Penulis: Achmad Waliyudin Arvin Rachmatullah

Bab 1 — Darah tidak berbohong


 

Ada yang menarik dari darah tipe B-positif di bawah lensa mikroskopku pagi ini. Bukan karena warnanya — semua darah merah, itu bukan kejutan. Bukan juga karena bentuk eritrositnya yang sedikit tidak beraturan, tanda dehidrasi kronis. Yang menarik adalah darah ini milik seorang pria yang dua belas jam lalu masih hidup, dan sekarang tidak.

Aku meletakkan kaca preparat ke nampan, mencatat angka-angka ke dalam formulir dengan tulisan tangan yang rapi. Ruangan lab forensik Kepolisian Kota Warenna selalu dingin  AC-nya disetel terlalu rendah, keluhan yang sudah aku abaikan sejak tiga tahun lalu. Dingin itu baik untuk sampel. Untuk manusia, tidak begitu.

Di luar jendela yang berembun, Warenna sudah bangun. Pedagang kaki lima menyalakan kompor, ojek online berkumpul di perempatan, dan di suatu tempat di kota ini, seseorang sedang membaca berita tentang pria bernama Hendra Gunawan pengusaha properti, lima puluh dua tahun, ditemukan tewas di garasi rumahnya sambil minum kopi pagi tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

Aku salah satunya.

Bukan karena aku tidak punya perasaan. Aku punya. Aku hanya tahu cara menyimpannya di tempat yang benar.

Hendra Gunawan. Nama yang sudah ada di kepalaku selama tujuh bulan. Aku tahu jadwal tidurnya, rute jogging-nya, nama anjingnya = Rex, Labrador coklat, tiga tahun. Aku tahu bahwa ia suka steak medium-rare di restoran di lantai dua mal Warenna Indah setiap Kamis malam. Dan aku tahu karena dokumen pengadilan tidak berbohong, meski hakim bisa bahwa ia yang mengatur pengiriman tiga belas anak perempuan dari Warenna Utara ke luar kota enam tahun lalu.

Kasusnya ditutup. Saksi kunci mencabut kesaksiannya. Pengacaranya mahal. Hidupnya berlanjut.

Sampai kemarin malam.

Pintu lab terbuka. Dian masuk membawa dua gelas kopi dari pantri, rambutnya masih agak berantakan, senyumnya sudah sempurna.

"Kamu udah dari jam berapa?" tanyanya, meletakkan satu gelas di sudut mejaku.

"Tujuh kurang."

"Serius?" Dian duduk di kursi depan mejanya sendiri, membuka laptop. "Kamu gak punya kehidupan, Vin."

Aku tersenyum ke arah mikroskop. "Pekerjaanku butuh konsentrasi pagi."

"Pekerjaanku juga. Tapi aku tidur dulu." Ia menyeruput kopinya. "Oh iya, lo denger? Ada yang mati lagi tadi malem. Di Kemang Selatan."

Tentu aku dengar. Akulah yang memastikannya.

"Belum," jawabku.

"Pengusaha gitu. Hendra sesuatu." Dian menggeser kursinya, membuka tab berita. "Wah, ini mah bukan kematian biasa kayaknya. Terlalu... rapi, katanya."

"Rapi?"

"Iya. Gak ada berantakan. Gak ada tanda perlawanan. Kayak dia... setuju." Dian bergidik. "Serem."

Pukul sembilan, sampel darah dari TKP Kemang Selatan tiba di mejaku.

Dibawa langsung oleh Inspektur Wahyu Pratama — pria empat puluh lima tahun dengan kumis tipis dan kebiasaan mengetuk meja dua kali sebelum bicara. Ia sudah tiga tahun bekerja sama denganku. Ia percaya pada hasil analisisku lebih dari ia percaya pada intuisinya sendiri. Sebuah kepercayaan yang, dalam kasus ini, agak ironis.

"Moser," katanya. "Prioritas. Kapolres minta hasil hari ini kalau bisa."

"Bisa." Aku memeriksa segel tabung satu per satu. "Ada yang perlu aku tahu dari TKP?"

"Bersih," kata Wahyu. "Terlalu bersih. Tim forensik lapangan bilang hampir tidak ada kontaminasi eksternal." Ia mengetuk meja dua kali. "Ini bukan pembunuhan impulsif."

"Tidak," kataku. "Bukan."

Aku memilih kata-kataku dengan hati-hati. Bukan karena takut  tapi karena presisi itu penting. Dalam pekerjaan ini maupun yang lainnya.

Wahyu akan menemukan apa yang ingin ia temukan dalam laporan ini: darah korban, tidak ada penanda asing, tidak ada DNA yang bisa dilacak. Yang tidak akan ia temukan adalah mengapa. Dan siapa. Itu bukan tugas laboratorium.

Wahyu pergi setelah menandatangani formulir. Pintu lab menutup. Ruangan kembali hening.

Aku membuka tabung pertama.

Darah tidak bisa berbohong. Itu yang aku sukai dari pekerjaan ini dan dari pekerjaan yang satunya.

Sampel masuk ke dalam preparat. Dan di bawah cahaya putih laboratorium, darah Hendra Gunawan terlihat persis seperti darah siapa pun — merah gelap, tidak ada yang istimewa.

Begitulah harusnya.

Aku mulai mengetik laporan. Di luar jendela, Warenna terus bergerak. Di suatu tempat, keluarga Hendra Gunawan sedang menerima kabar. Di suatu tempat lain, tiga belas perempuan yang namanya aku tidak pernah tahu sedang menjalani hari mereka tanpa tahu bahwa semalam, seseorang melakukan sesuatu untuk mereka.

Aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Aku tidak pernah melakukan ini untuk itu.

Aku melakukannya karena darah tidak bisa berbohong — tapi manusia bisa. Pengacara bisa. Hakim bisa. Saksi bisa. Dan sistem yang seharusnya melindungi orang ternyata bisa dibeli dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Aku sudah belajar itu sejak usia tiga tahun.

Tapi itu cerita untuk lain waktu.

Alarm di ponselku berbunyi pukul sepuluh. Aku menyimpan dokumen, melepas sarung tangan, dan berdiri. Di cermin kecil di samping rak reagen, aku melihat wajah yang sudah lama aku kenal: biasa, tenang, tidak menarik perhatian

 Moser. Analis darah. Dua puluh delapan tahun.

Hari ini masih panjang.