyukainya dikarenakan kota yang sangat berisik selalu tidak memperhatikan”.

 

Pagi ini aku berangkat kerja 6:30,lift turun dengan lambat..sebulan begitu dan penghuni lainnya sudah mengeluh karena manajemen apartemen yang mulai memburuk,aku tidak ikut mengeluh,dua menit menunggu lift tidak membunuh siapapun, keluar lift.

 

Pak Harto “Pagi,pak” 

“Berangkat pagi terus” sambil menggeleng kagum “Rajin,sekali”

 

Aku tersenyum keluar dari apartemen “ah sial” bau gorengan langsung tercium,bau oli di bengkel sebelah apartemen,—aku berangkat kerja sekitaran 2,3km dari apartemenku “aku penasaran apakah hari ini sama seperti kemarin,sudah seminggu sangat lama sekali rasanya”.kalau tidak ada lampu merah ya hanya 4 menit untuk sampai tetapi kalau ada lampu merah 6 menit untuk sampai.

 

Aku sampai di tempat kerja,tidak ada lampu merah hari ini dan aku langsung masuk ke laboratorium forensik—Dilarang masuk selain petugas atau izin,

 

“Sudah tiga tahun aku melihat tanda itu tetapi aku tidak bosan”.aku masuk ke dalam

 Dian sudah ada di dalam menyortir semua sampel ke dalam tempatnya sambil mendengarkan podcast dengan earphone yang ia gunakan hanya menggunakan 1 earphone di telinga kanan selalu dan telinga kiri tidak ia gunakan supaya bisa mendengar kalau ada orang masuk.

 

Dian berbicara”kukira hanya aku yang berangkat pagi,hari ini ternyata kau juga moser”.

 

“Ya,aku hanya melakukan rutinitas”.Aku selalu datang tepat waktu. Tidak pernah terlambat, tidak pernah terlalu cepat. Cukup… normal.

 

Aku sangat suka tempat ini dimana semua sel darah ada di sini di tempat ini sangat dingin bagus untuk sampel bukan untuk manusia,aku menganalisis sampel hari kemarin,

 

“Moser ada apa di pikiranmu sekarang?” Kata pamanku yang telah tiada,

 

“Aku merasa kosong,sudah seminggu aku tidak menyalurkannya” 

 

“Begini Moser kau harus sesekali menerima ajakan dari orang-orang jangan kau tolak terus-terusan” kata pamanku

 

“Iya paman,akan ku lakukan” dan pamanku menghilang setelah itu.

 

Aku bekerja seperti biasa,“Oh lihat,sekarang sudah jam 11 saatnya makan siang.” seru Dian lalu dia ke meja penelitianku “hey Moser mau ikut makan tidak sehabis ini?”

 

“Ya aku akan ikut”. Dan Dian pun terkaget “tumben kamu mau biasanya kamu tolak” sambil tersenyum.“ya mau aja” 

 

“Oy Moser biasanya kamu makan di mana?.”

 

“Warteg sebelah, biasanya.”

 

“Nggak bosen kamu makan disitu terus?.”

 

“Kan menunya selalu ganti.”kataku

 

“Oh… mau ikut aku,ada tempat makan yang enak loh?.”

 

“Ya aku mau.” kataku “Ok ikut aku Moser,biar aku yang traktir deh” kita pun keluar dari kantor.

 

Warenna di siang hari adalah kota yang berbeda dari Warenna di pagi hari. Lebih berisik, lebih padat, lebih tidak sabaran. Klakson bersahutan di persimpangan, pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan, dan di trotoar yang sempit orang-orang berjalan tanpa melihat ke depan karena mata mereka di layar ponsel.

 

Aku berjalan di sisi kiri Dian, mengikuti langkahnya yang cepat dan sembarangan. Ia berbicara terus tentang podcast yang baru ia dengarkan sesuatu tentang psikologi kriminal, kebetulan yang tidak lucu.

 

"...katanya, orang yang melakukan kejahatan berulang itu sebenarnya sadar kok. Mereka tahu itu salah. Tapi ada bagian di otak mereka yang mematikan rasa bersalah." Dian menoleh. "Kamu percaya itu?"

 

"Mungkin," kataku. 

 

Dian mungkin marah karena wajahnya cemberut “kamu selalu jawab mungkin iya apa GK ada jawaban lain?”

 

Aku berbicara dengan diriku “ya dia marah”

“Mungkin… karena otak mereka terkena motivasi atau dorongan yang membuat mereka seperti kecanduan”

 

“Oh gitu ya…. Ok kita sampai,pesanlah terserah nanti aku yang bayar”

 

“Ok” kataku “Bu pesan ayam bakar 1” setelah 10 menit menunggu makanan sampai dan aku makan tidak memperdulikan lingkungan sekitar 

Lalu Dian melihat sekitar dan matanya tertuju pada sebuah wanita berambut pendek,ada kamera di lehernya,dan dia memegang laptop,mungkin dia mengenalnya kataku.

 

Dian pun memanggil perempuan itu “oh itu kan jurnalis dua tahun lalu,Nes sini.”Aku mengangkat kepalaku dan perempuan itu pun ke meja kita.

 

 

Dian mengenalkannya padaku “ok nes,ini Moser Bekerja di bagian forensik analisis darah 

Kami saling menjabat tangan dan saling berkenalan setelah itu aku melihat matanya,dan dia pun memandangku agak lama,jurnalis yang baik akan selalu melakukan hal itu.

 

Aku benci jurnalis yang baik karena mereka sangat serius dengan pekerjaan mereka dan aku harus berhati-hati agar kehidupan ganda ku tidak diketahui.

 

“Forensik?”. Dia pun mengambil buku saku seperti catatan,mungkin dia ingin menanyaiku kan. “Begini Moser aku ingin menanyaimu tentang kasus pembunuhan pada tahun ini,sudah ada 4 pembunuhan pada tahun ini,polanya sama tidak,mungkin tidak ada pola yang spesifik tetapi sangat rapi.” Betulkan kataku dia ingin menanyaiku. Dia menghitung empat ya

 

Aku meminum air mineral ku perlahan agar tidak terlalu gugup karena di situasi yang sekarang aku tidak boleh gugup

 

“Menarik.” Dan dia pun tersenyum bukan senyum setuju,tetapi dia yakin aku akan menjawab 

Seperti itu,ya dia sudah tau.

 

“Apa kamu sudah meminta izin ke pak Wahyu? Untuk menanyaiku?.” Mukanya langsung cemberut.

 

“Tentu” katanya “tetapi kalau kau berubah pikiran hubungi aku ini kartu namaku.” Dan dia pun memasukkan catatannya ke sakunya,aku tidak menyentuh kartu nama itu.

 

Dan dia pun pamit untuk pergi, aku berkata pada Dian “Jurnalis itu menyeramkan.” Dan Dian pun menjawab “jurnalis memang begitu.”.

 

“sudah jam segini,ayo kita balik ke kantor.” Kata Dian yang melihat jam di hpnya,kami pun berdiri dan Dian membayar makanan dan kami pun langsung pergi dari sana 

 

Di luar Warenna tetep berisik kayak biasa. Aku jalan di kiri Dian lagi.

Tapi pikiranku gak disini.

 

Nesya belum tau. Tapi dia lagi dalam perja

lanan buat tau. Dan aku baru aja duduk di mejanya.

 

Jurnalis yang baik memang menyeramkan.